Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Gue Juga Bisa Bikin ‘Ghibli’ Pakai AI, Tapi Kok Rasanya Hampa?
3 April 2025 13:26 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Ahmad Nuryogi Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
AI Bisa Bikin Ilustrasi Ghibli, Tapi Kenapa Rasanya Hampa?
Seminggu ini gue main AI gambar ala Studio Ghibli—tinggal ketik "anime girl in magical forest", boom! Ilustrasi keren langsung jadi. Awalnya seneng banget, "Wih, gue ‘seniman’ juga dong!" Tapi pas gue bandingin sama gambar temen gue yang udah belajar 5 tahun buat gambar gaya Ghibli, kok rasanya... hampa?
ADVERTISEMENT
Kenapa gambar AI yang technically perfect justru terasa kurang menyentuh dibanding karya tangan manusia?
Kemudahan AI vs. Proses Kreatif Seniman
AI gambar kayak MidJourney atau Stable Diffusion bisa bikin 100 ilustrasi dalam 30 menit. Tapi, seniman seperti Nasma (illustrator freelance) butuh:
Sedangkan AI? Cuma butuh Rp 20 ribu per bulan buat bikin ratusan gambar. Cepat, murah, tapi… kehilangan soul.
Apa yang Hilang dari AI Ghibli?
Beberapa alasan kenapa ilustrasi AI kurang menyentuh dibanding karya seniman:
1. No Struggle, No Soul
Goresan pensil Miyazaki kelihatan, ekspresinya organik, dan ada sentuhan manusia. AI? Terlalu bersih, terlalu sempurna.
ADVERTISEMENT
2. Nggak Ada ‘Keringat’
Miyazaki menggambar Spirited Away dengan emosi dan kritik sosial. AI? Cuma ngasih apa yang diminta tanpa makna lebih dalam.
3. Seniman ≠ Mesin
Kesalahan kecil, eksperimen, dan improvisasi bikin ilustrasi manusia terasa lebih hidup.
Analogi: AI Ghibli itu kayak pacar yang selalu bilang ‘iya’—nyaman, tapi lama-lama membosankan karena nggak ada debat seru!
Dampak AI pada Seniman
Fauzi, animator dari Yogyakarta, cerita kalau proyeknya batal karena klien lebih pilih AI.
“Katanya buat referensi doang, eh ujung-ujungnya nggak dibayar. Style gue malah dipake buat latihan AI.”
Fakta Menyedihkan:
Harga jasa ilustrator turun 40% sejak 2023 (sumber: survei komunitas ilustrator IG).
ArtStation dan DeviantArt ramai protes seniman karena AI "mencuri" gaya mereka.
ADVERTISEMENT
“Yang penting mirip Ghibli, nggak peduli bikinan manusia atau AI. Kalo bisa gratis, kenapa nggak?” – Klien zaman now.
Haruskah Kita Menolak AI?
Nggak juga! AI bisa jadi alat bantu, bukan pengganti seniman:
Tapi kita tetap harus menghargai seniman asli:
Contoh Positif AI + Seniman
Studio kecil di Jogja pakai AI buat storyboard, tapi final artwork tetap digambar manual.
Jadi, gue masih pakai AI Ghibli buat iseng. Tapi kalau mau ilustrasi yang bikin merinding kayak My Neighbor Totoro, gue pilih dukung seniman. Karena di balik setiap goresan mereka, ada cerita, keringat, dan… jiwa.
ADVERTISEMENT
Lo sendiri gimana? Tetep pilih AI, atau mulai beli karya manusia?
Ahmad Nuryogi Ardiansyah. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga