Konten Media Partner

Cegah Bullying di Sekolah, Guru di Surabaya Dibekali Pembelajaran Anti Kekerasan

13 Maret 2025 14:55 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh. Foto: Diskominfo Surabaya
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh. Foto: Diskominfo Surabaya
ADVERTISEMENT
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) bakal melakukan peningkatan kompetensi guru di tahun 2025. Di antaranya memberikan pelatihan pembelajaran anti kekerasan hingga pelatihan Artificial Intelligence (AI) dan coding.
ADVERTISEMENT
Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh menyebutkan, pelatihan pembelajaran anti kekerasan adalah bagian dari strategi Dispendik Surabaya untuk mencegah adanya aksi kekerasan hingga bullying di lingkungan sekolah. Maka dari itu, dengan adanya pelatihan tersebut, guru akan mengetahui batas-batasan bentuk kekerasan verbal maupun secara fisik.
“Jadi nanti ada strategi bagaimana caranya agar tidak sampai terjadi kekerasan terhadap anak-anak. Nah, batasan-batasan itu nantinya juga harus disampaikan (oleh guru) kepada anak-anak,” kata Yusuf, Kamis (13/3).
Yusuf menerangkan, selain pelatihan anti kekerasan, Dispendik Surabaya juga akan menerapkan pembelajaran kebangsaan di sekolah. Tujuannya, yaitu untuk membentuk karakter anak menjadi lebih mandiri dan disiplin.
“Sekolah kebangsaan nanti mudah-mudahan muatan lokalnya (Mulok) segera kita rumuskan soalnya sangat penting ya, bagaimana membentuk karakter anak-anak ini mempunyai jiwa-jiwa yang mandiri, loyal, dan nasionalis. Kalau anak itu karakternya bagus ya insyaallah yang lain-lainnya akan mengikuti,” terangnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Yusuf menjelaskan, pelatihan pembelajaran AI dan Coding untuk guru sudah berjalan. Bahkan, pembelajaran tersebut sudah sampai ke tenaga pendidik PAUD.
“Jadi pembelajaran ini sudah mulai kita kenalkan mulai PAUD, nah itu sudah kita siapkan simulasinya. Misalnya menggunakan cara enumerasi atau simulasi, kalau dahulu coding itu kan identik dengan programer untuk saat ini nggak bisa, karena kita bekerja perlu pengcodingan pengelompokan, misal dalam mengerjakan soal,” jelasnya.
Rencananya, Yusuf menambahkan, pelatihan pembelajaran anti kekerasan dan pelatihan pembelajaran AI dan Coding, serta penerapan sekolah kebangsaan, akan melibatkan akademisi.
“Kalau rumusan-rumusannya nanti semua akan melibatkan akademisi, biar nanti gambaran kami bisa menyesuaikan kebutuhan guru,” pungkasnya.