Konten dari Pengguna

2 Khutbah Jumat Bulan Syawal tentang Semangat Ibadah setelah Ramadhan

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
3 April 2025 9:00 WIB
·
waktu baca 9 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Imam Masjid Nabawi Syekh Dr. Ahmad bin Ali Al-Hudzaifi menyampaikan khutbah sebelum menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Imam Masjid Nabawi Syekh Dr. Ahmad bin Ali Al-Hudzaifi menyampaikan khutbah sebelum menunaikan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (11/10/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
ADVERTISEMENT
Bulan Syawal menjadi momen istimewa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Di bulan ini, terdapat banyak amalan yang dianjurkan, termasuk mendengar khutbah Jumat yang mengangkat tema-tema penuh makna.
ADVERTISEMENT
Motivasi untuk meningkatkan semangat ibadah pasca Ramadhan bisa menjadi topik menarik yang diangkat. Tema ini bertujuan untuk mengajak jemaah agar terus mempertahankan dan menjaga konsistensi dalam beramal saleh.
Biasanya, sebelum khutbah berlangsung, khatib perlu menyusun naskah dengan baik agar pesannya dapat diterima dengan jelas. Berikut contoh teks khutbah Jumat Bulan Syawal sebagai bahan referensi.

Khutbah Jumat Bulan Syawal

Menteri Agama Nasaruddin Umar pimpin Khutbah terawih perdana di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (28/2). Foto: Alya Zahra/kumparan
Khutbah Jumat di Bulan Syawal memiliki keutamaan tersendiri, karena menjadi momen yang tepat untuk memperkuat kembali ketakwaan setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan. Berikut adalah contoh khutbah Jumat yang bisa menjadi inspirasi dalam menyampaikan pesan untuk terus menjaga semangat ibadah di Bulan Syawal.

1. Khutbah tentang Motivasi Meningkatkan Ibadah di Bulan Syawal

Ilustrasi salat di sela-sela kerja. Foto: Shutter Stock
Mengutip buku Mutiara Khutbah Jumat: Kisah Berhikmah Pembangun Jiwa oleh Ridhoul Wahdi, berikut contoh naskah khutbah Jumat:
ADVERTISEMENT
Hadirin Jamaah Salat Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat iman dan Islam. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang selalu istiqamah dalam keimanan dan ketakwaan.
Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad saw., beserta keluarga dan sahabatnya. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam setiap aspek kehidupan.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kini kita berada di bulan Syawal, bulan yang mengajarkan kita untuk menjaga dan meningkatkan ibadah setelah Ramadan. Sebagian ulama salaf berdoa selama enam bulan agar amal Ramadan mereka diterima, dan enam bulan berikutnya agar dipertemukan kembali dengan Ramadan. Ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi dalam ibadah.
Allah Swt. berfirman:
يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُفْتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُسْلِمُونَ
ADVERTISEMENT
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imran: 102)
Mari kita jadikan Syawal sebagai momentum untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan menjaga semangat ibadah yang telah kita bangun selama Ramadan. Semoga Allah menerima amal kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun mendatang.
Khatib Dr. Syahril Siddik menyampaikan khutbah pada salat Idul Fitri WNI di Belanda, Senin (2/5/2022). Foto: KBRI Den Haag
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Syawal berarti peningkatan. Setelah Ramadan, seharusnya ibadah dan kualitas diri kita semakin baik. Bukankah kemuliaan seseorang bergantung pada ketakwaannya?
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَنفُسَكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa..." (QS. Al-Hujurat: 13)
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Syawal sering menjadi bulan penurunan. Banyak yang kembali lalai, masjid sepi, dan kemaksiatan meningkat. Seakan kain putih Ramadan dikotori kembali.
ADVERTISEMENT
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ini tanda bahwa puasa belum membentuk ketakwaan. Maka, mari tingkatkan amal dengan istiqamah. Kebaikan di Ramadhan harus berlanjut, seperti membaca Al-Qur’an, salat malam, sedekah, serta menjaga keikhlasan dan keyakinan kepada Allah. Rasulullah bersabda:
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus, meskipun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)
Maka, amal yang telah kita biasakan di Ramadan hendaknya tetap kita jaga. Membaca Al-Qur'an setiap hari, melanjutkan salat malam dengan tahajud dan witir, serta terus berinfaq dan bersedekah. Nilai-nilai keimanan seperti ketergantungan kepada Allah, keikhlasan, dan keyakinan akan pengawasan-Nya harus tetap kuat. Jangan sampai semangat ibadah memudar seiring berakhirnya Ramadan. Syawal adalah momentum untuk terus meningkat, bukan mundur.
ADVERTISEMENT
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتَ مِنْ هَوَالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ
Artinya: Barangsiapa berpuasa Ramadan, lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, ia seperti puasa setahun. (HR. Ibnu Majah)
Khutbah Idul Adha tahun 2018 di kota New York. Jemaah terbesar di kota dan salah satu jemaah terbesar di Amerika. Lebih 10.000 jemaah memadati lapangan sekolah Jamaica Queens NYC. Foto: Dok. Shamsi Ali
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Meski Syawal tidak memiliki banyak amalan khusus, Allah memberi kita satu amalan istimewa, puasa enam hari di bulan Syawal. Keutamaannya luar biasa, setara dengan puasa setahun penuh.
Rasulullah saw. bersabda:
"Barangsiapa berpuasa Ramadan, lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, ia seperti berpuasa setahun." (HR. Muslim & Ibnu Majah)
Terkait pelaksanaannya, Imam Ahmad membolehkan puasa ini dilakukan berurutan atau tidak. Sementara mazhab Syafi’i dan Hanafi lebih mengutamakan berurutan dari 2 hingga 7 Syawal. Yang jelas, puasa ini tetap sah selama masih dalam bulan Syawal.
ADVERTISEMENT
Bagi yang belum melaksanakannya, masih ada kesempatan. Namun, hindari berpuasa khusus di hari Jumat tanpa diiringi Kamis atau Sabtu, sesuai larangan Rasulullah saw.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Jangan biarkan amal ibadah menurun di bulan Syawal. Justru, bulan ini pernah menjadi momen perjuangan besar bagi kaum muslimin, seperti dalam Perang Ahzab pada tahun 5 H. Persatuan, keimanan, dan doa mereka semakin kuat setelah Ramadan. Ini mengajarkan kita bahwa Syawal adalah bulan peningkatan, bukan kemunduran.
Itulah contoh betapa bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri kita turun. Justru seharusnya, sesuai dengan makna Syawal, maka kita harus mengalami peningkatan dengan berupaya istiqamah serta meningkatkan kualitas ibadah dan diri, diantaranya dengan puasa Syawal.
ADVERTISEMENT
Demikianlah khutbah ini disampaikan, semoga bisa menjadi renungan dan motivasi bagi kita semua untuk menjadikan bulan Syawal ini menjadi lebih berarti dan penuh berkah ilahi. Amin.

2. Khutbah tentang 3 Cara Menjaga Semangat Ibadah setelah Ramadhan

Ilustrasi perlengkapan ibadah umat Muslim. Foto: Gatot Adri/Shutterstock
Dikutip dari laman Kementerian Agama, berikut naskah khutbah Jum'at sebaga referensi:
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang terus mengalirkan nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu kepada kita, di antaranya adalah nikmat iman dan takwa sehingga kita masih bisa menikmati manisnya Islam yang akan membawa kita selamat dunia akhirat.
Tiada kata lain yang patut diucapkan kecuali kalimat Alhamdulillahirabbil Alamin. Dengan terus bersyukur, insyaAllah karunia nikmat yang diberikan akan terus ditambah oleh Allah SWT.
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
ADVERTISEMENT
Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras".(QS. Surat Ibrahim: 7)
Syukur yang kita ungkapkan ini juga harus senantiasa direalisasikan dalam wujud nyata melalui penguatan ketakwaan kepada Allah SWT yakni dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Dengan syukur dan takwa ini, maka kita akan senantiasa menjadi pribadi yang senantiasa diberi perlindungan dan petunjuk dalam mengarungi samudra kehidupan di dunia dan bisa terus menjalankan misi utama hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah SWT. Hal ini termaktub dalam Al-Quran Surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."
ADVERTISEMENT
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dalam putaran waktu dan keseharian umat Islam, bulan Ramadhan menjadi momentum intensifnya kegiatan ibadah yang dilakukan baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya. Frekuensi ibadah seperti puasa, sholat, membaca Al-Quran, bersedekah, dan ibadah-ibadah lainnya menjadi warna dominan di bulan mulia tersebut.
Semangat ini seiring dengan kemuliaan Ramadhan yang di dalamnya banyak memiliki keutamaan dan keberkahan. Ramadhan menjadi bulan 'penggemblengan' jasmani dan rohani umat Islam untuk menjadikannya pribadi yang senantiasa dekat dengan sang khalik, Allah SWT.
Namun pertanyaannya, bagaimana pasca-Ramadhan? Apakah kita mampu mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah kita? Apakah pasca Ramadhan, kita kembali seperti sedia kala dengan semangat ibadah seadanya?
Apakah takwa, sebagai buah dari perintah puasa Ramadhan, sudah kita rasakan dalam diri kita? Tentu pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri sebagai bahan muhasabah atau introspeksi diri agar spirit ibadah kita tidak mengendur pasca-Ramadhan.
ADVERTISEMENT
Sehingga pada kesempatan khutbah ini, khatib ingin mengajak kita semua untuk melihat kembali lintasan perjalanan ibadah kita selama Ramadhan untuk menjadi spirit dan motivasi agar pasca Ramadhan, ibadah kita bisa ditingkatkan, atau minimal sama dengan Ramadhan. Melihat masa lalu itu penting sebagai modal untuk menghadapi masa depan sebagaimana Firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al-Ḥasyr :18)
Khutbah K.H Gymnastiar di Masjid Istiqlal. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Semangat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sebenarnya sudah tergambar dari makna kata Syawal yang merupakan bulan setelah Ramadhan sekaligus waktu perayaan Hari Raya Idul Fitri.
ADVERTISEMENT
Dari segi bahasa, kata "Syawal" (شَوَّالُ) berasal dari kata "Syala" (شَالَ) yang memiliki arti "irtafaá" (اِرْتَفَعَ) yakni meningkatkan. Makna ini seharusnya menjadi inspirasi kita untuk tetap mempertahankan grafik kualitas dan kuantitas ibadah pasca Ramadhan. Dalam mempertahankannya, perlu upaya serius di antaranya adalah dengan melakukan 3M yakni muhasabah, mujahadah, dan muraqabah.
Muhasabah adalah melakukan introspeksi diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadhan. Muhasabah ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri tentang: Apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan?
Apakah kita sudah memiliki niat yang benar dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan? Apa yang menjadikan kita semangat beribadah di bulan Ramadhan? Pernahkan kita melanggar kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan? Dan tentunya pertanyaan-pertanyaan introspektif lainnya untuk mengevaluasi ibadah kita selama ini.
ADVERTISEMENT
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memotivasi kita untuk semangat dan memperbaiki diri sehingga akan berdampak kepada kualitas dan kuantitas ibadah pasca Ramadhan. Terkait pentingnya muhasabah ini Rasulullah bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya: "Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (HR Tirmidzi).
Selanjutnya adalah mujahadah yakni bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah bulan Ramadhan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan.
Perjuangan ini tentu akan banyak menghadapi tantangan, baik dari lingkungan sekitar kita maupun dari diri kita sendiri. Oleh karenanya, kita harus memiliki tekad kuat dan benar agar hambatan dan tantangan yang bisa mengendurkan semangat ibadah kita ini bisa kita kalahkan.
ADVERTISEMENT
Allah telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh-sungguh dalam berjuang sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik."
Suasana khutbah saat salat Idul Fitri di Sydney, Senin (2/5/2022). Foto: KJRI Sydney
Cara selanjutnya adalah muraqabah yakni mendekatkan diri kepada Allah. Dengan muraqabah ini, akan muncul kesadaran diri selalu diawasi oleh Allah SWT sekaligus memunculkan kewaspadaan untuk tidak melanggar perintah Allah sekaligus bersemangat untuk menjalankan segala perintah-Nya.
Sikap-sikap ini merupakan nilai-nilai yang ada dalam diri orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang yakin dan percaya kepada yang ghaib dan tak tampak oleh mata. Rasulullah SAW bersabda:
ADVERTISEMENT
أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: "Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu..." (HR Bukhari).
Nilai-nilai ketakwaan dengan senantiasa melakukan muraqabah ini seharusnya memang sudah tertancap dalam hati kita karena muara dari ibadah puasa di bulan Ramadhan sendiri adalah ketakwaan. Hal ini sudah ditegaskan dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah: 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat kali ini, semoga kita bisa senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah kita pasca Ramadhan dengan muhasabah, mujahadah, dan muraqabah. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam mengemban misi ibadah ini. Amin.
ADVERTISEMENT
(ANB)