Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Pengaruh Media Sosial terhadap Kehidupan Manusia Dilihat dari Kacamata Filsafat
4 April 2025 16:35 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Dalida Yahwe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Media sosial saat ini telah menjadi bagian tidak akan pernah terpisahkan dari kehidupan manusia yang modern, ini sangat mempengaruhi berbagai aspek seperti dalam komunikasi, budaya, dan interaksi sosial di masyarakat. Dalam kacamata filsafat, media sosial dapat dilihat sebagai suatu fenomena yang mengubah cara pandang manusia untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia yang ada di sekitarnya. Platform yang ada saat ini seperti Instagram, Tiktok, dan X memungkinkan individu untuk mampu berkomunikasi tanpa adanya batasan waktu dan jarak. Hal ini akan menciptakan sebuah koneksi global yang sebelumnya tidak terbayangkan. Namun, kemudahan ini membawa berbagai tantangan filosofis, seperti munculnya pertanyaan tentang kemurnian suatu hubungan yang dibangun secara digital daripada hubungan dengan interaksi langsung. Selain itu, media sosial menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri yang sering kali dipengaruhi oleh adanya standar sosial yang ditampilkan secara masif, yang memunculkan dilema tentang identitas dan tekanan sosial.
ADVERTISEMENT
Dilihat dari perspektif filsafat etika, media sosial juga menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai suatu tanggung jawab moral pengguna media sosial dalam menyebarkan informasi saat ini. Penyebaran berita palsu atau hoaks menjadi salah satu dari dampak negatif yang signifikan, yang dapat memicu kebingungan dan konflik di masyarakat. Selain itu, adanya anonimitas di media sosial sering kali mendorong perilaku seperti perundungan siber (cyberbullying), yang dapat berdampak serius pada kesehatan mental korban. Dikaji dalam diskusi filsafat, fenomena ini akan banyak mengundang refleksi tentang bagaimana teknologi mempengaruhi nilai-nilai dasar manusia seperti adanya empati, privasi, dan sebuah keadilan. Maka dari itu, media sosial bukan hanya alat komunikasi tetapi juga ruang filosofis yang kompleks untuk memahami adanya sebuah perubahan budaya dan moral di era digital.
ADVERTISEMENT
Media sosial telah mengubah cara manusia berinteraksi dan berkomunikasi secara signifikan. Salah satu dampak positif yang paling mencolok adalah kemudahan untuk menjalin koneksi antar manusia. Platform seperti Tiktok, Instagram, dan X juga memungkinkan individu untuk terhubung dengan teman, keluarga, atau bahkan orang asing dari berbagai belahan dunia tanpa adanya sebuah batasan jarak dan waktu. Ini akan memperluas jaringan sosial di masyarakat dan menciptakan komunitas virtual di mana orang-orang dapat berbagi sebuah pengalaman, ide, dan informasi secara cepat dan praktis. Hal ini juga menyebabkan media sosial berfungsi sebagai alat yang memperkuat hubungan sosial dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu global.
Di balik banyaknya manfaat tersebut, ada pula dampak negatif yang tidak bisa dihindari. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan keterasingan, yang di mana individu lebih memilih untuk berinteraksi secara virtual daripada secara langsung. Hal ini akan mengurangi kualitas interaksi tatap muka yang sangat penting untuk perkembangan keterampilan sosial. Dengan kata lain, meskipun media sosial menawarkan banyak keuntungan dalam hal komunikasi dan konektivitas, namun, ia juga membawa berbagai tantangan baru yang mempengaruhi dinamika interaksi sosial di dunia nyata.
ADVERTISEMENT
Penggunaan media sosial yang berlebihan akan membawa banyak dampak negatif pada kesehatan mental individu, terutama di kalangan remaja saat ini. Penelitian menunjukkan bahwa paparan yang terjadi terus-menerus terhadap kehidupan kesempurnaan yang ditampilkan di platform media sosial akan memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Hal ini akan berujung pada kecemasan dan timbulnya depresi. Saat pengguna merasa tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan oleh orang lain di media sosial, mereka dapat mengalami perasaan rendah diri, ketidak percayaan, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Selain itu, fenomena "Fear of Missing Out" (FoMO) juga sering muncul, di mana individu merasa terasingkan ketika melihat teman-teman mereka berinteraksi secara aktif, yang dapat meningkatkan rasa kesepian dan keterasingan. Selain itu meningkatnya risiko cyberbullying, di mana pengguna anonim dapat melakukan pelecehan secara online tanpa konsekuensi langsung. Hal ini dapat menyebabkan gangguan emosional yang serius bagi korban. Penelitian dari JAMA Psychiatry menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental. Dengan begitu, penting bagi remaja untuk memahami hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental agar individu dapat menggunakan platform ini dengan bijak dan seimbang.
ADVERTISEMENT
Media sosial telah menjadi ruang utama komunikasi di era digital, tetapi penggunaannya seringkali menimbulkan sebuah masalah etis terkait adanya penyebaran informasi. Tanggung jawab etis pengguna media sosial mencakup kewajiban untuk mampu menyaring informasi sebelum membagikannya, mereka harus bisa memastikan bahwa konten yang disebarkan tidak mengandung hoaks, ujaran kebencian, atau merugikan orang lain. Perspektif filsafat, seperti deontologi Immanuel Kant, menekankan pentingnya "kehendak baik" dalam tindakan manusia, termasuk di media sosial. Dalam hal ini, pengguna memiliki kewajiban moral untuk bertindak secara benar dan bertanggung jawab demi menjaga harmoni sosial dan menghindari kerusakan akibat informasi yang kurang valid dan berbahaya.
Pertimbangan moral terkait sebuah privasi dan keamanan data juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam bermedia sosial. Konten yang ada saat ini seringkali melibatkan banyak data pribadi yang memicu penyalahgunaan jika tidak dikelola dengan bijak. Pengguna perlu memahami bahwa tindakan mereka di media sosial memiliki pengaruh dan dampak sosial yang lebih luas, baik untuk individu maupun komunitas. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap etika komunikasi akan memicu konflik sosial, pelecehan online, dan kerancuan informasi.
ADVERTISEMENT
Saat ini penting bagi kita untuk merenungkan implikasi penggunaan media terhadap hubungan antar manusia. Kemudahan yang ditawarkan media sosial dalam berkomunikasi saat ini perlu kita saring dan tinjau kembali, karena banyaknya dampak negatif yang diakibatkan dari penggunaan media sosial. Perlu adanya kesadaran bagaimana cara berinteraksi di media sosial. Dengan memahami dampak media sosial secara menyeluruh dari aspek filsafat etika dan psikologis manusia, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih bijak dalam menggunakannya. Edukasi tentang etika bermedia sosial dan kesadaran akan privasi serta keamanan data harus menjadi prioritas bagi setiap pengguna. Mari kita gunakan media sosial sebagai alat untuk memperkuat hubungan dan berbagi informasi yang positif, sambil tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi langsung dengan orang-orang di sekitar kita.
ADVERTISEMENT
Referensi:
Copeland, W. E., Wolke, D., Angold, A., & Costello, E. J. (2013). Adult psychiatric outcomes of bullying and being bullied by peers in childhood and adolescence. JAMA psychiatry, 70(4), 419-426.
Dinarti, N. S., Salsabila, S. R., & Herlambang, Y. T. (2024). Dilema Etika dan Moral dalam Era Digital: Pendekatan Aksiologi Teknologi terhadap Privasi Keamanan, dan Kejahatan Siber. Daya Nasional: Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 8-16.