Konten dari Pengguna

Barokah Ilusif: Wujud Konkrit Logika Mistika

Bagus Budiyana
Mahasiswa Al-Azhar, Kairo, Mesir
2 April 2025 9:46 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Bagus Budiyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://pixabay.com/photos/hands-light-hand-prayer-technology-5366493/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/photos/hands-light-hand-prayer-technology-5366493/
ADVERTISEMENT
Hukum kausalitas merupakan prinsip fundamental yang diterima secara aksiomatik oleh setiap individu. Secara naluriah, manusia memahami bahwa setiap akibat pasti memiliki sebab. Namun penafsiran individu dalam melihat sebab suatu kasus tertentu barangkali berbeda-beda satu sama lain. Kalangan filosofis-idealis mengklaim bahwa dalam banyak kasus, sebab itu berkaitan dengan mind (pikiran). Begitu juga, kalangan filosofis-materialis bersikeras mengatakan bahwa setiap sebab haruslah bersifat fisik (material). Kedua pandangan ini sama-sama logis dalam merumuskan kaitan antara sebab-akibat dan efektif untuk evaluasi menuju kemajuan. Walaupun, keefektifan keduanya tidak pernah berbuah manis layaknya utopia.
ADVERTISEMENT
Di luar pendekatan rasional-filosofis ini, terdapat kalangan yang cenderung mengidentifikasi sebab berdasarkan pendekatan mistik secara spontan atau melalui penarikan kesimpulan yang apriori. Fenomena inilah yang diistilahkan oleh Tan Malaka sebagai “logika mistika”. Logika mistika adalah pengidentifikasian sesuatu yang mistik/ghaib sebagai sebab sesuatu. Ketika sesuatu diidentifikasi sebagai sebab tanpa bisa dibuktikan validitas alasannya, maka seperti itulah logika mistika. Saya rasa, kita bisa sepakati bersama bahwa banyak dari masyarakat Nusantara masih terjangkit pola pikir penyebab stagnasi dan kebodohan ini.
Fenomena logika mistika bisa kita temukan dalam kasus barokah. Sesuatu yang menjadi perhatian luar biasa bagi kalangan agamawan di Nusantara. Saya rasa, ada distorsi besar-besaran dalam tema ini yang menghempaskan setiap nuansa positif darinya di kalangan non-pesantren. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena aktivitas konyol, aneh, bahkan menjijikan terkadang menjadi potret utama dalam penggambaran pencarian barokah. Mulai dari transfer ludah yang dianggap sebagai pewarisan keilmuan, hingga mencium bekas duduk pemuka agama dengan harapan suatu saat nanti cita-citanya akan menjadi realita.
ADVERTISEMENT
Tidak perlu analisis mendalam, semua orang waras akan mengamini tesis saya bahwa penggambaran pencarian barokah dalam kasus di atas adalah wujud konkret dari logika mistika. Pengidentifikasian sebab dalam kedua kasus tersebut tidak berdasar dan mengada-ada. Sehingga aktivitas yang diupayakan agar mencapai harapannya menjadi konyol dan sia-sia. Pertanyaan fundamental “apa pembuktian yang membenarkan kaitan sebab-akibat dari kasus tersebut?” tidak akan bisa dijawab secara afirmatif baik secara rasional maupun empirik untuk selama-lamanya. Apalagi, pada faktanya kedua kasus tersebut tidak menghasilkan akibat sesuai dengan yang mereka identifikasi, melainkan hanya melestarikan feodalisme bermekaran dalam sudut masyarakat Nusantara. Si superior memperoleh status quo dan si inferior melanggengkannya.
Perlu diketahui bahwa ber-tabarruk atau ngalap barokah pada dasarnya bukanlah sesuatu yang negatif, justru dalam banyak hal, ia bersifat positif dan konstruktif. Terlebih, atsar nabi dan para sahabat mengukuhkan pelegalan eksistensinya. Saya berasumsi bahwa ngalap barokah memberi motivasi kuat bagi subjeknya dalam taraf tertentu, seperti halnya potret keluarga yang dibawa oleh tentara front sebagai motivasi kuat untuk pulang hidup-hidup. Ngalap barokah, baik dengan materi atau non-materi, keduanya sama dalam hal memotivasi. Tentu saja, asumsi ini berangkat dari keabsahan barokah sebagai sebab dalam perspektif rasional.
ADVERTISEMENT
Adapun jika mengasumsikan ngalap barokah sebagai sebab melalui perspektif mistis (irasional), maka setiap aktivitasnya mesti dimoderasi agar memberikan dampak positif dan terhindar dari logika mistika. Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa barokah guru, wali, atau ulama tidak akan hadir pada orang yang menyalahi hukum kausalitas berdasarkan ketetapan Tuhan (sunatullah). Walaupun benar bahwa guru (sebagai status, bukan profesi) adalah sebab dibalik kesuksesan, namun sebab pasti yang terikat dalam guru haruslah memiliki keterhubungan logis dengan akibatnya. Hal itu dikarenakan Tuhan — sebagai sebab primer — telah menjadikan sebab pasti yang berputar dalam semesta sebagai non-mistik. Barokah mungkin saja menjadi sebab, namun ia tidak berdiri secara mandiri. Perannya sebagai sebab bergantung pada eksistensi sebab pasti. Barangkali hal inilah yang menjadi alasan ngalap barokah seringkali diibaratkan dengan diksi wasilah (perantara). Oleh karena itu, jika seseorang mengelu-elukan ngalap barokah seraya menafikan sebab pasti, maka — tentu saja — harapannya akan terzonasi dalam ilusi!
ADVERTISEMENT
Khalid bin Walid berperang dengan rambut nabi yang ditaruh dalam helmnya sebagai upaya ngalap barokah. Meskipun beliau selalu menyelipkannya dengan niat demikian, namun hal itu tidak menjadikan beliau lalai dan semata-mata mengharapkan kemenangan perang melalui barokahnya. Berbagai manuskrip menarasikan strategi dan manuver Khalid bin Walid dalam panggung peperangan yang brilian. Hal itu cukup menjadi bukti bahwa kehebatannya tidak terjadi secara ajaib dan tidak luput dari sebab pasti yang bersifat non-mistik.
Mirisnya, sikap pengepul barokah tanpa memerhatikan sebab pasti inilah yang sekiranya disukai oleh masyarakat. Banyaknya kisah mengenai keajaiban barokah dan penyebarannya yang masif adalah bukti nyata perhatian dan penerimaan khalayak umum. Salah satu yang paling populer adalah kisah seorang murid yang menjadi ulama setelah mengambil cincin gurunya ketika terjatuh di jamban. Kisah inilah yang seringkali dilontarkan para kyai/ulama untuk menegaskan pentingnya khidmah dan barokah. Namun, saya kira ada penyederhanaan cerita di sana dengan menghilangkan kompleksitas masalah yang dihadapi dalam prosesnya menjadi ulama. Boleh jadi murid itu memang mengambil cincin gurunya di jamban, begitu juga boleh jadi dia jadi ulama. Namun, dia juga adalah pelajar yang giat dan tekun dalam proses pembelajarannya. Sehingga, kesan ajaib yang diimajinasikan dan reaksi takjub dari pendengarnya menjadi sirna dan binasa. Berangkat dari sini, mungkin saja barokah guru dikapitalisasi oleh oknum sebagai upaya feodalisme atau dominasi dengan menanamkan logika mistika pada muridnya. Hal itu tidaklah mustahil, karena keajaiban, kedahsyatan, keluarbisaan adalah topik yang menjanjikan untuk kebutuhan menjaga feodalisme tetap langgeng dan terjaga.
ADVERTISEMENT
Walhasil, sebagai individu yang berpikir, kita perlu menempatkan segala sesuatu dalam kerangka kausalitas yang benar: usaha dan kerja keras adalah sebab pasti, sedangkan barokah adalah pendukungnya. Barokah guru bukanlah tiket emas menuju kesuksesan, melainkan dorongan spiritual yang mesti diiringi dengan dedikasi. Inilah kepingan yang hilang dari pemahaman masyarakat soal barokah guru yang sahih dan jauh dari logika mistika. Kepingan berharga ini menjadi asas utama dalam membangun peradaban dan kehidupan sosial-beragama yang intelek dan harmonis. Oleh sebab itu, selama masyarakat masih terjebak dalam logika mistika, kita tidak bisa menikmati apapun kecuali hanya kejumudan dan nestapa. Jika bangsa Yunani memperoleh kemajuan peradaban dengan mendekontruksi pemikiran mistis mereka dalam menafsirkan alam semesta, lalu mengapa kita sebagai bengsa modern masih tunduk kepada logika mistika?
ADVERTISEMENT