Konten dari Pengguna

Memainkan Tesis, Antitesis, dan Sintesis Sejak Dini

Galan Rezki Waskita
Alumni HMI Malang, Pegiat Media NTB, Koordinator Tangga Pengetahuan (Komunitas Kajian Isu Pembangunan Berkelanjutan)
11 Maret 2025 9:37 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Galan Rezki Waskita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumentasi Pribadi: Siswa siswi SDN Tepal, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa pasca berdiskusi dengan Komunitas Tangga Pengetahuan.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi: Siswa siswi SDN Tepal, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa pasca berdiskusi dengan Komunitas Tangga Pengetahuan.
ADVERTISEMENT
Saya sering melihat banyak orang yang mengeluh berbagai persoalan terutama berkenaan dengan kebijakan. Tapi saat dihadapkan dengan jawaban, mereka acap kali diam dan hanya mampu menggerutu. Akhirnya dengan situasi ini banyak persoalan tidak tuntas. Yang tersisa hanya ketidakpuasan dan kekesalan.
ADVERTISEMENT
Situasinya bisa saja berbeda dengan yang diatas. Pihak yang mengeluh ditanggapi dengan gerutu oleh yang berkewajiban memberikan jawaban. Bisa saja yang mengeluh berada pada asumsi yang benar dan yang menjawab berada pada argumentasi yang salah ataupun sebaliknya. Namun yang jelas, jarang sekali ada penyelesaian yang total dalam komunikasi macam ini.
Kondisi demikian sangat mungkin terjadi di banyak keadaan. Bisa saja ini terjadi antara rakyat dengan Pemerintah, antar umat beragama, antar konsumen dan produsen, antar sesama anggota keluarga atau kelompok, bahkan antar pasangan kekasih. Kita sama-sama tahu bagaimana konsekuensi konflik dalam setiap diskusi yang tidak tuntas.
Negara bisa runtuh, suami istri bisa bercerai, organisasi tumbuh dualisme, bisnis bisa bangkrut, atau pasangan kekasih bisa mengurungkan resepsi. Gambaran ini sebenarnya adalah hasil ketidakmampuan berpikir secara logis, terkendali, dan setara. Singkatnya, salah satu atau keduanya tidak memiliki nalar kritis untuk menghadapi satu sama lain. Tapi, pernyataan ini tidak berarti keharusan menghilangkan perbedaan cara pandang sebagai sisi primordial manusia.
ADVERTISEMENT
Berpikir logis maksudnya; memaksimalkan nalar untuk menimbang baik-buruk, benar-salah, atau untung-rugi. Berpikir logis juga digunakan untuk mengukur standar etik. Berpikir terkendali artinya; memastikan diri memperjalankan pikiran dengan mengesampingkan emosi meski tidak membuang perasaan. Berpikir setara maknanya; mampu memposisikan diri dengan kapasitas lawan bicara, baik secara emosional maupun referensi.
Tiga standar ini menurut hemat saya menjadi landasan setiap kita membangun kebijaksanaan dalam komunikasi. Kebijaksanaan ini diperoleh dari intensitas kita menghadapi masalah. Secara teori kita mengenal istilah ‘dialektika’ yang menghendaki adanya tesis, antitesis, dan sintesis.
Tesis, antitesis, dan sintesis adalah proses dialektika yang dikembangkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Proses ini dimulai dengan tesis, diikuti oleh antitesis yang berlawanan, dan berakhir dengan sintesis yang merupakan hasil perpaduan keduanya. Menurut Hegel, proses ini memungkinkan kita mencapai kebenaran yang lebih tinggi (Hegel, 1812).
ADVERTISEMENT
Dewasa ini, sekolah mulai mengadopsi teori ini dengan tetap mempertimbangkan atensi pelajar terkait sebuah persoalan. Pola demikian dituangkan dalam sistem deep learning oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen). Bersama prinsip adaptif dan joyfull, sekolah kini diminta membawa masalah ke ruang kelas. Sehingga, intensitas terhadap masalah yang dibutuhkan akan berbarengan dengan kepiawaian problem solving.
Problem solving dihasilkan dari proses brainstorming di tingkat individu dan dipertarungkan dalam dialektika kelompok. Problem solving dibutuhkan untuk memunculkan inovasi, atau membangun skenario mitigasi. Kita bisa bayangkan jika kecakapan ini tidak dimiliki oleh para pendahulu republik. Kita mungkin masih berada di alas kaki penjajah dan terus mengagungkannya.
Membangun napak tilas pengetahuan yang baik di sekolah dasar dan menengah adalah kewajiban. Mengingat ada signifikansi positif yang akan terlihat pada jenjang pendidikan selanjutnya. Tidak akan ada skripsi abal-abal, mahasiswa yang lulus dikasihani, atau tesis dan disertasi palsu. Karena berangkat dari sebabnya, semua terletak pada ketidakmampuan merumuskan logika yang dalam dan sistematis.
ADVERTISEMENT
Sementara itu dalam konsistensinya, tesis, antitesis, dan sintesis pada individu di tahap lebih lanjut akan tertuang dalam bentuk kontemplasi. Sehingga yang tampak dalam aktivitas fisik maupun verbal adalah kebijakan yang minim kontradiksi. Andaikan dialektika masih diperlukan, maka level pembahasannya adalah terkait rumusan taktis keselarasan bersama.
Inilah yang disebut dengan pemikiran demokratis moderat. Dalam pemahaman yang sederhana, pergolakan dialektika memungkinkan negara surplus pengetahuan. Singkatnya, deep learning adalah sintesis dari upaya-upaya pemajuan pendidikan Indonesia di masa-masa yang lalu.
Ke depan, suami istri akan lebih harmonis. Andaikan ada keributan, mereka hanya akan berdebat dengan puisi Rumi atau Sapardi. Di samping itu, pembahasan pemuda tidak lagi berkutat pada FYP Tiktok melainkan pasal isu global. Romantisme antar kekasih tidak terhenti pada rencana nama anak pertama, melainkan juga soal rumah tangga negara.
ADVERTISEMENT