Konten dari Pengguna

Indahnya Toleransi: Warga Non-Muslim, Sibuk Memasak Rendang di Malam Takbir

Amelia Yohana Putri
Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto
2 April 2025 9:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Amelia Yohana Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Toleransi beragama dan kebersamaan sosial kembali tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Kisah inspiratif datang dari seorang ibu rumah tangga bernama Laswen dan menantunya, Kalimas, yang merupakan warga non-Muslim. Mereka berdua memilih untuk memasak rendang di malam takbir, sebuah tradisi yang umumnya identik dengan umat Islam menjelang Hari Raya Idul fitri. Tak hanya itu, keesokan harinya, putri kesayangan Laswen, Hana, turut menikmati rendang tersebut di Hari Raya, menunjukkan bahwa makanan dan kebersamaan bisa menjadi jembatan pemersatu di tengah perbedaan.
Memasak Rendang
zoom-in-whitePerbesar
Memasak Rendang
Memasak Rendang di Malam Takbir
ADVERTISEMENT
Laswen dan Kalimas telah lama hidup berdampingan dengan tetangga mereka yang mayoritas Muslim. Meski berbeda keyakinan, keduanya tidak merasa ada batasan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Menjelang Hari Raya Idul fitri, mereka memutuskan untuk memasak rendang sebagai bagian dari tradisi keluarga mereka sendiri. Bagi mereka, memasak rendang di malam takbir bukan sekadar urusan kuliner, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
“Setiap tahun, kami selalu memasak rendang di malam takbir. Bukan karena mengikuti tradisi agama tertentu, tetapi lebih karena sudah menjadi kebiasaan keluarga. Kami menyukai rendang, dan ini juga menjadi momen berkumpul serta memasak bersama,” ujar Laswen.
Kalimas, yang merupakan menantu Laswen, juga menambahkan bahwa memasak rendang adalah wujud kebersamaan yang mereka rasakan dalam lingkungan mereka. “Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan di sekeliling kita tidak menghalangi kebersamaan. Justru dari makanan, kita bisa lebih dekat dan saling berbagi,” ungkapnya.
Makanan Hari Raya Idul Fitri
Hana Menikmati Rendang di Hari Raya Idul Fitri
ADVERTISEMENT
Keesokan harinya, Hari Raya tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, keluarga Laswen tetap menikmati masakan yang telah mereka siapkan. Hana, putri Laswen, dengan lahap menyantap rendang yang telah dimasak bersama ibunya dan kakak iparnya. Baginya, makanan bukan sekadar santapan, tetapi juga simbol kasih sayang dan persatuan dalam keluarganya.
“Saya selalu menantikan rendang buatan ibu dan kakak ipar saya. Walaupun kami bukan Muslim, momen ini selalu terasa spesial karena menghadirkan kehangatan keluarga,” kata Hana.
Tidak hanya untuk keluarga mereka sendiri, Laswen dan Kalimas juga berbagi rendang dengan tetangga sekitar yang merupakan warga muslim. Tindakan kecil ini semakin mempererat hubungan baik dengan lingkungan sekitar, menunjukkan bahwa kebersamaan bisa dirasakan tanpa memandang latar belakang agama.
Rendang Sapi
Makanan sebagai Jembatan Keberagaman
ADVERTISEMENT
Kisah Laswen dan Kalimas menjadi bukti bahwa makanan memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Di tengah dunia yang sering kali terpecah oleh perbedaan, tindakan sederhana seperti memasak bersama dapat menjadi simbol kebersamaan yang kuat.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa harmoni sosial tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Hal-hal kecil seperti memasak, berbagi makanan, dan menghormati tradisi orang lain sudah cukup untuk menciptakan suasana yang lebih damai dan penuh toleransi.
Dengan adanya contoh seperti Laswen dan Kalimas, semoga semakin banyak orang yang menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat dan kebersamaan.