Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Apakah Puasa Katolik Boleh Minum? Ini Aturannya Menurut Tradisi Gereja
7 Maret 2025 13:27 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Makna puasa bagi umat Katolik adalah bentuk pengendalian diri dan pengorbanan. Karena pelaksanaannya berbeda dengan puasa dalam Islam, banyak orang awam yang mempertanyakan, apakah puasa Katolik boleh minum?
ADVERTISEMENT
Sebenarnya, aturan pelaksanaan puasa dalam agama Katolik disesuaikan dengan ajaran Gereja. Lalu, aturan ini juga berkaitan erat dengan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai aturan puasa Katolik, termasuk jawaban atas pertanyaan apakah puasa Katolik boleh minum, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Apakah Puasa Katolik Boleh Minum?
Dalam tradisi Katolik, puasa adalah kegiatan spiritual yang dilakukan sebagai bentuk refleksi, pertobatan, dan persiapan diri. Ibadah ini berlangsung selama masa Pra-Paskah, yaitu 40 hari sebelum perayaan Paskah. Lalu, bagaimana aturan pelaksanaannya? Apakah puasa Katolik boleh minum?
Menurut buku UNIKA DALAM WACANA PUBLIK: Hidup Itu Bergerak, puasa Katolik memiliki perbedaan dengan puasa dalam Islam. Umat Katolik tidak diwajibkan berpantang makan dan minum sepenuhnya, melainkan hanya mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Selama menjalankan puasa, umat Katolik hanya diperbolehkan makan kenyang sekali dalam sehari.
ADVERTISEMENT
Di luar makan kenyang itu, mereka hanya boleh mengonsumsi camilan dengan porsi yang lebih kecil dari makanan utama. Soal frekuensinya, agama Katolik tidak membatasinya secara ketat.
Di samping itu, aturan terkait minuman juga bersifat fleksibel. Sebagian umat memilih untuk tidak minum sama sekali, sementara yang lain hanya mengurangi jumlah cairan yang dikonsumsi. Kedua pilihan ini dianggap sah dalam pelaksanaan puasa Katolik.
Jadi, umat Katolik dibolehkan untuk minum saat berpuasa dengan jumlah yang dibatasi. Namun, dibolehkan pula untuk berpantang minum sepanjang hari. Aturan ini dikembalikan lagi ke preferensi dan keinginan masing-masing.
Aturan Pantang dan Puasa Katolik
Dikutip dari situs SMP Santo Yusup Pacet, selama masa Pra-Paskah, umat Katolik menjalankan ibadah puasa dan pantang sebagai bentuk refleksi dan pertobatan.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, puasa yang wajib dilakukan hanya pada dua hari tertentu, yaitu Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa ini diwajibkan bagi umat Katolik yang berusia 18 hingga awal 60 tahun.
Sementara itu, kewajiban berpantang berlaku lebih luas, yakni bagi mereka yang telah berusia 14 tahun ke atas. Berpantang dilakukan setiap hari Jumat selama masa Pra-Paskah hingga Jumat Suci, sehingga totalnya berjumlah tujuh hari.
Berpantang berarti menahan diri dari sesuatu yang biasanya dinikmati atau dilakukan sebagai bentuk penebusan dosa. Contohnya, pantang daging, rokok, garam, gula dan makanan manis, serta pantang hiburan.
Melalui puasa dan pantang, umat Katolik diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan merenungkan makna pengorbanan dalam kehidupan spiritual mereka.
ADVERTISEMENT
Perbedaan Puasa Katolik dan Puasa Islam
Puasa dalam ajaran Katolik sangat berbeda dengan puasa dalam Islam. Dihimpun dari artikel ilmiah berjudul Puasa Menurut Islam dan Katolik oleh Mahmud Muhsinin, berikut beberapa perbedaannya:
1. Waktu Berpuasa
Dalam Islam, waktu berpuasa telah ditentukan dengan jelas, yakni dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Sementara dalam ajaran Katolik, tidak ada aturan baku mengenai kapan harus memulai dan mengakhiri puasa.
Puasa dalam tradisi Katolik lebih bersifat pribadi dan spiritual. Pelaksanaannya bergantung pada kesadaran individu serta dorongan Roh Kudus dalam diri mereka.
2. Lamanya Hari Puasa
Dalam Islam, puasa wajib dilaksanakan selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Selain itu, ada pula puasa sunah yang bisa dijalankan pada hari-hari tertentu sesuai anjuran agama.
ADVERTISEMENT
Berbeda dengan Islam, umat Katolik memiliki kebebasan dalam menentukan jangka waktu puasanya. Durasi puasa dapat bervariasi, mulai dari 8 jam, 1 hari 1 malam, 3 hari, 7 hari, hingga 40 hari.
3. Pelaksanaan Puasa
Dalam Islam, baik puasa wajib maupun sunah memiliki aturan pelaksanaan yang seragam. Umat Muslim di seluruh dunia menjalankannya pada waktu yang sama sesuai aturan dalam hukum syar'i.
Sementara itu, dalam tradisi Katolik, puasa dapat dilakukan secara individu, dalam kelompok kecil, atau bersama komunitas yang lebih besar. Misalnya, puasa bisa dijalankan oleh jemaat di satu gereja yang sama atau bahkan serentak di seluruh negara, tergantung pada kesepakatan dan tradisi yang berlaku.
4. Ritual Puasa
Dalam Islam, pelaksanaan puasa Ramadan dapat disempurnakan dengan berbagai ibadah, mulai dari salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, membayar zakat, hingga i’tikaf di sepuluh malam terakhir. Semua dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, umat Katolik menjalankan puasa diiringi dengan berbagai ritual keagamaan. Mereka memperbanyak ibadah spiritual dengan cara memuji Tuhan, berdoa, menyembah, dan membaca firman Allah.
5. Tujuan Puasa
Secara spiritual, tujuan puasa Katolik dan Islam memiliki perbedaan. Bagi umat Islam, puasa memiliki beberapa keutamaan, yakni:
Sementara itu, umat Katolik menjalankan puasa dengan tujuan:
Persamaan Puasa dalam Islam dan Katolik
Di balik perbedaannya, ternyata ada sejumlah persamaan antara puasa dalam Islam dan Katolik . Mengutip artikel ilmiah Puasa Menurut Islam dan Katolik oleh Mahmud Muhsinin, kedua tradisi ini mendefinisikan puasa sebagai tindakan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.
ADVERTISEMENT
Selain itu, tujuan utama puasa dalam Islam dan Katolik juga memiliki kesamaan, yakni untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Lewat ritual ini, umat beriman diajak untuk lebih fokus pada aspek spiritual, meningkatkan kesadaran akan keberadaan Tuhan, serta memperkuat hubungan mereka dengan-Nya.
(NSF)