Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Puasa Syawal Harus Berurutan atau Tidak? Ini Penjelasannya
2 April 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Selepas menyambut Idulfitri, sebagian besar umat Islam menunaikan puasa Syawal selama enam hari. Dalam pelaksanaannya, sebenarnya puasa Syawal harus berurutan atau tidak?
ADVERTISEMENT
Ibadah sunnah satu ini memang dianjurkan dikerjakan oleh setiap Muslim sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Mengutip buku Dahsyatnya Puasa Wajib & sunah Rekomendasi Rasulullah yang diterbitkan Qultum Media, orang yang berpuasa Syawal mendapatkan nilai yang sama dengan puasa selama setahun.
Dikutip dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII oleh H. Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, keutamaan tersebut dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw berikut ini:
'An Abī Ayyüb Al-Anşāriyyi radiyallahu 'anhu qāla anna rasūlallāhi şallallahu 'alaihi wa sallama qala man şāma ramadāna summa atba'ahu sittan min syawwālin kāna kaşiyāmid-dahri (rawāhu Muslim)
Artinya: Dari Abu Ayyub, Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa puasa dalam bulan Ramadhan, kemudian ia mengikutinya dengan puasa pula enam hari dalam bulan Syawal, adalah seperti puasa sepanjang masa." (HR. Muslim)
ADVERTISEMENT
Tentu hal itu sangat sayang untuk dilewatkan. Mengingat sebelumnya umat Islam sudah banyak mengumpulkan amalan di bulan Ramadhan, mulai dari berpuasa menahan segala hawa nafsu, shalat tarawih, membaca Al-Qur'an, hingga menunaikan zakat fitrah.
Bagaimana tata cara pelaksanaan puasa Syawal yang benar? Simak penjelasannya berikut ini.
Tata Cara Puasa Syawal 6 Hari
Sebagaimana disebutkan di atas, setelah berpuasa di bulan Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal akan mendapat pahala sama dengan berpuasa satu tahun. Mengenai apakah pelaksanaan puasa Syawal selama enam hari ini boleh dikerjakan berurutan atau tidak, sejumlah ulama memiliki perbedaan pendapat.
Menukil buku Hadzihi Ajwibati Fi Masa'ili Ummatin Nabi (inilah jawabanku di dalam permasalahan permasalahan ummat Nabi) oleh Amrullah Samman, pendapat pertama dari Imam Ahmad bin Hanbal. Menurut beliau puasa Syawal boleh dikerjakan langsung setelah Lebaran dan berurutan atau terpisah-pisah asal masih dalam bulan Syawal.
ADVERTISEMENT
Pendapat kedua dari Imam Hanafi dan Syafi'i yang mengatakan bahwa puasa Syawal lebih utama dikerjakan secara langsung setelah Idul Fitri dan berurutan dari 2-7 Syawal. Karena itulah muncul istilah Lebaran ketupat di tanggal 8 Syawal sebagai Lebaran bagi mereka yang berpuasa di awal bulan Syawal.
Dan pendapat terakhir dari Imam Malik yang justru menganggap puasa Syawal hukumnya makruh. Sebab, dikhawatirkan orang awam akan menganggap puasa ini sebagai bagian dari puasa Ramadhan.
Dari ketiga pendapat ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa Syawal hukumnya sunnah. Umat Muslim boleh mengerjakan enam hari tersebut secara terpisah asalkan masih dalam bulan Syawal.
Bacaan Niat Puasa Syawal
Sama seperti pelaksanaan ibadah puasa lainnya, puasa Syawal juga harus diawali dengan niat. Berikut bacaan niat puasa Syawal yang dinukil dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII :
ADVERTISEMENT
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِي شَهْرِ الشَّوَالِ سُنَةً لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma gadin fi syahrisy-syawwāli sunnatan lillāhi ta 'ala
Artinya: Saya niat puasa besok pada bulan Syawal sunnah karena Allah Ta'ala.
Niat puasa Syawal sebaiknya dibaca di malam hari sebelumnya. Namun jika lupa, boleh dilakukan di pagi hari sampai waktu Dzuhur asalkan belum makan dan minum hingga waktu tersebut. Segera baca niat dan berpuasa hingga Maghrib.
(ELR)