Konten dari Pengguna

Saling Gempur di Jalur Dagang: Amerika vs. Tiongkok, Siapa yang Akan Bertahan?

Faiz Ajhar Arundaya
The second year Bachelor of majoring in International Economics (IPIEF) at the Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
29 Maret 2025 11:52 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Faiz Ajhar Arundaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kontainer antara Amerika Serikat dan China. (Sumber: Freepik/kjpargeter).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kontainer antara Amerika Serikat dan China. (Sumber: Freepik/kjpargeter).
ADVERTISEMENT
Dunia perdagangan bergejolak, dengan Amerika Serikat dan Tiongkok terus mempertimbangkan strategi mereka dalam perang dagang yang penuh teka-teki dan kalkulasi ekonomi. Data terbaru dari Januari 2025 menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS mencapai $131,4 miliar yang naik signifikan dari $98,1 miliar pada Desember 2024 dan jauh melampaui proyeksi analis sebelumnya sebesar $127,4 miliar.
ADVERTISEMENT
Impor Amerika Serikat mencatat peningkatan tajam sebesar 10%, mencapai $401,2 miliar, disebabkan oleh berbagai barang, termasuk produk logam jadi senilai $20,5 miliar, persiapan farmasi senilai $5,2 miliar, dan komputer senilai $3 miliar. Tren ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat semakin bergantung pada barang manufaktur berat dan teknologi tinggi yang diimpor dari mitra dagang global. Sisi ekspor AS, sayangnya, tidak mampu mengejar ketertinggalan.
Ekspor total mencapai $269,8 miliar, dengan kenaikan hanya 1,2%. Salah satu komoditas dengan kenaikan terbesar adalah pesawat sipil, dengan kenaikan $1,1 miliar; komoditas berikutnya adalah persiapan farmasi, dengan kenaikan $0,8 miliar. Selain itu, perbedaan perdagangan AS dengan beberapa mitra terus meningkat, terutama dengan Tiongkok.
Perdagangan barang antara kedua negara mencatat defisit $-29,7 miliar, naik dari $-25,3 miliar pada Desember 2024. Uni Eropa juga mencatat pelebaran defisit dari $-20,4 miliar menjadi $-25,5 miliar. Sebaliknya, perdagangan dengan Swiss mengalami pergeseran yang signifikan dari defisit $-13 miliar menjadi $-22,8 miliar. Fenomena ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat sedang berada di posisi sulit di jalur perdagangan global. Peningkatan impor yang signifikan ini juga dapat disebabkan oleh persiapan sebelum tarif baru diberlakukan; bisnis berusaha mempersiapkan stok barang mereka sebelum biaya tambahan diberlakukan.
ADVERTISEMENT
Strategi Perdagangan dan Tantangan Geopolitik
Ketergantungan AS pada impor dari Tiongkok dan negara-negara Eropa menunjukkan bahwa, meskipun retorika politik Washington sering berbicara tentang "Kemandiran Ekonomi", kenyataannya rantai pasokan global terus memainkan peran dominan dalam roda ekonomi Paman Sam. Sementara itu, Tiongkok terus memperkuat posisinya sebagai pusat manufaktur dunia dengan teknologi tinggi dan infrastruktur perdagangan yang terintegrasi dengan banyak negara lain di dunia. Namun, Amerika Serikat juga menghadapi masalah geopolitik yang semakin kompleks. Ketika hubungan antara dua negara adidaya ini semakin memburuk, jalur perdagangan menjadi salah satu tempat paling panas di mana kekuatan ekonomi, diplomasi, dan kekuatan global bersaing. Jika Amerika Serikat tidak dapat mengimbangi neraca perdagangannya, posisi ekonominya mungkin menjadi lebih lemah dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Mencari Solusi: Perubahan atau Inovasi
Para ahli ekonomi meminta solusi yang lebih inventif di tengah kesulitan ini. Amerika Serikat harus meningkatkan produksi domestik, mendiversifikasi mitra dagang, dan berinvestasi dalam sektor teknologi dan energi hijau untuk mengurangi ketergantungannya pada impor, terutama dari Tiongkok. Langkah ini, bagaimanapun, tidak akan mudah. Reorganisasi ekonomi di dunia yang semakin terhubung membutuhkan waktu, sumber daya, dan stabilitas politik. Sementara itu, jika tarif terus diberlakukan, baik bisnis AS maupun pelanggan harus mempertimbangkan harga barang yang mungkin lebih tinggi.
Dengan semua perubahan ini, jalur perdagangan Amerika Serikat tetap menjadi arena penting di mana kebijakan ekonomi yang akan datang berada di bawah bahaya. Apakah defisit yang terus meningkat akan menghancurkan ekonomi global, atau apakah AS mampu bertahan dan mengatasi tantangan ini? Meskipun waktu akan menentukan, satu hal yang pasti adalah bahwa perang dagang ini masih jauh dari kata selesai.
ADVERTISEMENT