Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Analisis Psikologis di Balik Pro-Kontra Program Makan Bergizi Gratis
10 Maret 2025 16:08 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Cut Shofi Chalsa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Program Makan Gizi Gratis adalah program yang dipelopori oleh pemerintahan Prabowo Subianto pada tahun 2025. Tujuan program ini adalah untuk menyediakan makanan siang gratis di sekolah-sekolah untuk anak-anak di seluruh Indonesia dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan kecerdasan generasi muda serta mengurangi angka stunting di Indonesia guna mencapai generasi yang unggul dan sejahtera.
ADVERTISEMENT
Namun, sejak menjadi rencana bahkan ketika sudah direalisasikan, program makan siang gratis ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat yang mempertanyakan sejauh mana efektivitas dan urgensinya dalam mendukung pembangunan Indonesia secara menyeluruh. Sebagian pihak menyambut baik langkah ini, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya. Berbagai komentar pro-kontra bertebaran pada masyarakat luas. Beragam cuitan, konten serta artikel tersebar luas di media sosial untuk membahas program ini. Bahkan, berbagai lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, siswa, hingga para pengamat politik, turut mengangkat isu ini dalam diskusi publik, menilai apakah langkah ini benar-benar memberikan dampak positif atau justru hanya menjadi solusi sementara tanpa melihat permasalahan yang lebih besar dalam sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan.
ADVERTISEMENT
Saat ini, banyak masyarakat membandingkan urgensi program makan siang gratis dengan upaya pembangunan dan pemerataan pendidikan. Sebagian berpendapat bahwa pemerintah kurang memahami esensi kemajuan suatu negara, yang seharusnya bertumpu pada sistem pendidikan yang kuat dan berkualitas. Bagi mereka, program makan bergizi gratis bukanlah prioritas utama dibandingkan dengan peningkatan akses dan mutu pendidikan.
Dari perspektif psikologis, Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi pemerintah memiliki hubungan erat dengan teori Hierarki Kebutuhan Maslow serta teori Motivasi dalam Self-Determination Theory (SDT). Program ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas pendidikan dan perkembangan kognitif mereka.
Dalam teori Hierarki Kebutuhan Maslow, kebutuhan fisiologis seperti makanan dan nutrisi yang cukup merupakan fondasi utama sebelum individu dapat memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, seperti rasa aman, hubungan sosial, dan pencapaian akademik. Anak-anak yang mengalami kelaparan atau kurang gizi cenderung mengalami gangguan konsentrasi, kelelahan, serta penurunan fungsi kognitif yang pada akhirnya menghambat proses belajar. Dengan adanya program makan siang bergizi, hambatan ini dapat dikurangi, memungkinkan siswa untuk lebih fokus, aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan memiliki energi yang cukup untuk berpartisipasi dalam aktivitas sekolah.
ADVERTISEMENT
Selain itu, dari sudut pandang Self-Determination Theory (SDT), pemenuhan kebutuhan fisiologis juga berperan dalam meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Ketika kebutuhan dasar mereka terpenuhi, anak-anak akan lebih termotivasi untuk belajar karena merasa lebih nyaman dan siap secara fisik maupun mental. Dengan kata lain, program ini tidak hanya sekadar menyediakan makanan gratis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendukung pengembangan potensi akademik dan kesejahteraan psikologis anak-anak di sekolah.
Namun, motivasi ekstrinsik juga memainkan peran penting dalam efektivitas program ini. Dalam SDT, motivasi ekstrinsik mengacu pada dorongan yang berasal dari faktor eksternal, seperti penghargaan, tekanan sosial, atau insentif tertentu. Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis, terdapat beberapa bentuk motivasi ekstrinsik yang dapat muncul, antara lain:
ADVERTISEMENT
1. Eksternal Regulation – Siswa datang ke sekolah hanya karena adanya makanan gratis, bukan karena ingin belajar. Ini merupakan bentuk motivasi yang paling dasar, di mana perilaku dipengaruhi oleh faktor luar.
2. Introjected Regulation – Anak-anak mungkin menghadiri sekolah bukan hanya karena makanan gratis, tetapi juga karena adanya dorongan sosial dari orang tua, guru, atau teman sebaya. Mereka merasa berkewajiban untuk hadir agar tidak dianggap malas atau tidak bertanggung jawab.
3. Identified Regulation – Pada tahap ini, siswa mulai menyadari bahwa hadir di sekolah bukan hanya tentang mendapatkan makan siang, tetapi juga penting untuk masa depan mereka. Mereka mulai melihat nilai dari pendidikan dan lebih aktif berpartisipasi dalam proses belajar.
ADVERTISEMENT
4. Integrated Regulation – Motivasi ekstrinsik akhirnya berkembang menjadi bagian dari nilai dan identitas pribadi siswa. Mereka tidak lagi datang ke sekolah hanya karena makanan gratis atau tekanan sosial, tetapi karena mereka sepenuhnya memahami pentingnya pendidikan dan merasa bertanggung jawab atas perkembangan diri mereka.
Program Makan Siang Gratis memberikan kontribusi penting dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis anak-anak, yang merupakan fondasi dalam teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar ini, anak-anak dapat lebih fokus pada pencapaian kebutuhan tingkat lebih tinggi seperti pendidikan dan prestasi akademik. Dari perspektif Self-Determination Theory (SDT), program ini mendukung motivasi intrinsik anak-anak dengan memberikan kenyamanan fisik dan mental yang mendorong mereka untuk belajar lebih baik, serta motivasi ekstrinsik yang berasal dari pemenuhan kebutuhan sosial dan dukungan eksternal. Secara keseluruhan, program ini tidak hanya berperan dalam menciptakan kondisi fisik yang sehat, tetapi juga mempengaruhi perkembangan akademik dan kesejahteraan psikologis anak.
ADVERTISEMENT
Jika ditelaah lebih lanjut, apakah program ini lebih penting dari pendidikan? Jika dilihat dari jangka pendek, makan siang gratis bisa memberikan dampak langsung, seperti meningkatkan angka kehadiran sekolah dan mencegah kelaparan. Namun, dalam jangka panjang, pemerataan pendidikan jauh lebih penting untuk membangun SDM yang kompetitif dan mandiri. Solusi yang lebih ideal adalah mengombinasikan kedua program ini dengan strategi yang lebih terarah karena program makan bergizi gratis sebenarnya dapat berjalan seiring dengan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Mengingat Indonesia diproyeksikan menghadapi puncak bonus demografi pada tahun 2045, investasi pada kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama pembangunan bangsa. Program ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan pangan anak-anak sekolah, tetapi juga berkontribusi langsung pada perkembangan kognitif, daya konsentrasi, serta peningkatan performa akademik mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan asupan gizi yang cukup memiliki kemampuan belajar yang lebih baik dibandingkan mereka yang mengalami kekurangan nutrisi. Dengan demikian, program ini dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju Indonesia Emas, di mana pendidikan yang berkualitas dan pemenuhan gizi yang memadai berjalan beriringan untuk menciptakan generasi yang lebih unggul.
ADVERTISEMENT
Cut Shofi Chalsa, Mahasiswi Psikologi, Universitas Syiah Kuala.