Konten dari Pengguna

Kebebasan Berpendapat dalam Ranah Epistemologi Rasionalisme

Angela Putri Gunadi
Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
1 April 2025 16:35 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Angela Putri Gunadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi epistemologi. Foto: shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi epistemologi. Foto: shutterstock.com
ADVERTISEMENT
Pengetahuan manusia sesungguhnya adalah konstruksi kompleks yang dibangun melalui interaksi dinamis antara kemampuan nalar dan pengalaman empiris. Dalam ranah epistemologi kontemporer, rasionalisme menghadirkan dasar logika pemikiran yang mempertanyakan hakikat sesungguhnya dari proses diperolehnya pengetahuan (Karimaliana, et al, 2023). Logika penyelidikan ilmiah tidak sekadar metodologi, melainkan filosofi pembebasan intelektual dari belenggu dogma dan kepentingan pragmatis yang dangkal.
ADVERTISEMENT
Dalam praktik sosial dan politik, logika penyelidikan ilmiah seringkali keluar dari akar epistemologisnya. Argumen politik sekarang ini lebih merupakan pertarungan retorika emosional daripada upaya sistematis untuk memahami kompleksitas persoalan. Para aktor politik dengan sengaja memanfaatkan kerentanan kognitif atau daya pikir manusia, membangun narasi yang lebih mengutamakan mobilisasi emosi dibandingkan kedalaman analisis rasional.
Praktik debat politik tidak lagi dibangun atas dasar pertimbangan rasional, melainkan telah bermetamorfosis menjadi arena pertarungan emosi dan manipulasi psikologis. Setiap pernyataan politik lebih dimotivasi oleh kepentingan yang dibangun untuk mendapatkan dukungan massa daripada upaya sistematis untuk memahami kompleksitas persoalan sosial yang sesungguhnya (Sarbaini, 2015).
Emosi dieksploitasi sebagai instrumen utama mobilisasi politik. Ketakutan akan ancaman eksternal, kemarahan terhadap kelompok berbeda, atau harapan akan perubahan digunakan sebagai mesin penggerak dukungan (Lawelai, et al, 2022). Para politisi dengan sengaja menciptakan narasi dramatis, mengalihkan perhatian dari analisis rasional yang kompleks. Masyarakat dibekali dengan konstruksi emosional yang sederhana, kehilangan kemampuan untuk memahami persoalan sosial secara mendalam.
ADVERTISEMENT
Kebebasan berpendapat ternyata jauh lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Bukan sekadar hak untuk mengeluarkan pendapat, tetapi sebuah ruang kompleks di mana pikiran kita beradu, bertemu, dan saling mempengaruhi. Kita sering berpikir bahwa bebas berpendapat berarti bisa berbicara sesuka hati. Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit. Setiap kali kita berbicara, kita membawa serta jejak pengalaman, pendidikan, lingkungan, dan berbagai hal yang membentuk cara berpikir kita. Tidak ada satu pun pendapat yang benar-benar murni atau objektif. Semuanya selalu dipengaruhi oleh latar belakang kita.
Media sosial dan teknologi digital saat ini menciptakan ruang yang aneh untuk berpendapat. Di satu sisi, kita punya akses tak terbatas untuk berbicara. Di sisi lain, algoritma canggih justru membuat kita terjebak dalam gelembung pendapat yang sama. Kita cenderung bertemu dengan orang-orang yang berpikir sama, membaca hal-hal yang mengonfirmasi keyakinan kita.
ADVERTISEMENT
Politik dan perdebatan publik pun tak luput dari masalah ini. Politisi sering kali tidak peduli dengan kualitas argumen, mereka lebih suka menggerakkan emosi (Sarbaini, 2015). Mereka tahu persis bagaimana membuat orang marah, sedih, atau bersemangat. Perdebatan bukan lagi tentang mencari kebenaran, tapi tentang siapa yang paling pintar meyakinkan orang lain.
Dalam perjalanan intelektualnya, manusia selalu berada dalam dimensi ketidakpastian epistemologis. Kebebasan berpendapat memberikan wadah manusia untuk terus-menerus membongkar, mengonstruksi, dan mentransformasi batas-batas pengetahuan. Setiap suara memiliki potensi untuk menghadirkan perspektif baru, mengusik struktur pemikiran yang mapan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan filosofis yang sebelumnya tak terbayangkan. Namun, kebebasan sejati bukanlah sekadar hak untuk berbicara, melainkan kemampuan untuk mendengar, memahami, dan merekonstruksi pemahaman dalam dialektika yang tak pernah berakhir.
ADVERTISEMENT
Penyelidikan penelitian ilmiah dalam isu tersebut berkesinambungan dengan konsep rasionalisme sebagai salah satu metode berpikir dalam epistemologi. Epistemologi sendiri berupaya membimbing manusia untuk memaksimalkan daya nalar logikanya dalam mencapai sebuah pengetahuan. Dalam konteks rasionalisme, kebenaran suatu pengetahuan salah satunya dapat diupayakan dengan menggunakan akal rasio sebagai alat utama manusia untuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam berbagai fenomena.
Rasionalisme menghadirkan undangan intelektual yang radikal, yaitu tidak ada kebenaran final, tidak ada pengetahuan yang sempurna. Setiap konstruksi pemahaman adalah momen sementara dalam proses investigasi berkelanjutan (Karimaliana, et al, 2023). Logika penyelidikan ilmiah adalah perjalanan tanpa akhir menuju horizon pemahaman yang selalu bergeser, selalu memperbarui diri, dan selalu terbuka untuk kritik konstruktif.
ADVERTISEMENT
Rasionalisme tidak sekadar membebaskan individu untuk berbicara, melainkan mengundang kesadaran kritis untuk memahami kompleksitas di balik setiap ungkapan. Bagaimana mungkin kita dapat benar-benar bebas berpendapat ketika kesadaran kita sendiri dibentuk oleh struktur kekuasaan, ideologi, dan mekanisme sosial yang tak terlihat? Inilah pertanyaan filosofis yang menggugat akar-akar paling dalam dari konsep kebebasan itu sendiri.
Isu kebebasan berpendapat saat ini, khususnya dalam menentukan kubu pilihan politk sering kali menimbulkan bias yang dapat menghambat proses rasionalitas manusia itu sendiri. Konfirmasi bias mendorong seseorang untuk hanya menerima informasi yang selaras dengan keyakinan pribadinya, membentuk semacam "gelembung epistemologis" yang secara langsung atau tidak langsung menolak terhadap perspektif alternatif. Dalam konteks politik, fenomena ini menciptakan polarisasi ekstrem di mana kelompok-kelompok dengan pandangan berbeda tidak lagi mampu berkomunikasi secara konstruktif.
ADVERTISEMENT
Retorika politik modern ini telah berevolusi menjadi instrumen manipulasi emosional yang canggih. Para politisi dengan cerdik memanfaatkan ketakutan, kemarahan, dan harapan publik sebagai alat persuasi. Mereka tidak lagi berargumentasi untuk mencari kebenaran, melainkan untuk memenangkan dukungan (Lawelai, et al, 2022). Akibatnya, substansi diskusi tereduksi menjadi pertarungan simbol dan sentiment yang tidak berbasis logika.
Kebebasan berpendapat dalam perspektif epistemologis sejatinya adalah hak sekaligus tanggung jawab intelektual. Ia bukan sekadar mekanisme untuk mengekspresikan opini, melainkan proses dialogis untuk menghasilkan pengetahuan kolektif. Namun, dalam praktiknya, kebebasan ini telah terdegradasi menjadi arena pertarungan ego dan kepentingan sempit, di mana argumentasi rasional kehilangan signifikansinya.
Solusi bagi kompleksitas ini terletak pada upaya sistematis untuk mendidik masyarakat dalam literasi berpikir kritis. Pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan analisis, mengenali mekanisme bias kognitif, dan menghargai keragaman perspektif menjadi kunci transformasi diskursus publik. Hanya melalui kesadaran epistemologis, demokrasi dapat mengembalikan martabat dialog rasional.
ADVERTISEMENT
Referensi:
Karimaliana., et al. (2023). Pemikiran Rasionalisme: Tinjauan Epistemologi terhadap Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Manusia. Journal of Education Research, 4(4), 2486-2496.
Lawelai, H., et al. (2022). Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Analisis Sentimen di Twitter. Praja, 10(1), 40-48.
Sarbaini. (2015). Demokratisasi Dan Kebebasan Memilih Warga Negara Dalam Pemilihan Umum. Jurnal Inovatif, 3(1), 105-117.