Konten dari Pengguna

Nagasari

Abdullah Muzi Marpaung
Dosen Teknologi Pangan Swiss German University yang juga menggeluti dunia sastra dan bahasa Indonesia, narasumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk penyusunan istilah Ilmu dan Teknologi Pangan.
30 Maret 2025 14:07 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Abdullah Muzi Marpaung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Dalam masyarakat Melayu dahulu nagasari bukanlah nama kue atau penganan, melainkan merujuk kepada dua jenis tumbuhan (Rigg, 1862). Yang pertama, tumbuhan sejenis akasia dengan nama ilmiah Acacia pedunculata atau Acacia farnesiana dan kini bernama ilmiah resmi Vachellia farnesiana. Yang kedua, sejenis tumbuhan berbunga dengan nama ilmiah Mesua ferrea.
Vachellia farnesiana, dulu pernah memiliki nama lokal nagasari, kembang nagasari, kembang pung atau kembang Makasar (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Vachellia_farnesiana#/media/File:Acaciafarnesiana1web.jpg)
zoom-in-whitePerbesar
Vachellia farnesiana, dulu pernah memiliki nama lokal nagasari, kembang nagasari, kembang pung atau kembang Makasar (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Vachellia_farnesiana#/media/File:Acaciafarnesiana1web.jpg)
Selain nagasari atau kembang nagasari, orang Melayu dulu juga menyebut Vachellia farnesiana sebagai kembang pung atau kembang Makasar. Saat ini dalam bahasa Indonesia nama-nama itu tak lagi dipakai, berganti dengan bunga siam, kembang jepun, lasana, dan akasia manis. Bunga dari tumbuhan ini harum dan dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak wangi.
Nagasari sebagai nama lokal untuk Mesua ferrea tersebar di banyak pustaka lama yang meliputi kamus dan buku botani. Nama nagasari tetap bertahan hingga sekarang dan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diterangkan sebagai pohon yang tingginya mencapai 12 m, daun dan buahnya berbentuk lonjong berkulit keras, bijinya berwarna cokelat tua. Bunga nagasari berkelopak putih dengan
Bunga nagasari (Mesua ferrea) dengan kelopak putih serta benang sari kuning yang sekilas mirip dengan kue nagasari (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Mesua_ferrea#/media/File:Mesua_ferrea_-_Young_leaves_and_flowers..jpg)
benang sari kuning-jingga, harum, dan mirip cempaka. Kayu nagasari sangat berat, keras, dan kuat, merupakan salah satu jenis kayu yang tenggelam di air. Warnanya merah tua pekat, sulit untuk dipotong, dan terutama digunakan untuk bantalan rel kereta api serta konstruksi berat. Tumbuhan ini dikenal juga dengan nama pohon besi Ceylon dan merupakan pohon nasional Sri Lanka.
ADVERTISEMENT
Istilah nagasari sebagai nama sejenis kue berusia jauh lebih muda dan belum tercantum pada kamus bahasa Indonesia Poerwadarminta (1954). Selain itu, tidak banyak pula pustaka yang menerangkan nagasari sebagai penganan. Tidak satu pun kamus Melayu dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20 yang memuatnya. Di antara pustaka yang berhasil dilacak dan memuat nagasari sebagai penganan ialah buku tentang makanan di Indonesia (Ochse, 1931). Pada buku itu nagasari dideskripsikan sebagai sejenis makanan enak yang dibuat dari pisang yang dibungkus dalam daun, lalu dikukus dengan tepung dan gula. Pustaka kedua adalah buku resep masakan Jawa yang disusun oleh Raden Ayu Adipati Ario Rekso Negoro (1936) di Salatiga.
Tangkapan layar resep nagasari dari buku "Lajang panoentoen bab olah-olah kanggo para wanita" susunan Raden Ayu Adipati Ario Rekso Negoro (1936)
Pada buku tersebut diterangkan cara membuat nagasari yang tidak berbeda dengan deskripsi KBBI: penganan terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan pisang, dibungkus dengan daun pisang dan dikukus.
ADVERTISEMENT
Kini, nagasari sebagai penganan jauh lebih dikenal dibandingkan sebagai nama tumbuhan.