Konten dari Pengguna

Representasi Kekerasan Domestik dalam Konteks Cinta Midah Si Manis Bergigi Emas

Muhammad Fadilah Nur Rohman
Aktivis Forum Mahasiswa Ciputat dan Kader HMI Cabang Ciputat
8 Maret 2025 15:05 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Fadilah Nur Rohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Mengangkat tema emansipasi perempuan, Midah Si Manis Bergigi Emas lahir sebagai novel, karya sastra hasil dari ide pemikiran tokoh sang legendaris, Pramoedya Ananta Toer.
Sumber: Freepik, Ilustrasi kekerasan pada perempuan
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik, Ilustrasi kekerasan pada perempuan
Novel ini mengisahkan kehidupan seorang perempuan di tahun 1950-an. Melalui Midah Si Manis Bergigi Emas, Pram menggambarkan bahwa kompleksitas perempuan tidak rampung di era kolonial Hindia Belanda. Sebagaimana karya sastra lainnya yang mengangkat tema emansipasi perempuan, Gadis Pantai dalam ruang lingkup kehidupannya yang jelas dipengaruhi oleh kolonial Hindia Belanda.
ADVERTISEMENT
Midah sebagai tokoh utama dalam novel ini yang terperangkap oleh sistem sosial dan keluarga yang penuh tekanan. Konflik utama terjadi antara Midah dan dua tokoh penting dalam hidupnya: Haji Abdul, ayahnya yang bersikap keras dalam mengatur, serta Haji Tarbus, suaminya yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkannya.
Pola asuh yang keras dan penuh tekanan dari seorang ayah dapat membentuk karakter seorang anak dan mempengaruhi masa depannya. Haji Abdul sebagai ayah Midah memiliki karakter yang konservatif. Dia memiliki pandangan yang sangat ketat mengenai moralitas dan nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan agama.
Dalam mendidik Midah, Haji Abdul menerapkan prinsip yang sangat ketat, berharap anak perempuannya dapat mengikuti segala aturan yang ditentukan tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan emosional anaknya. Hal ini yang membuat Midah merasa hidup dalam lingkungan yang sangat membatasi kebebasan berekspresi.
ADVERTISEMENT
Ayahnya tidak memberi ruang bagi Midah untuk mengembangkan diri sesuai keinginan pribadi Midah sendiri. Melainkan memaksanya untuk mengikuti standar yang ditetapkan oleh tradisi dan keyakinan pribadinya. Akibat dari pola asuh yang ketat ini, Midah keliru memahami definisi cinta dari ayahnya sendiri.
Midah tidak pernah merasa dicintai oleh ayahnya, akibat karakter ayahnya yang terlalu memaksa dan menolak apa yang dijadikan Midah sebagai pilihan. Pola asuh yang alih-alih disebut kasih sayang namun ternyata hanya memikirkan apa yang ayahnya inginkan tanpa memikirkan apa yang anaknya inginkan, membuat Midah kehilangan rasa percaya diri, bahkan ia merasa tidak dihargai dan hanya dianggap sebagai objek yang harus patuh.
Kerasnya karakter Haji Abdul terhadap Midah menciptakan luka psikologis yang mendalam, yang akhirnya berpengaruh pada cara Midah memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya, terutama bagaimana cara Midah memandang keluarganya.
ADVERTISEMENT
Setelah menikah dengan Haji Tarbus, Midah dihadapkan pada kenyataan bahwa kehidupan yang Midah jalani saat itu bukanlah kehidupan yang Midah inginkan. Meskipun Haji Tarbus tidak sekeras Haji Abdul, Haji Tarbus yang menjadikan Midah sebagai istri bukan yang pertama berdampak buruk pada kehidupan Midah selanjutnya.
Suami yang seharusnya menyalurkan perhatian dan kasih sayang justru memperburuk keadaan. Midah sebagai perempuan yang pertama kali menjalani pernikahan. Haji Tarbus memperlakukan Midah dengan tidak memberikan perhatian yang cukup dan khusus terhadap kebutuhan batinnya sebagai perempuan dan pasangan. Walaupun pernikahan tersebut dilaksanakan secara sah. Haji Tarbus hanya melihat Midah sebagai objek biologis.
Sikap Haji Tarbus yang tidak memiliki kepedulian yang penuh membuat Midah merasa kehadirannya tidak dianggap sebagai istri sah. Dalam hubungan yang dilematis ini, Midah merasa kehilangan diri, terperangkap dalam situasi yang membuatnya ingin pergi dan keluar dari ruang lingkup tersebut.
ADVERTISEMENT
Tidak cukup sampai di situ. Lingkungan yang dialami Midah yang mengakibatkan Midah keluar mencari lingkungan yang baru. Midah bergabung dengan kumpulan pengamen keroncong dan mengalami perjalanan yang kompleks.
Momen ini yang kemudian Midah dijuluki si gigi emas, karenanya Midah mampu menggantikan posisi si Nini bergigi emas sebagai vokalis di kumpulan pengamen keroncong tersebut. Gigi emas ini yang menjadikan ikon seorang vokalis di kumpulan pengamen keroncong tersebut, menandakan dia yang memiliki suara yang merdu dan indah untuk didengar.
Melalui pergaulan pengamen keroncong tersebut Midah merasakan kebebasan berekspresi sebagaimana mestinya yang dia inginkan. Tidak melulu mengikuti irama shalawat yang berbau kearab-araban sesuai keinginan ayahnya dulu yang menganggap musik selain shalawat berbahasa arab dianggap haram karena berseberangan dengan agama dan tradisi islam.
ADVERTISEMENT
Setelah sekian lama hidup dalam tekanan dan pola asuh ayah yang ketat, ada momen di mana keluarga mulai menyadari bahwa perilaku ketat Haji Abdul dan ketidakpedulian sang suami Haji Tarbus merupakan faktor utama yang merusak mentalitas Midah.
Keluarganya menyadari bahwa tekanan yang mereka berikan pada Midah, melalui kontrol yang berlebihan dan ketat, telah menciptakan seorang perempuan yang rapuh, penuh rasa takut, dan kehilangan arah dalam hidupnya. Kesadaran ini menjadi bentuk refleksi bagi pihak keluarga Midah. Haji Abdul dan keluarga menyadari bahwa kekerasan dan kontrol ketat yang mereka terapkan kepada Midah justru menyebabkan kehancuran dalam diri Midah.
Penyesalan ini menandai pengakuan mereka atas peran mereka dalam membentuk kondisi Midah yang tertekan. Namun, meskipun timbul penyesalan, proses penyembuhan bagi Midah tidaklah mudah. Luka emosional dan psikologis yang ditinggalkan oleh pola asuh yang keliru ini sangat mendalam dan tidak dapat diperbaiki dalam waktu singkat.
ADVERTISEMENT
Kesadaran yang muncul dalam keluarga Midah akhirnya membuka kemungkinan untuk perubahan dalam hubungan antara keluarga dengan Midah, terutama ayah Midah sendiri. Pola asuh yang ketat dan penuh tekanan dapat berdampak negatif bagi perkembangan psikologis dan emosional anak.
Melalui novel ini, Pram mengkritik secara mendalam terhadap sistem sosial dan keluarga yang penuh tekanan serta mengingatkan peran orang tua untuk sadar akan pentingnya memberi ruang bagi anak, terlebih jika anak tersebut adalah seorang perempuan.
Pesan yang tidak tertulis dalam karya sastra tersebut adalah bahwasanya Pram menyampaikan betapa kuatnya pengaruh keluarga dan pola asuh terhadap perkembangan karakter dan kehidupan seseorang. Memberikan ruang kebebasan berekspresi terhadap anak sangat diperlukan untuk proses perkembangan anak dengan menyesuaikan kembali dan mempertimbangkan dengan kasih sayang, perhatian, dan pemahaman.
ADVERTISEMENT
Tanpa hal tersebut, anak akan merasa tertekan, kehilangan arah, dan cenderung menanggung luka emosional yang sulit untuk sembuh. Sebagaimana tokoh Midah yang diceritakan dalam novel di atas.