Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Cuaca Ekstrem dan Mental Tanggap Bencana: Saatnya Indonesia Punya Budaya Siaga
5 April 2025 10:57 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari fitri handayani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Belakangan ini, Indonesia kembali diterpa gelombang cuaca ekstrem. Dari banjir bandang di Sumatera, hujan es di Jawa Tengah, hingga angin puting beliung di Kalimantan, kita seolah dipaksa untuk kembali meninjau seberapa siap sebenarnya masyarakat Indonesia dalam menghadapi krisis iklim dan bencana alam. Akan tetapi, pertanyaannya bukan hanya soal infrastruktur dan alat deteksi dini, melainkan soal mental dan budaya siaga: apakah kita sudah terbiasa hidup berdampingan dengan risiko?
ADVERTISEMENT
Indonesia bukan negara baru dalam urusan bencana. Kita punya sejarah panjang tentang gunung meletus, gempa bumi, dan banjir. Tapi ironisnya, setiap bencana datang, kita masih sering terdengar panik, bingung, bahkan tersesat dalam informasi hoaks. Di sinilah letak masalahnya: kita belum punya mental tanggap bencana yang dibentuk sejak dini.
Negara-negara seperti Jepang sudah menanamkan pendidikan kesiapsiagaan bencana sejak bangku sekolah dasar. Anak-anak mereka tahu ke mana harus lari, apa yang harus dibawa, dan bagaimana bersikap dalam keadaan darurat. Di Indonesia? Sirine banjir saja sering dianggap suara pabrik. Simulasi bencana dianggap membuang waktu. Edukasi kebencanaan seolah hanya jadi proyek satu hari saat peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana.
Apalagi sekarang, di tengah perubahan iklim global, bencana tak lagi bisa diprediksi hanya dengan kalender musiman. Cuaca ekstrem datang dengan cara yang tak biasa. Hujan deras bisa turun di tengah kemarau, angin kencang menyerang tanpa aba-aba. Jika pola pikir kita masih bertumpu pada “kalau bencana terjadi baru bersiap”, maka kita akan selalu menjadi korban pasif, bukan penyintas aktif.
ADVERTISEMENT
Kita juga belum membangun narasi kolektif soal pentingnya budaya siaga. Warga kota menganggap bencana hanya masalah daerah pegunungan, warga desa merasa tsunami hanya soal wilayah pesisir. Padahal kenyataannya, semua rentan. Bahkan ibu kota pun bisa lumpuh hanya karena genangan tiga jam.
Solusinya? Negara wajib menanamkan budaya siaga dalam kurikulum pendidikan formal dan informal. Simulasi bencana bukan hanya urusan sekolah, tapi juga tempat kerja, pasar, bahkan tempat ibadah. Media juga harus aktif menyampaikan narasi preventif, bukan hanya berita korban. Kita perlu revolusi informasi: dari “bencana itu musibah” menjadi “bencana itu realita yang harus diantisipasi”.
Aplikasi seperti BMKG Mobile, Info BMKG, dan sistem peringatan dini dari BNPB harus lebih disosialisasikan. Akan tetapi, lebih dari itu, masyarakat harus melek teknologi dan tahu bagaimana menafsirkan informasi tersebut. Ini bukan era di mana masyarakat bisa berkata, “Saya tidak tahu,” ketika bencana datang. Sekarang adalah era ketika setiap warga negara dituntut sadar risiko dan tahu bertindak.
ADVERTISEMENT
Indonesia butuh lebih dari sekadar tanggul atau alat pendeteksi gempa. Kita butuh mental siaga yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Budaya gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas kita, harus dikembangkan dalam konteks baru: gotong royong dalam kesiapsiagaan. Hanya dengan begitu, Indonesia tak hanya bisa bertahan dari bencana—tetapi juga tumbuh lebih kuat karenanya.