Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Masakan Nenek di Hari Lebaran, Lebih dari Sekadar Hidangan
2 April 2025 12:46 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari hirzi shalhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Lebaran selalu menjadi momen spesial bagi banyak keluarga di Indonesia. Selain kebersamaan, ada satu hal yang selalu dinantikan: masakan nenek. Cita rasa khas yang melekat di ingatan membuat banyak orang merasa kembali ke masa kecil setiap kali mencicipinya. Tak hanya sekadar makanan, masakan nenek adalah warisan keluarga yang penuh dengan kenangan dan cinta.
ADVERTISEMENT
Di berbagai daerah, nenek sering menjadi sosok utama dalam menyiapkan hidangan khas Lebaran. Mulai dari opor ayam, ketupat, hingga sambal goreng kentang, semua dibuat dengan resep turun-temurun yang dijaga dengan teliti. Yang membuatnya spesial bukan hanya rasanya, tetapi juga proses pembuatannya yang penuh ketulusan.
Seperti keluarga Farras di Sokaraja, setiap tahunnya mereka berkumpul untuk menikmati masakan sang nenek yang sudah berusia 74 tahun. “Meskipun sudah sepuh, nenek tetap semangat memasak untuk kami. Katanya, kalau bukan nenek yang buat, rasanya pasti beda,” ujar Farras.
Keunikan cita rasa masakan nenek sering kali berasal dari penggunaan bahan-bahan alami tanpa penyedap rasa buatan. Banyak nenek yang masih menggunakan santan segar, rempah-rempah yang dihaluskan secara manual, serta teknik memasak tradisional seperti memasak dengan api kecil dalam waktu yang lama agar bumbu meresap sempurna.
Selain hidangan utama, kue kering juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi Lebaran. Nastar, kastengel, putri salju, dan kue semprit selalu hadir di toples-toples di meja tamu. Walaupun ada beberapa kue kering yang dibeli di toko, kue buatan nenek selalu punya rasa yang lebih khas dan otentik karena resep dan cara pembuatan yang berbeda dari yang lain.
ADVERTISEMENT
Suasana dapur nenek diwarnai dengan kegembiraan yang tak terhingga. Cucu-cucu nenek turut serta membantu dalam proses pembuatan kue kering yang selalu menjadi hidangan khas keluarga. Dengan penuh semangat, mereka belajar dari nenek yang sudah berpengalaman, mulai dari mencampur bahan, membuat adonan, hingga menghias kue dengan berbagai bentuk menarik.
Keluarga Farras di Sokaraja, nenek mereka selalu membuat nastar dengan isian nanas buatan sendiri yang dimasak selama berjam-jam agar mendapatkan rasa yang pas. “Nastar buatan nenek punya rasa manis dan asam yang seimbang, teksturnya juga lembut. Kami sekeluarga selalu menunggu momen membantu nenek membuat kue setiap Lebaran,” ujar Faras.
Di tengah kemeriahan Lebaran, masakan khas buatan nenek menjadi salah satu elemen yang tak ternilai harganya. Setiap hidangan yang disajikan penuh dengan kenangan dan cita rasa yang tak bisa digantikan oleh masakan lainnya. Bagi banyak keluarga, momen berkumpul dan menikmati hidangan nenek menjadi tradisi yang menyatukan hati, mengingatkan akan kasih sayang, serta mempererat hubungan antar generasi.
ADVERTISEMENT
"Bersyukur yang pasti masih bisa ngerasain Lebaran sama keluarga besar, terus juga bisa makan masakan nenek bareng keluarga besar tentunya bikin suasana jadi makin hangat," ujar Farras.
Masakan nenek di Hari Lebaran bukan hanya sekadar makanan, tetapi simbol dari sebuah warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Bagi banyak orang, kehangatan dan kelembutan yang terasa dalam setiap suapan adalah pengingat bahwa meski zaman terus berubah, tradisi dan kasih sayang dalam keluarga akan selalu abadi.
Dengan berakhirnya perayaan Lebaran, kita pun berharap agar kehangatan dan kebersamaan yang tercipta dari masakan nenek dapat terus hidup dalam hati dan keluarga kita, menginspirasi untuk melanjutkan tradisi baik ini di tahun-tahun yang akan datang. Selamat Hari Raya, semoga kebahagiaan dan kedamaian selalu menyertai kita semua.
ADVERTISEMENT