Konten dari Pengguna

Keutamaan Puasa Syawal yang Istimewa dan Penuh Sayang untuk Dilewatkan

Berita Hari Ini
Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
2 April 2025 11:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi puasa Syawal. Foto: Oleksandra Naumenko/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puasa Syawal. Foto: Oleksandra Naumenko/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Puasa Syawal merupakan salah satu amalan sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk ditunaikan umat Islam setelah berakhirnya bulan Ramadhan dan datangnya Idul Fitri. Sesuai dengan namanya, puasa ini dilakukan selama enam hari di bulan Syawal.
ADVERTISEMENT
Puasa Syawal bukan hanya ibadah tambahan, tetapi juga kesempatan untuk mempertahankan kebiasaan baik setelah Ramadhan. Dengan melaksanakannya, seseorang dapat terus menjaga semangat ibadah meskipun bulan suci telah berlalu.
Lantas, apa saja keutamaan puasa Syawal? Untuk memahami lebih dalam, berikut beberapa keutamaan puasa Syawal yang patut diketahui.

Keutamaan Puasa Syawal

Ilustrasi puasa. Foto: Shutterstock.
Puasa Syawal memiliki keutamaan yang luar biasa bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan. Mengutip buku Menjadi Khalifah Allah yang Memperbaiki oleh Ibnu Muhajir, berikut keutamaan puasa syawal dan penjelasannya.

1. Setara dengan Puasa Setahun

Bersumber dari buku Ternyata Shalat & Puasa Sunah dapat Mempercepat Kesuksesan karya Ceceng Salamudin, pahala puasa Ramadhan yang diikuti dengan enam hari puasa Syawal setara dengan pahala berpuasa setahun. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tsauban Maula, Rasulullah SAW bersabda:
ADVERTISEMENT
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ﷺ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَّةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرُ أَمْثَالِهَا
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka itu adalah sempurnanya satu tahun. Barangsiapa yang berbuat satu kebaikan maka baginya sepuluh balasan kebaikan yang serupa.” (HR. Ibnu Majah).
Mengutip buku Tuntunan Ibadah Ramadan dan Hari Raya oleh M. Nielda dan R. Syamsul, berdasarkan hadits di atas, bisa didapatkan perhitungan secara matematis sebagai berikut:
Dalam satu bulan, rata-rata ada 30 hari, sehingga dalam setahun jumlahnya sekitar 360 hari (30 hari × 12 bulan). Kemudian, dalam hadits disebutkan bahwa setiap kebaikan akan dibalas dengan pahala 10 kali lipat.
ADVERTISEMENT
Jadi, jika puasa Ramadhan dihitung 30 hari, lalu dikalikan 10, hasilnya setara dengan 300 hari atau sama dengan 10 bulan. Sedangkan puasa sunnah 6 hari dikalikan 10, hasilnya menjadi 60 hari.
Jika kedua hasil ini dijumlahkan, totalnya menjadi 360 hari, sama dengan jumlah hari dalam setahun.
Dengan demikian, seorang Muslim yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal, pahalanya bisa setara orang yang berpuasa setahun penuh.
Perhitungan ini tidak bersifat mutlak dan hanya sebatas fadhail/keutamaan untuk memahami hadits nabi secara logika dan mengetahui rahmat dan kemurahan yang diberikan Allah SWT kepada hambanya.

2. Menyempurnakan Puasa Ramadhan

Ilustrasi lentera Ramadhan. Foto: JOAT/Shutterstock
Keutamaan ini menegaskan bahwa puasa Syawal akan menutupi kekurangan yang ada pada puasa Ramadhan. Sebagaimana sholat sunnah menutupi kekurangan sholat fardhu lima waktu.
ADVERTISEMENT
Selama berpuasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang diperbuat baik disengaja ataupun tidak, seperti terjebak dalam luapan emosi, melakukan ghibah, dan perilaku negatif lainnya. Maka, sebagai penyempurna kekurangan tersebut, dianjurkan untuk melakukan puasa Syawal.

3. Tanda Diterimanya Amal Puasa Ramadhan

Jika Allah SWT menerima amal seorang hamba, maka Dia akan memberi taufik pada amal saleh selanjutnya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama Salaf,
“Balasan dari amal kebaikan adalah amal kebaikan selanjutnya, maka itu adalah tanda diterimanya amal yang pertama”.
Begitu pula orang yang melaksanakan kebaikan, lalu dilanjut dengan melakukan kejelekan, maka hal tersebut adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amal kebaikan yang telah dilakukan.
(ANB)