Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Brain Drain vs. Brain Gain: Fenomena #KaburAjaDulu Talenta Indonesia
3 April 2025 10:47 WIB
·
waktu baca 7 menitTulisan dari Irene Kusuma Palmarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tagar #KaburAjaDulu ramai digunakan di media sosial belakangan ini, merupakan suatu fenomena brain drain yang menggambarkan keresahan dan kekecewaan, terutama bagi talenta muda Indonesia, terhadap kondisi dalam negeri. Tren ini tidak dilihat dalam sebuah kerangka nasionalisme, namun lebih kepada rasionalisme terhadap terbatasnya lapangan pekerjaan dan ketidakpastian ekonomi di Indonesia. Respon atas fenomena ini cukup beragam, baik disampaikan secara lisan maupun tertulis melalui berbagai media. Namun kali ini, kita akan melihat brain gain sebagai satu langkah solusi bagi Indonesia, untuk terus berbenah, supaya tidak kehilangan talenta sumber daya manusia dan tenaga profesionalnya sehingga dapat memanfaatkan potensi yang ada demi pembangunan nasional berkelanjutan di era transformasi digital.

ADVERTISEMENT
Fenomena brain drain vs. brain gain berhubungan erat dengan perkembangan transformasi digital di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Transformasi digital menjadi kunci utama dalam menentukan arah pertumbuhan ekonomi dan daya saing suatu negara, dimana brain drain vs. brain gain memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana negara beradaptasi dengan perubahan tersebut melalui potensi talenta tenaga kerjanya.
ADVERTISEMENT
#KaburAjaDulu Sebagai Fenomena Brain Drain di Indonesia
Brain drain merupakan istilah yang merujuk pada keluarnya talenta atau sumber daya manusia terampil dan terdidik dari suatu negara asal untuk bekerja atau tinggal di luar negeri. Fenomena #KaburAjaDulu menjadi sebuah gambaran tren para profesional atau talenta muda, sebagian besar lulusan perguruan tinggi, dan juga pekerja terampil Indonesia yang memilih untuk bekerja di luar negeri daripada bertahan di dalam negeri. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan ini adalah kesempatan atau peluang karir yang lebih baik, standar hidup yang lebih tinggi, serta dukungan sosial yang lebih baik di luar negeri.
Publikasi data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang berjudul “Statistik Mobilitas Penduduk dan Tenaga Kerja 2024” menyajikan potret dinamika mobilitas penduduk dan tenaga kerja di Indonesia dengan sangat komprehensif. Melalui data-data ini, terdapat tren migrasi penduduk Indonesia ke luar negeri, termasuk di antaranya tenaga kerja terampil dan profesional muda, terutama ke negara tujuan Singapura, Australia, Amerika Serikat, bahkan Malaysia dan Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
Dampak Brain Drain di Indonesia
Laporan tahunan OECD, yaitu International Migration Outlook, memberikan gambaran mengenai aliran migrasi internasional, termasuk alasan yang mendorong seseorang untuk pindah maupun bekerja di luar negeri, serta bagaimana hal tersebut berdampak pada negara asal. Pola brain drain selalu mengacu pada ketimpangan negara-negara maju dan berkembang atau tertinggal. Negara maju menawarkan lebih banyak peluang untuk talenta muda dan profesional, terutama di era teknologi digital dan inovasi yang berkembang pesat. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya talenta muda dan profesional dari negara berkembang, lebih tertarik untuk bekerja di luar negeri (negara maju) terutama di sektor teknologi dan digital, termasuk yang dialami oleh Indonesia.
Salah satu dampak nyata yang akan dihadapi oleh Indonesia adalah kehilangan talenta dan inovasi. Dengan tingginya angka brain drain, maka Indonesia akan kehilangan talenta muda dan tenaga profesional yang dapat mempercepat transformasi serta perkembangan industri di dalam negeri, terutama di sektor teknologi, riset, dan pendidikan. Hal ini tidak lepas dari ketiadaan atau ketidakmampuan untuk menyediakan cukup lapangan kerja berkualitas yang dinilai mampu mengakomodir kebutuhan talenta muda dan tenaga profesional tersebut dapat mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki.
ADVERTISEMENT
Selain itu, fenomena brain drain juga memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Pertama, tidak semua orang memiliki kesempatan bekerja di luar negeri karena keterbatasan pendidikan dan adanya biaya yang tinggi untuk investasi migrasi tenaga kerja global. Masyarakat berpenghasilan rendah akan memiliki kesempatan yang lebih sedikit untuk meningkatkan taraf hidup melalui jalur ini. Ke-dua, pertumbuhan ekonomi lokal yang terhambat karena masyarakat tinggal di dalam negeri dengan kesempatan kerja yang lebih terbatas dibanding luar negeri. Ke-tiga, efek domino pada kualitas hidup jika akses terhadap layanan berkualitas semakin sulit memperoleh tenaga profesional. Misalnya saja kualitas layanan kesehatan, infrastruktur, dan pendidikan bisa menurun karena hilangnya talenta dan tenaga profesional seperti dokter, insinyur, sampai ilmuwan.
Dengan kondisi tersebut di atas, maka dampak selanjutnya yang akan dialami oleh Indonesia adalah kerugian, yang memiliki efek pada Produk Domestik Bruto (PDB) dan daya saing nasional. Berkurangnya tenaga kerja berkualitas di dalam negeri, membuat pertumbuhan ekonomi nasional bisa melambat dan daya saing Indonesia di tingkat global akan menurun. Negara tujuan brain drain akan semakin jaya dengan menyerap talenta global, sementara negara asal seperti Indonesia kehilangan potensi besar untuk berinovasi dan mengembangkan industrinya.
ADVERTISEMENT
Apakah Brain Gain Bisa Menjadi Solusi?
Sebaliknya, brain gain adalah masuknya talenta terampil dan terdidik ke dalam suatu negara, baik karena kebijakan yang memiliki daya tarik bagi para tenaga profesional, maupun karena para talenta muda dan tenaga profesional yang sebelumnya pergi, kembali ke negara asal dengan pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Dengan kondisi ini, maka efek negatif dari brain drain dapat dikurangi, bahkan justru memperkaya inovasi dan daya saing negara asal.
Berikut adalah beberapa negara di kawasan Global South yang telah memiliki kebijakan brain gain yang dinilai sukses:
1. Tiongkok
China’s Thousand Talents Program (CGTN). Pemerintah Tiongok menawarkan berbagai insentif untuk profesional global dan profesionalnya kembali, seperti subsidi, kemudahan administrasi dan pendirian perusahaan, serta akses ke fasilitas riset dan inovasi. Sejak peluncurannya tahun 2008, jumlah peserta yang bergabung dalam program ini meningkat pesat dan memberikan kontribusi signifikan terhadap kapasitas penelitian dan inovasi di Tiongkok.
ADVERTISEMENT
2. Singapura
Singapore Economic Development Board (EDB). Melalui program Talent Attraction, pemerintah Singapura menarik talenta global dengan mengembangkan ekosistem inovasi. Dengan reputasi yang tertuang dalam website EDB “Your Business Needs Singapore”, Singapura memberikan kebijakan visa khusus, seperti Tech.Pass yang memungkinkan pengusaha teknologi, pemimpin, ataupun pakar teknis datang ke Singapura dan melakukan inovasi disruptif. Selain itu, kolaborasi akademis-industri serta inisiasi untuk melakukan penelitian dan inovasi terus dikembangkan dengan lingkungan bisnis yang mendukung.
3. Korea Selatan
Korea International Trade Association (KITA) merupakan organisasi perdagangan yang mendukung kebijakan pemerintah Korea Selatan untuk menarik dan mendukung talenta global. Melansir dari Korea JoongAng Daily, Februari 2025 lalu telah didirikan Global Talent Center dengan tujuan mempromosikan peluang kerja di Korea Selatan kepada profesional asing, melakukan penelitian terkait, dan menyelenggarakan kegiatan dengan target pencari kerja potensial dari luar negeri. Terdapat juga program K-Tech Pass dan Visa Top-Tier untuk menarik pekerja asing di bidang teknologi tinggi seperti semikonduktor, bioteknologi, robotika, dan kecerdasan buatan. Kemitraan strategis untuk mendukung pertumbuhan startup juga terus diperkuat dan dikembangkan.
ADVERTISEMENT
Strategi Indonesia untuk Mewujudkan Brain Gain
Berkaca dari gambaran tersebut, maka Indonesia perlu mengambil langkah strategis mengubah fenomena brain drain menjadi brain gain sebagai solusi untuk menarik kembali talenta muda dan tenaga profesional dapat berkontribusi pada pembangunan nasional.
Beberapa strategi yang bisa diterapkan dari pembelajaran negara lain di atas, antara lain:
• Menarik diaspora Indonesia kembali ke tanah air.
Misalnya dengan memberikan insentif pajak dan tunjangan finansial di sektor strategis serta menyediakan beasiswa dan dana riset agar dapat mengembangkan penelitian di Indonesia. Mengadopsi program seperti Tiongkok dan membangun portal kerja khusus diaspora untuk dipertemukan dengan perusahaan lokal yang membutuhkan keahlian mereka.
• Meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai pusat inovasi.
ADVERTISEMENT
Memperbaiki infrastruktur digital yang dapat mempermudah akses teknologi serta meningkatkan investasi dalam riset dan inovasi khususnya di bidang pasar tenaga kerja terkini.
• Meningkatkan kolaborasi internasional.
Menjalin kemitraan yang kuat baik untuk riset dan pendidikan, pendanaan startup, maupun kebijakan visa khusus sehingga akan lebih banyak perusahaan rintisan berbasis inovasi dapat berkembang di dalam negeri.
• Menyediakan lingkungan kerja yang kompetitif.
Penyederhanaan birokrasi, kemudahan berbisnis, pengupahan yang kompetitif di sektor strategis, serta menciptakan budaya kerja yang mendukung inovasi. Dengan ekosistem kerja yang lebih terbuka, maka talenta asing dan diaspora dapat mentransfer ilmu dan pengalamannya.
Indonesia punya potensi, tetapi harus menerapkan kebijakan yang tepat, cepat, dan kompetitif. Dengan demikian, strategi yang dijalankan dapat menarik kembali talenta terbaik dan mempercepat inovasi transformasi digital serta pertumbuhan ekonomi nasional.
ADVERTISEMENT