Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Etika Profesi di Kalangan Gen Z: Profesional Atau Hanya Sekadar FOMO?
10 Maret 2025 14:55 WIB
·
waktu baca 6 menitTulisan dari Celine Ester manao tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Generasi Z telah memulai transisinya ke tenaga kerja produktif. Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia (Kemnaker RI) telah mengakui bahwa generasi ini telah memulai partisipasi dalam bidang ketenagakerjaan tingkat lanjut. Menurut data yang diberikan oleh Kemnaker, 52% Generasi Z terwakili dalam angkatan kerja, khususnya dalam demografis usia 15 hingga 30 tahun. Informasi ini bersumber dari rri.co.id. Mereka berkembang dalam era digital, di mana mereka menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang cepat, platform media sosial, dan penyebaran informasi. Generasi Z menunjukkan karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya, sehingga memperkenalkan perspektif baru mengenai profesionalisme dan etika kerja. Mereka diakui karena kemampuan inovatif mereka, kemampuan beradaptasi terhadap kemajuan teknologi, dan tingkat kesadaran sosial yang relatif tinggi.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, dalam konteks transformasi yang cepat dan persaingan yang meningkat di pasar tenaga kerja, hambatan signifikan yang berkaitan dengan etika profesi muncul. Gen Z harus menyadari bahwa profesionalisme tidak hanya mencakup kompetensi teknis atau produktivitas, tetapi juga mencakup prinsip-prinsip integritas, akuntabilitas, dan dedikasi terhadap nilai-nilai etika.
Etika Profesi dan Profesionalisme
Etika Profesi merupakan seperangkat nilai dan prinsip yang mengatur perilaku seseorang dalam menjalankan pekerjaan atau profesinya. Etika profesi merujuk pada prinsip dan nilai yang mengatur perilaku individu dalam dunia kerja. Etika ini mencakup kejujuran, tanggung jawab, loyalitas, disiplin , serta penghormatan terhadap aturan dan standar profesional yang berlaku dalam suatu bidang pekerjaan. Etika profesi mencerminkan moralitas dan kesadaran individu dalam berperilaku secara etis di tempat kerja. Oleh karena itu dalam dunia kerja yang semakin kompleks, etika profesi menjadi semakin penting, terutama ketika teknologi dan media sosial telah mempengaruhi suatu individu berinteraksi dan bekerja. Profesionalisme merujuk pada sikap, perilaku dan standar yang diharapkan dari individu yang bekerja dalam suatu profesi. Profesionalisme mencakup pada komitmen terhadap kualitas kerja, integritas, tanggung jawab, dan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Seorang individu yang profesional akan memenuhi tugasnya dengan baik, juga menjunjung tinggi prinsip profesionalisme dan berkontribusi terhadap lingkungan kerja yang sehat.
ADVERTISEMENT
Konsep profesionalisme dan etika profesional saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Profesionalisme menetapkan kerangka dasar bagi individu untuk terlibat dalam perilaku yang selaras dengan standar etika. Seseorang yang menunjukkan profesionalisme cenderung menunjukkan sisi positif dan memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk mematuhi kode etik yang berlaku dalam profesi mereka . Baik profesionalisme dan etika profesi mewakili dua dimensi penting dalam ranah keterlibatan pekerjaan. Elemen-elemen ini tidak hanya meningkatkan satu sama lain tetapi juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi keberhasilan individu saat mereka memenuhi kewajiban dan tanggung jawab mereka.
Karakteristik Generasi Z dalam Dunia Kerja
Generasi Z memiliki ciri-ciri khas yang membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Kelompok ini ditandai dengan konektivitas tingkat tinggi, difasilitasi akses informasi yang luas dan memungkinkan komunikasi instan. Generasi Z juga dikenal karena pemikiran kritis dan prinsip-prinsip berbasis nilai. Mereka menunjukkan pengawasan yang tinggi terhadap kebijakan perusahaan dan cenderung mengejar peluang kerja yang beresonansi dengan nilai-nilai pribadi mereka, seperti keberlanjutan, inklusivitas, dan keseimbangan kehidupan kerja. Generasi ini memberikan keunggulan pada fleksibilitas di tempat kerja, mencakup jam kerja yang dapat disesuaikan dan otonomi dalam penjadwalan. Selanjutnya, Generasi Z diidentifikasi sebagai generasi yang paling sensitif terhadap stres, mengarahkan mereka untuk mencari organisasi yang memprioritaskan kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.
ADVERTISEMENT
Budaya digital yang mendominasi kehidupan Generasi Z membuat mereka rentan terhadap fenomena FOMO (takut ketinggalan), terutama mengenai peluang perkembangan dan keterlibatan sosial dalam bidang profesional. Mereka bercita-cita untuk memproyeksikan citra kesuksesan, tetap mengikuti tren pekerjaan saat ini, dan mencapai validasi sosial. Dinamika ini dapat mempengaruhi kepatuhan mereka terhadap standar etika profesional di tempat kerja.
FOMO dan Profesional dalam Berkarier di Kalangan Gen Z
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dalam lingkungan profesional berkaitan dengan kekhawatiran tertinggal dalam lintasan karier seseorang, akses ke peluang, atau keselarasan dengan tren industri yang berlaku. Respons psikologis ini diperburuk oleh jangkauan luas platform komunikasi, terutama dalam konteks media sosial seperti LinkedIn, TikTok, dan Instagram. Platform ini memfasilitasi lingkungan di mana individu dapat dengan bebas menyebarkan prestasi profesional mereka, termasuk kemajuan seperti promosi pekerjaan, sertifikasi yang baru diperoleh, atau pencapaian posisi yang didambakan. Akibatnya, individu yang membaca postingan ini mungkin mengalami perasaan tidak memadai atau kecemasan yang terkait dengan kehilangan kompetensi yang muncul atau prospek pekerjaan yang lebih menarik.
ADVERTISEMENT
Gen Z dikenal sebagai generasi yang adaptif, kreatif, dan melek teknologi. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap perubahan dan inovasi, yang bisa menjadi aset berharga di tempat kerja. Selain itu, mereka sering kali memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, seperti isu sosial atau lingkungan. Namun, Gen Z juga dihadapkan pada tantangan seperti kurangnya pengalaman kerja jangka panjang dan kecenderungan untuk mencari kepuasan instan. Hal ini bisa membuat mereka kurang sabar dalam membangun karier secara bertahap. Selain itu, tekanan dari FOMO dapat mengganggu fokus mereka pada pengembangan keterampilan yang mendalam.
FOMO dapat mempengaruhi profesionalisme seseorang dalam berkarier. FOMO yang berlebihan dapat membuat seseorang ketidakmampuan fokus pada pengembangan keterampilan mendalam. Gen Z sering terpapar informasi dari media sosial yang membuat mereka ingin selalu terlibat dalam berbagai tren atau aktivitas. Ini bisa mengalihkan fokus mereka dari pembelajaran mendalam terhadap satu keterampilan tertentu. Karena ingin mencoba banyak hal sekaligus, mereka cenderung belajar secara dangkal tanpa benar-benar menguasai satu bidang dengan baik. Akibatnya, keterampilan yang dikembangkan sering kali tidak solid. FOMO dapat mempengaruhi pengambilan keputusan yang impulsif dalam berkarier, seseorang akan ingin terlibat dalam berbagai proyek sekaligus karena takut kehilangan peluang. Akibatnya ia bisa kehilangan fokus dan hasil kerja menjadi kurang maksimal. Profesionalisme menuntut ketahanan dan konsistensi. Namun, FOMO bisa membuat gen Z menginginkan hasil instan,sehingga mereka kurang sabar dalam membangun keterampilan dan pengalaman yang diperlukan dalam jangka panjang. Hal ini dapat memicu praktik-praktik curang demi mendapatkan hasil yang instan. Fomo juga bisa membuat seseorang menerima terlalu banyak tugas atau proyek karena takut kehilangan kesempatan, yang akhirnya bisa menurunkan kualitas pekerjaan dan menyebabkan kelelahan (bornout). FOMO mendorong Gen Z untuk terus mencari peluang baru, sementara profesionalisme membutuhkan komitmen dan fokus. Misalnya, keinginan resign karena FOMO bisa bertentangan dengan loyalitas atau pengembangan karier jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Untuk sukses dalam berkarier, Gen Z perlu menemukan keseimbangan dan menjadikan FOMO sebagai motivasi dan mempertahankan sikap profesional yang konsisten. Gen Z juga perlu memahami bahwa kesuksesan bukan tentang selalu mengikuti tren, tetapi tentang membangun karier yang kokoh dan berintegritas. Peran dari perusahaan juga penting dalam menyeimbangkan FOMO dengan profesionalisme, seperti memberikan apresiasi terhadap pekerja yang benar-benar menunjukkan profesionalitas dibandingkan dengan mereka yang hanya terlihat sukses di permukaan.
Gen Z membawa perubahan besar dalam dunia kerja dengan pendekatan yang lebih fleksibel, digital, dan berorientasi pada nilai-nilai keberlanjutan. Namun, mereka juga menghadapi tantangan besar terkait dengan etika profesi.
Fenomena FOMO dapat membuat mereka lebih fokus pada tampilan luar dibandingkan dengan profesionalisme yang sejati. Oleh karena itu, penting bagi individu, perusahaan, dan institusi pendidikan untuk memastikan bahwa Gen Z tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi juga benar-benar memahami dan menerapkan etika profesi dalam dunia kerja. Profesionalisme bukan tentang terlihat sukses di media sosial, tetapi tentang bagaimana seseorang bekerja dengan integritas, tanggung jawab, dan komitmen yang kuat terhadap profesinya.
ADVERTISEMENT
Celine Ester Manao, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unika Santo Thomas Medan