Konten dari Pengguna

Apa Itu Deforestasi? Ini Pengertian dan Dampaknya yang Perlu Diwaspadai

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
7 Februari 2025 18:25 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Deforastasi. Foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Deforastasi. Foto: Pexels.
ADVERTISEMENT
Deforestasi merupakan aktivitas yang dilarang pemerintah karena dapat merusak lingkungan. Namun, masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami apa itu deforestasi.
ADVERTISEMENT
Sebenarnya, deforestasi bisa dimaknai dari berbagai sudut pandang. Namun pada dasarnya, istilah ini selalu berkaitan dengan hilangnya ekosistem hutan secara permanen.
Aktivitas tersebut tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Pengertian Deforestasi

Ilustrasi Deforestasi. Foto: Pexels.
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), deforestasi adalah kegiatan yang berfokus pada penggundulan atau penebangan hutan secara masif. Sementara itu, Food and Agriculture Organization (FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan deforestasi sebagai perubahan hutan menjadi bentuk penggunaan lahan lain atau penurunan jangka panjang tutupan kanopi pohon di bawah ambang batas tertentu.
Dalam berbagai literatur ilmiah, para ahli mendeskripsikan deforestasi sebagai proses penghilangan atau perusakan hutan beserta vegetasi terkaitnya, yang umumnya dipicu oleh aktivitas manusia. Kegiatan ini dapat meliputi penebangan pohon untuk kebutuhan kayu, pembukaan lahan untuk kegiatan pertanian, serta pembangunan infrastruktur dan kawasan pemukiman.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui, deforestasi tidak hanya mencakup penebangan pohon, tetapi juga melibatkan perubahan permanen dalam pola penggunaan lahan yang menyebabkan hilangnya ekosistem hutan secara menyeluruh. Ini yang membedakan deforestasi dengan praktik penebangan yang disertai upaya reboisasi atau regenerasi alami.
Secara umum, deforestasi dapat dipahami sebagai proses yang kompleks, di mana terjadi penurunan signifikan terhadap luas wilayah hutan akibat intervensi manusia yang mengubah lahan hutan menjadi fungsi lain. Dampak dari proses ini mencakup konsekuensi jangka panjang terhadap tutupan kanopi pohon, keanekaragaman hayati, dan fungsi ekosistem hutan secara keseluruhan.
Dalam jurnal Dampak Deforestasi Hutan Skala Besar terhadap Pemanasan Global di Indonesia yang ditulis oleh Wahyuni dan Suranto, disebutkan bahwa deforestasi adalah salah satu permasalahan yang sulit diatasi. Untuk mengurangi dampak tersebut, diperlukan pengetahuan dan kerja sama yang baik dari berbagai elemen masyarakat.
ADVERTISEMENT
Hal ini bertujuan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam mengurangi aktivitas yang menyebabkan deforestasi atau mendukung program-program yang dianggap mampu mengatasi permasalahan tersebut.
Tingkat deforestasi hutan di Indonesia dari tahun 1985 hingga 1998 mencapai angka 1,6 hingga 1,8 juta hektar per tahun. Tingginya angka tersebut mengakibatkan hilangnya lahan hutan secara besar-besaran yang berdampak negatif pada keberlanjutan lingkungan dan kehidupan sosial. Dampak ini tidak hanya dirasakan langsung, tetapi juga berpengaruh pada masa depan.
Pada tahun 2000, angka deforestasi meningkat menjadi sekitar 2 juta hektar. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sejak era Reformasi, tingkat deforestasi cenderung mengalami penurunan. Misalnya, pada tahun 2013-2014, angka deforestasi menurun menjadi 0,4 juta hektar dari sebelumnya 0,73 juta hektar per tahun.
ADVERTISEMENT
Namun, pada tahun 2014-2015, angka tersebut kembali meningkat menjadi 1,09 juta hektar. Penurunan kembali terjadi pada tahun 2015-2016, yaitu 0,63 juta hektar, dan tahun 2016-2017 sebesar 0,48 juta hektar per tahun.
Fluktuasi laju deforestasi ini disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia. Sehingga, diperlukan kerja sama dan kesadaran bersama untuk mengurangi deforestasi demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Setiap tahun, lahan hutan di Indonesia terus mengalami penurunan akibat deforestasi. Dampak yang ditimbulkan meliputi peningkatan suhu udara yang dapat memicu masalah bagi makhluk hidup.
Adapun, faktor-faktor yang menyebabkan deforestasi meliputi konversi lahan untuk pertanian, kebakaran hutan, pemanenan kayu, dan penggunaan kayu sebagai bahan bakar.
Aktivitas ini memberikan dampak serius bagi kehidupan manusia, tumbuhan, dan hewan. Oleh karena itu, upaya pengurangan deforestasi perlu dioptimalkan melalui berbagai langkah konkret. Pemerintah perlu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam Indonesia.
ADVERTISEMENT

Apa Saja Dampak Deforestasi?

Ilustrasi Deforestasi. Foto: Pexels.
Deforestasi merupakan salah satu masalah yang cukup mengkhawatirkan. Sebab, dampaknya dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekologi, ekonomi, hingga sosial.
Masih mengutip jurnal Dampak Deforestasi Hutan Skala Besar terhadap Pemanasan Global di Indonesia, berikut ini adalah penjelasan rinci mengenai dampak-dampak deforestasi:

1. Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Hutan merupakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna. Ketika deforestasi terjadi, banyak spesies kehilangan tempat tinggal, sumber makanan, serta perlindungan dari predator. Akibatnya, risiko kepunahan meningkat secara signifikan.
Banyak hewan endemik yang hanya hidup di hutan tertentu terancam punah karena hutan tempat mereka tinggal dirusak atau diubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Proses ini dapat mengganggu keseimbangan ekosistem karena hilangnya satu spesies dapat memengaruhi rantai makanan secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
Sebagai contoh, di wilayah Amazon yang sering disebut sebagai paru-paru dunia, deforestasi telah menyebabkan hilangnya habitat bagi jaguar, sloth, dan ribuan spesies serangga unik. Selain itu, banyak tanaman obat yang potensial ditemukan di hutan tropis hilang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

2. Perubahan Iklim Global

Deforestasi memiliki dampak signifikan terhadap perubahan iklim. Pohon-pohon di hutan berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida (CO2), salah satu gas rumah kaca utama yang berkontribusi pada pemanasan global. Ketika hutan ditebang, kapasitas bumi untuk menyerap CO2 menurun drastis, sementara karbon yang tersimpan di pohon-pohon tersebut dilepaskan ke atmosfer saat kayu dibakar atau membusuk.
Hilangnya tutupan hutan juga mengurangi kemampuan bumi untuk mengatur suhu lokal dan global. Sebagai contoh, hutan tropis seperti Amazon membantu menjaga keseimbangan suhu bumi dengan melepaskan uap air yang berfungsi sebagai pendingin alami. Ketika hutan ini rusak, efek pendinginan ini juga hilang yang menyebabkan peningkatan suhu global.
ADVERTISEMENT

3. Degradasi Tanah dan Erosi

Akar pohon mampu mengikat partikel tanah, mencegah erosi, dan membantu mempertahankan struktur tanah. Ketika hutan ditebang, tanah menjadi rentan terhadap erosi, terutama selama musim hujan. Akibatnya, tanah kehilangan lapisan subur dan kurang produktif untuk pertanian.
Deforestasi juga mengurangi kapasitas tanah untuk menyerap dan menyimpan air. Kondisi ini dapat berisiko mendatangkan banjir saat hujan lebat.
Di Indonesia, banyak daerah yang mengalami banjir bandang akibat deforestasi di daerah hulu sungai. Tanpa hutan, air hujan akan mengalir lebih cepat ke sungai tanpa diserap oleh tanah, sehingga berisiko meningkatkan potensi banjir di daerah hilir.

4. Gangguan Siklus Hidrologi

Hutan memainkan peran penting dalam siklus air global. Melalui proses transpirasi, pohon-pohon melepaskan uap air ke atmosfer, kemudian membantu membentuk awan dan hujan.
ADVERTISEMENT
Ketika hutan ditebang, proses ini pun dapat terganggu. Akibatnya, curah hujan di wilayah tertentu dapat berkurang dan berpotensi mengakibatkan kekeringan.
Di Amazon, deforestasi telah menyebabkan pengurangan curah hujan di beberapa daerah. Hal ini berdampak pada pertanian, pasokan air minum, dan produksi energi yang bergantung pada air, seperti pembangkit listrik tenaga air. Ketidakseimbangan siklus hidrologi ini juga dapat memperburuk krisis air di wilayah yang sudah rentan terhadap kekeringan.

5. Dampak Sosial dan Ekonomi

Deforestasi tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada hutan untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Banyak kelompok adat yang kehilangan sumber mata pencaharian mereka akibat perusakan hutan.
Sebagaimana diketahui, hutan menyediakan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, dan mata pencaharian bagi jutaan orang di seluruh dunia. Ketika hutan hilang, masyarakat harus menghadapi tantangan besar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, deforestasi sering kali terkait dengan konflik lahan. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi perkebunan besar atau lahan pertanian sering melibatkan penggusuran paksa komunitas lokal. Konflik ini tidak hanya merugikan masyarakat setempat secara ekonomi, tetapi juga mengancam keberlangsungan budaya mereka.

6. Risiko Kesehatan

Deforestasi juga berdampak pada kesehatan manusia. Ketika habitat alami hewan terganggu, kemungkinan interaksi antara hewan liar dan manusia meningkat, yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit zoonosis, seperti virus corona, malaria, dan demam berdarah. Hilangnya keanekaragaman hayati juga dapat memengaruhi ketersediaan obat-obatan alami yang berasal dari tanaman hutan.
Asap dari pembakaran hutan yang sering dilakukan untuk membuka lahan juga berkontribusi pada polusi udara. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular, terutama di kalangan anak-anak dan orang tua.
ADVERTISEMENT

7. Kehilangan Jasa Ekosistem

Hutan menyediakan berbagai jasa ekosistem yang tidak dapat digantikan oleh teknologi modern. Selain menyerap karbon dan menghasilkan oksigen, hutan juga mampu mencegah bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Dengan hilangnya hutan, maka risiko bencana alam akan meningkat.
Sebagai contoh, hutan bakau yang sering ditebang untuk membuka lahan tambak udang sebenarnya berfungsi sebagai pelindung alami terhadap gelombang tsunami dan badai. Ketika hutan bakau hilang, risiko kerusakan akibat bencana ini dapat meningkat secara signifikan.
(DR)