Konten Media Partner

Dokter Jantung Ungkap Faktor Risiko di Balik Meninggalnya Bejo Sugiantoro

8 Maret 2025 5:57 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Meity Ardiana Sp JP(K) FIHA FICA FAsCC. Foto: Dok.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Meity Ardiana Sp JP(K) FIHA FICA FAsCC. Foto: Dok.pribadi
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu lalu dunia sepak bola Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya sang legenda Bejo Sugiantoro. Mantan pesepakbola Persebaya tersebut meninggal usai tidak sadarkan diri saat bermain sepak bola. Diduga, pria kelahiran Sidoarjo itu meninggal akibat serangan jantung.
ADVERTISEMENT
Kabar meninggalnya atlet saat melakukan aktivitas olahraga telah beberapa kali terjadi. Walaupun memiliki intensitas olahraga yang tinggi, ternyata atlet tidak terlepas dari risiko terkena serangan jantung. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Meity Ardiana Sp JP(K) FIHA FICA FAsCC memberikan tanggapannya soal ini.
Menurut Meity, kematian akibat masalah jantung itu dibagi menjadi dua. Pertama adalah serangan jantung (heart attack) akibat penyempitan pembuluh darah jantung. Kedua adalah gangguan irama jantung (sindrom brugada) karena adanya penyumbatan pembuluh darah koroner secara tiba-tiba.
Terkait kasus meninggalnya Bejo yang notabene seorang mantan atlet, Meity menekankan pada faktor risiko.
“Kita harus melihat apakah Bejo punya faktor risiko apa tidak,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu, dalam keterangannya, seperti dikutip Basra, Sabtu (8/3).
ADVERTISEMENT
Menurutnya, Bejo yang berusia 47 tahun bisa berpotensi memiliki faktor risiko yang mendorong terjadinya serangan jantung. Misalnya diabetes, hipertensi, perokok aktif, dan lain-lain.
Meity juga menjelaskan terkait penanganan yang tepat jika terjadi hal serupa.
“Kita tidak tahu diagnosis pasien itu. Sebenarnya yang harus kita lakukan adalah kita segera mencari pertolongan untuk pasien. Jadi lakukan pemeriksaan di IGD, jangan sampai membuang waktu,” paparnya.
Ia menekankan penting untuk mengenali faktor risiko diri akan terjadinya penyakit jantung. Jika memiliki penyakit diabetes, maka asupan gula harus terkontrol. Jika memiliki riwayat hipertensi, maka tekanan darah juga perlu diperhatikan.
“Masalah usia dan keturunan tidak bisa dimodifikasi. Tapi gaya hidup harus dijaga,” imbuhnya.
Screening kesehatan secara rutin juga krusial guna mengetahui kondisi diri. Terutama jika akan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi.
ADVERTISEMENT
“Ini penting dilakukan baik bagi orang awam maupun olahragawan,” pungkasnya.