Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Tradisi Baju Baru Untuk Lebaran, Apakah Harus?
4 April 2025 16:56 WIB
·
waktu baca 6 menitTulisan dari Edvian Ferdhika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Idul Fitri merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu hampir seluruh umat islam setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Selain sebagai penanda lepasnya kewajiban menahan lapar dan minum dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, hari raya Idul Fitri menjadi sarana silaturahmi dengan sanak keluarga dan kerabat di kampung halaman, nampak orang-orang menggunakan pakaian terbaiknya, bersolek penuh kilau dan cemerlang, berswafoto dengan gaya paling ciamik. Dalam suasana yang penuh kearifan dan kehangatan itu, saya merasa malah hampir menyerupai pagelaran piala Oscar, seolah mereka artis dan aktor hollywood yang mengenakan fesyen-fesyen glamor.
ADVERTISEMENT
Perayaan hari raya ini selalu identik dengan pakaian-pakaian baru yang menyilaukan sejak dari dahulu sampai sekarang. Hal tersebut dapat kita tilik lewat lirik lagu yang bergaung di era 1950-an, milik Ismail Marzuki berjudul Hari Lebaran. Dalam lirikya, “dari segala penjuru mengalir ke kota, rakyat desa berpakaian baru serba indah” lirik tersebut menggambarkan pemandangan hari lebaran yang ditandai dengan busana-busana baru yang dikenakan, baik oleh masyarakat desa maupun penduduk urban di kota. Lagu yang memotret kehidupan era 50-an ini, mengindikasikan bahwa tradisi busana baru di hari lebaran sudah dilakukan masyarakat Indonesia sebagai bentuk perayaan. Jauh sebelum itu, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Noto Susanto dalam bukunya berjudul Sejarah Nasional Indonesia mengatakan kalau tradisi tersebut bermula pada abad ke-16. Sampai saat ini saya kira tradisi itu tetap terjaga. Dapat kita amati melalui diskon-diskon harga dan promo menarik selalu dihadirkan menjelang hari raya Idul Fitri di berbagai macam departement store penyedianya. Menjelang hari raya, Mall dan toko-toko busana selalu dipadati pengunjung. Bukan hanya itu, bahkan di era tersedianya kanal belanja online seperti saat ini, baik penjualnya maupun penyedia jasa ekspedisi pengiriman barang selalu merasa kewalahan, karena meluapnya permintaan penjualan dan pengiriman.
ADVERTISEMENT
Demikian pula yang saya dan keluarga saya lakukan menjelang hari lebaran, aktivitas membeli pakaian baru sudah menjadi kewajiban bagi keluarga kami. Pantang dan kurang afdol rasanya jika di Idul Fitri tidak ada satu helai pakaian baru pun yang melekat di badan. Kalau tidak satu set, ya… setidaknya mungkin hanya satu potong saja, baik itu bagian bawahan atau mungkin atasannya saja yang baru, sudah bisa dikategorikan sebagai peserta hari raya, yang penting baru, hehe…
Pernah pada satu momen menjelang lebaran, saya meminta kepada orang tua saya, dana untuk membeli pakaian baru buat saya dialihkan saja untuk membeli buku bacaan baru. Dan alhamdulillah, bukanya buku baru yang didapat, malah saya dapat omelan menohok dari ibu, katanya, “Kamu ini gimana sih. Udah tau mau lebaran, masa beli buku?!, orang mah beli baju.” Mendengar itu, sedikit saya tersulut emosi dan bertanya dalam diri, apakah sebegitu pentinnya pakaian baru di hari raya? Seolah ibu bisa dengar pertanyaan saya, ia melanjutkan ocehannya, “Lebaran itu kita kembali Fitrah. Masa bajunya buluk, dekil?!” ujar ibu. Pernyataan itu tidak cukup menghapus pertanyaan di benak saya, malah saya semakin dahaga atas konsep Fitrah yang dibilang ibu. Apa itu Fitrah? Apa korelasi antara kembali ke Fitrah dengan pakaian baru? Dan, apa pakaiaan baru cukup menyimbolkan keadaan Fitrah?
ADVERTISEMENT
1. Apa itu Fitrah?
Untuk mengetahui hubungan antara pakaian baru dan keadaan fitrah, saya mencari tahu terlebih dahulu konsep dari fitrah itu sendiri. Sedikit yang saya ketahui tentang fitrah, dalam anggapan saya fitrah serupa konsep tabula rasa milik John Locke, soal lembaran kertas putih dan masih bersih sebagai analogi dari bayi yang baru dilahirkan. Fitrah dalam konsepsi pikiran saya merupakan esensi manusia yang suci, hanya sebatas itu. Akibat saya merasa kufur dan fakir, saya coba mengeksplorasi jawabannya di google sampai berlabuh ke jurnal-jurnal. Didapati, secara etimologi, Fitrah merujuk pada al-khilqah (naluri, pembawaan) dan al-thabȋ’ah (tabiat, watak, karakter) yang diciptakan Allah swt pada manusia (Assegaf, 1986). Dari pandangan di atas dapat dikatakan, kalau fitrah merupakan karakter, watak, atau tabiat bawaan yang alamiah pada diri manusia. Namun, pengertian tersebut kembali menimbulkan pertanyaan tentang apa yang menjadi sifat, karakter, tabiat, atau watak bawaan dalam diri manusia? Menurut Imam Al-Maraghi (dalam Azra, dkk, 2002), fitrah merupakan situasi saat Allah melakukan penciptaan manusia dan menghadapkannya kedalam kesiapan dan kebenaran untuk menggunakan pikiran. Lewat kutipan tersebut, terlintas dalam ingatan saya, kutipan Rene Descartes yang terkenal, “Cogito, Ergo Sum” (aku berfikir, maka aku ada) ternyata termasuk saat dimana manusia dalam kondisi fitrahnya. Lantas apa hubunganya keadaan yang fitrah dengan pakaian baru? Semua pendapat yang saya temukan semakin menggugurkan argumentasi ibu saya sendiri tentang konsep dan konstruksi fitrah miliknya, dan malah menguatkan niat saya untuk membeli buku bacaan yang baru dengan tujuan memperkaya khasanah pengetahuan dan tentu mengasah kognisi saya, yang esensinya hal tersebutlah yang merupakan keadaan fitrah berdasarkan pengertian dari Imam Al-Maraghi.
ADVERTISEMENT
2. Baju Baru Sebagai Simbolisasi Kembali ke Fitrah
Dari hasil penelusuran saya diatas, tidak serta merta melepaskan saya dalam situasi penuh pertanyaan ini. Kembali saya telusuri beberapa informasi dan didapati kalau memang terdapat beragam pengertian dari para ulama mengenai fitrah, diantaranya menurut Al-Auza’iy (dalam Pransiska, 2016) yang berpendapat kalau fitrah ialah kesucian (thuhr) dalam jasmani dan rohani. Dalam konteks pendidikan, kesucian yang dimaksud adalah kesucian manusia dari dosa waris, atau dosa asal. Ragam pengertian tersebut mengindikasikan kalau pengertian dari ibu saya tidak sepenuhnya salah, dan juga perspektif saya mengenai Fitrah tidaklah keliru. Melalu pengertian tersebut mencerahkan saya soal tradisi baju baru di hari raya Idul Fitri mungkin saja sebagai bentuk penghormatan dan perayaan kembalinya diri manusia kepada kesucian. Baju baru yang dikenakan dapat diinterpretasikan keadaan yang kembali fitrah. Lantas, apakah menjadi keharusan untuk mengenakan baju baru di hari lebaran?
ADVERTISEMENT
3. Haruskah Membeli Baju Baru Untuk Lebaran?
Dilansir dalam situs jatim.nu.or.id, menukil hadist riwayat Al-Baihaqi dan Al- Hakim mengenai pakaian yang dianjur dikenakan saat lebaran, sebagai berikut:
عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْعِيدَيْنِ أَنْ نَلْبِسَ أَجْوَدَ مَا نَجِدُ
Artinya:
Diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali RA, ia berkata, ‘Rasulullah SAW telah memerintahkan kami pada dua hari raya agar memakai pakaian terbaik yang kami temukan. (HR Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
Hadist tersebut menegaskan kalau adapun Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengenakan pakaian terbaik yang ditemukan, bukan pakaian baru. Jelas kalau, bukan suatu kewajiban dalam agama untuk membeli dan berbelanja pakaian baru untuk dikenakan pada saat hari raya Idul Fitri. Karena saya merasa memiliki banyak pakaian yang masih baik dan selama ini amat jarang saya kenakan tentu apa salahnya saya meminta agar dana untuk membeli pakaian baru dialokasikan untuk membeli buku baru, terlebih karena saya kehabisan stok buku bacaan. Pada akhirnya ibu membelikan baju baru untuk saya kenakan di hari raya Idul Fitri, selebihnya mungkin akan menambah koleksi baju saya yang jarang digunakan. Saya rasa apa yang diinginkan ibu merupakan suatu tindakan konsumtif yang berlebihan, cenderung mubadzir. Bukannya agama mengharamkan tindakan mubadzir?
ADVERTISEMENT
Semoga artikel ini dapat dibaca ibu sehingga ibu dapat bermuhasabah untuk membelikan saya buku baru di hari raya yang akan datang hehe… Dan semoga, artikel ini dapat mencerahkan para ibu dari kawan-kawan pembaca yang bernasib sama dengan saya
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga kita masuk golongan dari orang-orang yang kembali fitrah.