Konten dari Pengguna

Apa Makna Utama Khittah Ponorogo 1969 bagi Muhammadiyah? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
14 Maret 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Logo Muhammadiyah. Foto: Dok. Muhammadiyah.
zoom-in-whitePerbesar
Logo Muhammadiyah. Foto: Dok. Muhammadiyah.
ADVERTISEMENT
Khittah Ponorogo 1969 merupakan salah satu pedoman yang digunakan Muhammadiyah dalam menjalankan organisasinya. Sebenarnya, apa makna utama Khittah Ponorogo 1969 bagi Muhammadiyah?
ADVERTISEMENT
Khittah disusun dari serangkaian ide, teori, metodi, strategi, dan strategi perjuangan Muhammadiyah. Dalam praktiknya, khittah Muhammadiyah lebih berfokus pada strategi dalam menghadapi berbagai tantangan dakwah, terutama yang berkaitan dengan kebijakan pemerintahan.
Dari berbagai khittah yang ada, Khittah Ponorogo 1969 menjadi salah satu yang sering dijadikan sebagai pedoman Muhammadiyah. Untuk memahami makna utama dari khittah, simak penjelasan berikut ini.

Apa Itu Khittah Ponorogo 1969 Muhammadiyah?

Ilustrasi memahami makna utama khittah Ponorogo 1969. Foto: Pexels.
Salah satu pedoman penting yang sering digunakan Muhammadiyah adalah Khittah Ponorogo. Menurut jurnal Muhammadiyah dan Politik: Dilema antara Keep Close dan Keep Distance yang ditulis oleh Ma'un Murod Al-Barbasy, Khittah Ponorogo dirumuskan dalam sidang Tanwir tahun 1969 di Ponorogo, Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Kiai Haji Abdur Rozak Fachrudin.
ADVERTISEMENT
Sidang Tanwir tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Muktamar Muhammadiyah ke-37 yang digelar di Yogyakarta pada tahun 1968.
Dalam Khittah Ponorogo, salah satu prinsip yang ditekankan adalah keyakinan Muhammadiyah bahwa tujuan dakwahn dapat dicapai melalui penyebaran ajaran Islam dengan memanfaatkan dua jalur utama yang berjalan beriringan.
Jalur pertama adalah melalui aktivitas politik dalam organisasi atau partai politik, sedangkan jalur kedua dilakukan melalui kegiatan sosial di dalam organisasi non-politik atau kemasyarakatan.
Lewat berbagai lembaga pendidikan, rumah sakit, dan program pemberdayaan masyarakat, Muhammadiyah terus berupaya memberikan manfaat yang luas bagi umat Islam dan masyarakat Indonesia secara umum.
Prinsip ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki pandangan luas dalam memahami peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, yaitu membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.
ADVERTISEMENT

Makna Utama Khittah Ponorogo 1969 bagi Muhammadiyah

Ilustrasi dakwah. Foto: Pexels.
Khittah Ponorogo 1969 tentunya mengandung makna yang sangat penting bagi Muhammadiyah, terutama dalam menentukan arah perjuangan dan strategi dakwahnya.
Masih mengutip dari jurnal jurnal Muhammadiyah dan Politik: Dilema antara Keep Close dan Keep Distance, salah satu makna utama dari Khittah Ponorogo adalah penegasan bahwa Muhammadiyah tetap berkomitmen dalam penyebaran ajaran Islam, namun tidak secara langsung berafiliasi dengan partai politik tertentu.
Muhammadiyah memahami bahwa politik merupakan bagian dari kehidupan bernegara yang tidak bisa diabaikan. Namun, organisasi ini memilih untuk berperan sebagai gerakan sosial yang memberikan kontribusi melalui pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, Muhammadiyah tetap bisa menjadi organisasi yang independen, bersifat inklusif, dan mengayomi seluruh lapisan umat Islam tanpa terpecah belah oleh kepentingan politik praktis.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Khittah Ponorogo juga menegaskan bahwa perjuangan Muhammadiyah dalam membangun bangsa tidak terbatas pada bidang keagamaan saja, tetapi juga meliputi berbagai aspek sosial dan kemanusiaan.
Secara keseluruhan, Khittah Ponorogo 1969 menjadi panduan penting bagi Muhammadiyah dalam menjaga keseimbangan antara dakwah dan keterlibatannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan tetap mempertahankan kemandiriannya, Muhammadiyah dapat terus menjalankan misinya dalam membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam tanpa terjebak dalam kepentingan politik tertentu.
Hal ini menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang kokoh, berorientasi pada kemaslahatan umat, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam.
(DR)