Konten dari Pengguna

Menikmati Sahur dengan Menu Ayam Geprek Bu Arip

Ahmad Syaiful Bahri
Membaca dan Menulis
9 Maret 2025 23:49 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Syaiful Bahri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Sahur di bulan Ramadhan selalu membawa kenangan yang tak terlupakan. Di tengah sunyi malam yang begitu tenang, kadang gerimis dan hujan, ada momen-momen yang terasa begitu istimewa—bagi perantau seperti saya saat itu di Kota Jambi, tepatnya di daerah pasir putih. Momen yang menghubungkan kita dengan yang terdekat, terutama teman seperjuangan dalam bekerja dan merantau kala itu, dan yang tak kalah penting, dengan makanan yang kita pesan dapat menjalin silaturahmi dengan warga sekitar.
ADVERTISEMENT
Setiap waktu sahur tiba, jam tiga tepatnya setelah alarm hp bunyi, saya bangun, hujan ataupun tidak, saya harus segera bergegas dari kasur menuju rumah bu Arip menggunakan motor Vario merah nan lejen ke perumahan pasir putih Kota Jambi, orang biasa menyebutnya dengan komplek PU untuk mengambil makanan sahur. Tentu saja bu Arip menjadi penolong kami di waktu sahur ketika merantau di Kota Jambi dari tahun 2019-2021.
Saya terus terang tidak tahu nama asli bu Arip siapa, tapi teman-teman kantor menyebutnya ya bu Arip, mungkin Arip ini nama anaknya atau suaminya.
Oke saya mau lanjut cerita, saya membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk menuju rumah bu Arip dari tempat kami mengontrak rumah di Safira Residence, padahal sebenarnya perumahan tersebut berada di belakang komplek PU, tetapi karena dipagari kawat berduri ya harus memutar melewati SMKN 2 Kota Jambi.
ADVERTISEMENT
Setiap sahur saya ditemani pak de Miskun, dan Satri menjadi salah satu kenangan yang selalu terpatri dalam ingatan, teman ngontrak satu rumah ketika sama-sama merantau, membangunkan mereka, dan makan bareng, meskipun kadang Satri tidak bangun-bangun meskipun sudah setengah 4 lewat.
Sebenarnya menu yang disediakan bu Arip tidak selalu ayam geprek, kadang telor balado, daging dendeng, atau ayam suwir ditemani tahu tempe, sambel lalapan. Tetapi seringnya ya Ayam Geprek, cocok buat Satri yang doyan pedas. Kami juga terkadang dikasih bonus tambahan lauk pauk lainnya atau teh manis anget.
Meskipun sederhana menunya, juga bungkusnya, namun yang mahal ya perjuangan mengambil makanan sahur dan kenangannya itu, bagi orang seperti saya, pak de Miskun dan Satri yang malas masak, adanya kesediaan waktu dan tenaga dari bu Arip menyediakan menu sahur itu sangat luar biasa sekali, di tengah Kota Jambi sekitar the hok dan pasir putih yang jarang ada penjual sahur, kecuali beli dulu di malam hari, seperti nasi ayam pecel lamongan untuk dimakan pada saat sahur.
ADVERTISEMENT
Dengan harga per porsi 12 ribu rupiah, sudah cukup bagi kami untuk mendapatkan energi agar kuat menghadapi esok hari di kala puasa. Kami sepakat bayarnya ke bu Arip per minggu, Rp. 12.000 X 7 hari= Rp. 84.000. Jadi per orang bayarnya 84 ribu untuk makan sahur satu minggu.
Ayam geprek yang disajikan bukan sekadar makanan; ia adalah simbol dari kebersamaan, tawa, dan cinta yang disajikan dalam setiap suapan. Ayam yang digoreng dengan sempurna, renyah di luar dan lembut di dalam, dipadu dengan sambal geprek yang pedasnya membuat bibir bergetar. Sambal yang seolah memiliki cerita, menceritakan segala kegembiraan, kehangatan, dan bahkan nostalgia dari setiap rasa yang ditumbuknya.
Setiap kali ambil makanan sahur di rumah Bu Arip, ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan, terkadang menerjang hujan deras, takut akan kegelapan, tetapi semuanya bisa dijalani dengan sempurna, tanpa satupun waktu terlewat, kebetulan saya yang selalu ambil makanan tersebut.
ADVERTISEMENT
Nostalgia Setiap Ramadhan Tiba
Di tengah kesibukan dunia yang terkadang begitu keras saat ini, ada ketenangan yang ditemukan di sana—seakan makan ayam geprek bersama teman menyimpan kekuatan untuk mengingatkan kita akan arti kebersamaan, terutama di bulan suci ini. Ada momen di mana kita duduk bersama kawan-kawan, bercengkrama ringan, dan menikmati makanan yang menyentuh jiwa. Tidak ada yang lebih indah daripada melihat orang-orang tersenyum bahagia karena sepiring ayam geprek yang disajikan dengan sepenuh hati.
Suara tawa, cerita ringan tentang hari-hari sebelumnya, dan aroma sambal yang menggugah selera—semuanya seakan menghidupkan kembali kenangan indah setiap kali bulan Ramadan tiba. Bagi banyak orang, seperti diriku, Ayam Geprek Bu Arip menjadi lebih dari sekadar makanan sahur kami. Ia adalah makanan di mana waktu terasa berhenti sejenak, memberi kita kesempatan untuk meresapi setiap detik kebersamaan yang ada kala itu.
ADVERTISEMENT
Yang tidak bisa digantikan tentu kenangan indah santap sahur ayam geprek Bu Arip, untuk itulah saya menulis tulisan ini. Seperti sebuah ritual yang membawa kita kembali pada kebersamaan, pada kenangan masa lalu, dan pada harapan baru di setiap fajar Ramadhan yang tiba.
Jika suatu hari kamu merasa merindukan suasana penuh kenangan dan rasa yang tak bisa dilupakan, pesanlah ke Ayam Geprek Bu Arip di Pasir Putih, Jambi. Karena sahur yang sederhana, bersama makanan yang istimewa, bisa menjadi kenangan abadi yang terus hidup dalam hati.