Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten Media Partner
Kondisi Ekonomi Tidak Baik-baik Saja, Penting Kelola Keuangan Jelang Idulfitri
28 Maret 2025 8:08 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat cenderung menunjukkan perilaku konsumtif. Hal ini sebagai konsekuensi sosial dan budaya saat hari raya keagamaan tiba.
ADVERTISEMENT
Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi dr Sp A(K), memberikan tanggapannya terkait pengelolaan keuangan yang baik dan kondisi daya beli masyarakat sekarang.
“Daya beli masyarakat secara umum lebih rendah daripada hari raya (tahun) sebelumnya,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) itu, dalam keterangannya seperti dikutip Basra, Jumat (28/3).
Menurutnya, kondisi ekonomi makro saat ini sedang tidak baik. Ada banyak indikator penyebab, salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang sedang melemah.
Pada dasarnya, di setiap hari raya keagamaan apa pun, akan terjadi pengeluaran ekstra. Prinsip agar keuangan tetap terjaga adalah memastikan pengeluaran ekstra tersebut tidak lebih dari pendapatan ekstra kita. Jadi, penyesuaian antara pengeluaran dan pendapatan sangat krusial.
ADVERTISEMENT
“Kita harus mengubah mindset bahwa sesuatu yang konsumtif itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Jadi, secukupnya saja, tidak berlebihan,” ungkap Tika.
Ia juga menekankan pada pentingnya saving. Sebab, tidak ada yang tahu kondisi ekonomi pasca hari raya.
Adapun faktor yang mengarahkan kepada perilaku konsumtif salah satunya adalah tren media sosial. Pemenuhan gaya hidup untuk kebutuhan sosial menjadi pemicu tingginya tingkat konsumtif menjelang hari raya. Di titik ini biasanya masyarakat cenderung tidak dapat membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan sekadar keinginan.
“Saya belum melihat adanya gerakan untuk memberi literasi keuangan bagi generasi sekarang,” kata Tika.
Menurutnya, kebijakan yang bersifat tersegmentasi berdasarkan usia penting dilakukan. Misalnya bagi generasi milenial dan Z, masyarakat dapat menggandeng influencer untuk memberikan edukasi keuangan lewat media sosial.
ADVERTISEMENT
Lalu, edukasi lewat kajian juga dapat dilakukan. Maraknya kajian di bulan Ramadan dapat dimanfaatkan untuk membahas hal terkait muamalah. Selain itu, pemerintah juga dapat menghadirkan tawaran fasilitas atau produk keuangan yang mendorong pada produktivitas masyarakat.
“Jangan menggampangkan kondisi keuangan hari ini. Sebab, kondisi keuangan sedang tidak sebaik sebelumnya. Kita lihat saja IHSG sudah turun signifikan. Jadi sudah banyak sinyal-sinyal yang membuat kita harus aware dengan dana yang kita pegang,” pungkas Tika.