Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten Media Partner
Pelestarian Kesenian Kuda Lumping di Batu Ampar, Libatkan Anak-anak dan Remaja
5 April 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Hi!Pontianak - Pada tahun 2025, Paguyuban Seni dan Budaya Kuda Lumping ‘Tri Budoyo Kemuning Jelutung’ di Dusun Kemuning, Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, merayakan ulang tahunnya yang ke-1. Dari anak-anak hingga remaja ikut memainkan kuda lumping dalam kegiatan tersebut.
ADVERTISEMENT
Kuda lumping merupakan tarian tradisional Jawa yang menggambarkan semangat dan juga tarian ini biasanya ditampilkan pada acara-acara tradisional seperti upacara adat, pernikahan, dan hari raya keagamaan.
Ketua Umum Paguyuban Tri Budoyo Kemuning Jelutung, Agus Patra, mengatakan ini merupakan paguyuban yang dibentuk oleh masyarakat yang ada di Dusun Kemuning untuk melestarikan budaya agar tetap terus bertahan hingga ke regenerasi selanjutnya.
“Kami bersama warga membentuk paguyuban ini sebagai bentuk untuk melestarikan budaya kuda lumping ini, serta untuk menjalin tali silaturahmi kepada para seniman dan masyarakat,” jelasnya Sabtu, 5 April 2025 di Dusun Kemuning Jelutung.
Ini merupakan kegiatan ulang tahun perdana bagi paguyuban ‘Tri Budoyo Kemuning Jelutung’, di mana paguyuban ini sudah berdiri sejak 2004 di bulan April. Agus juga berharap agar pemerintah terkait dapat memberikan dukungan terhadap paguyuban ‘Tri Budoyo Kemuning Jelutung’.
ADVERTISEMENT
“Ke depan kami akan lakukan inovasi peningkatan dan kami juga berharap agar dapat sentuhan dari pemerintah tentunya tentang budaya kuda lumping agar mendapat pembinaan dari pemerintah,” tambahnya.
Sementara itu, satu di antara Tokoh Masyarakat, Warodi, sangat berterimakasih dengan aktifnya kembali paguyuban tersebut. “Kami sangat senang sekali budaya ini bisa berdiri kembali yang dalam beberapa tahun yang lalu sempat drop ya karena dari segi situasi dan kondisi alat yang minim sekali. Ke depan agar budaya ini dapat terus dikembangkan agar menjadi tradisi hingga ke regenerasi,” tutupnya.
Penulis: Rabiansyah