Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Dilema Ketupat di Idul Fitri: Saat Finansial Dikalahkan Tradisi
1 April 2025 12:46 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari erlangga putra ardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Setiap kali Idul Fitri tiba, aroma ketupat yang baru matang selalu membawa nostalgia dan kebahagiaan. Hidangan khas ini bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu, ketupat juga menjadi perekat kebersamaan di meja makan, menyatukan keluarga dalam suasana penuh suka cita.
Namun, di balik kehangatan tradisi ini, ada dilema yang terus menghantui, terutama bagi mereka yang harus menghadapi kenyataan finansial pasca bulan syawal.
Setelah bulan Ramadan berlalu, sisa-sisa pengeluaran besar masih terasa, meninggalkan banyak keluarga dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Kebutuhan selama puasa dan Lebaran tentu telah menguras tabungan, menghabiskan ribuan, puluhan bahkan jutaan rupiah demi terlaksananya perayaan yang meriah.
Di tengah tuntutan untuk tetap menjaga adat dan tradisi, sering kali perencanaan ekonomi diabaikan, membuat banyak orang terjebak dalam kesulitan finansial setelah hari raya usai.
Ketupat bukan hanya sekadar hidangan khas Lebaran, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Sayangnya, di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup yang semakin tinggi, menjaga tradisi ini bisa menjadi beban tersendiri.
ADVERTISEMENT
Banyak keluarga yang merasa harus tetap menyajikan ketupat dan lauk-pauknya, meskipun kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan.Harga beras, daging, santan, serta bahan pelengkap lainnya selalu mengalami lonjakan signifikan menjelang Lebaran.
Ditambah lagi dengan biaya pakaian baru, transportasi mudik, dan persiapan lainnya, pengeluaran menjadi semakin membengkak. Tak jarang, ada yang rela berhutang demi menjaga citra dan memenuhi ekspektasi sosial agar perayaan tetap terlihat sempurna.
Masyarakat kita memiliki anggapan bahwa Lebaran harus dirayakan dengan penuh kemewahan. Meja makan yang penuh dengan hidangan khas menjadi simbol keberhasilan dan kesejahteraan. Namun, apakah semua itu benar-benar perlu?
Bagi sebagian orang, memilih untuk tetap menjaga tradisi meskipun harus mengorbankan kestabilan keuangan bukanlah keputusan yang bijak.
ADVERTISEMENT
Ada pula yang mulai realistis dan beradaptasi dengan kondisi ekonomi mereka, seperti mengurangi jumlah hidangan, mencari alternatif bahan yang lebih murah, atau bahkan mengganti ketupat dengan makanan lain yang lebih terjangkau.
Namun, tekanan sosial sering kali membuat keputusan ini menjadi sulit. Rasa takut akan penilaian orang lain membuat banyak keluarga tetap memaksakan diri, meskipun mereka tahu konsekuensinya akan terasa setelah Lebaran usai.
Agar tradisi tetap berjalan tanpa menjadi beban berat, ada beberapa langkah yang bisa diambil:
ADVERTISEMENT
Dilema ketupat di Idul Fitri mencerminkan bagaimana tradisi dan tekanan sosial bisa berdampak pada kondisi finansial masyarakat. Sementara menjaga warisan budaya tetap penting, keseimbangan antara tradisi dan kestabilan ekonomi juga harus diperhatikan.
Dengan perencanaan yang baik dan sikap yang lebih bijak, perayaan Lebaran tetap bisa berlangsung dengan penuh kebahagiaan tanpa harus mengorbankan masa depan keuangan. Pada akhirnya, bukan ketupat yang membuat Lebaran bermakna, tetapi momen kebersamaan yang terjalin dalam kehangatan keluarga.