Konten dari Pengguna

Ontologi dan Psikologi: Peran Filsafat dalam Menunjang Kesehatan Mental

Justin Eduardo Lucius
Mahasiswa Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
1 April 2025 8:59 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Justin Eduardo Lucius tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: canva.com
ADVERTISEMENT
Pada masa kini, kesehatan mental menjadi salah satu isu yang paling banyak dibicarakan oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang merasakan bagaimana kesehatan mental menjadi sebuah penghambat dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Suhaimi (2015), kesehatan mental merupakan suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik (biologic), intelektual (rasio/cognitive), emosional (affective) dan spiritual (agama) yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Meskipun ada ilmu psikologi yang telah memberikan banyak solusi dalam memahami dan mengatasi gangguan kesehatan mental, ternyata terdapat pula aspek filosofis yang tidak kalah penting dalam membentuk cara pandang kita terhadap diri kita sendiri dan dunia sekitar. Filsafat, yang dalam hal ini adalah ontologi, memberikan pandangan yang lebih dalam mengenai hakikat eksistensi manusia. Ontologi mempelajari tentang apa yang membuat kita ada, bagaimana kita memahami diri sendiri, dan apa arti keberadaan kita di dunia ini.
ADVERTISEMENT
Psikologi memiliki ruang yang berfokus pada proses mental dan perilaku manusia, sedangkan ontologi berperan dalam memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai eksistensi dan realitas. Kedua bidang ilmu ini memiliki keterkaitan dan saling melengkapi dalam memberikan pandangan yang lebih utuh mengenai kesehatan mental. Melalui pemahaman ontologi, seseorang dapat lebih mudah memahami dirinya, menghadapi permasalahan hidup, dan mengelola stress serta konflik batin. Pada tulisan ini, akan ditelusuri bagaimana peran filsafat terutama ontologi, dalam menghubungkan pemahaman mengenai kesehatan mental dan bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk membantu manusia dalam mencapai kesejahteraan psikologis yang baik.
Ontologi
Ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu on atau ontos yang berarti ada (being) dan kata logos yang berarti ilmu (logic), atau ilmu tentang ada sebagaimana adanya secara integral dengan segala aspeknya ontologi merupakan ilmu tentang yang ada. Menurut pandangan The Liang Gie (2010), ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan, yaitu: a) Apakah artinya ada, hal ada?, b) Apakah golongan-golongan dari hal yang ada?, c) Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada?, d) Apakah cara-cara yang berbeda dalam manaentitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada?. Sesuai pandangan dari The Liang Gie di atas, ontologi memiliki sebuah fokus utama yang mengarah pada pertanyaan akan adanya suatu hal yang memiliki eksistensi, dapat dirasakan hingga dilihat oleh indera manusia. Lebih jelasnya, ontologi memiliki beberapa karakteristik yang dapat disederhanakan sebagai berikut:
ADVERTISEMENT
1. Ontologi adalah studi tentang arti “ada” dan “berada”, tentang ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendirinya, menurut bentuknya yang paling abstrak.
2. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori-kategori seperti: ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempurnaan, ruang dan waktu, perubahan, dan sebagainya.
3. Ontologi adalah cabang filsafat yang mencoba melukiskan hakikat terakhir yang ada, yaitu yang satu, yang absolut, bentuk abadi, sempurna, dan keberadaan segala sesuatu mutlak bergantung kepada-nya.
4. Cabang filsafat yang mempelajari tentang status realitas apakah nyata atau semu, apakah pikiran itu nyata, dan sebagainya.
Dari karakteristik-karakteristik tersebut, kita dapat menambahkan bahwa ontologi memiliki konsep abstrak yang menjadikan waktu dan pikiran kita merupakan salah satu unsur penting dalam ontologi.
ADVERTISEMENT
Psikologi
Menurut Saleh (2018), Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yakni psychology yang merupakan gabungan dari kata psyche
dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Olehnya itu, secara harfiah dapat dipahami bahwa psikologi adalah ilmu jiwa. Namun, Psikologi tidak semata-mata ilmu yang mempelajari mengenai jiwa, karena jiwa itu tidak empiris dan tidak dapat diukur secara langsung melalui indera kita maupun melalui metode ilmiah konvensional. Seiring berjalannya waktu, psikologi mulai mengalami perubahan makna dan dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari proses mental dan tingkah laku manusia.
Peran Ontologi dan Psikologi dalam Menunjang Kesehatan Mental
Ketika kita menghubungkan kedua ilmu ini, ontologi dan psikologi memiliki keterkaitan dalam menyikapi kesehatan mental manusia. Ontologi telah dibahas, bahwa ontologi mempelajari sebuah fokus yaitu eksistensi mengenai berbagai hal yang menempati ruang dan waktu, serta dapat ditangkap dan dipahami oleh indera kita. Sedangkan, Psikologi mempelajari proses mental dan tingkah laku manusia. Maka, kesehatan mental itu dapat kita sadari melalui psikologi kemudian kita dalami melalui filsafat, dalam hal ini adalah ontologi.
ADVERTISEMENT
Ontologi merupakan ilmu yang dasarnya harus dipahami terlebih dahulu sebelum psikologi. Karena setiap ilmu memiliki aspek ontologi, maka dapat dikatakan bahwa ontologi merupakan pondasi yang harus dipahami dan dimengerti terlebih dahulu. Ketika kita memahami ontologi, kita juga harus memahaminya dengan benar dan sungguh-sungguh. Apabila kita salah mencerna hakikat dasar keberadaan (being) suatu realitas yang ada pada ontologi, maka akan terjadi suatu salah pandang yang menyebabkan kekacauan: perselisihan, debat, penghancuran suatu budaya, dan masih banyak lagi.
Dalam menyikapi kesehatan mental yang kita miliki, ontologi dan psikologi memiliki satu unsur yang saling berkaitan, yaitu eksistensi dan eksistensialisme. Eksistensialisme bermula dari eksistensi milik ontologi. Menurut Hall (1993), psikologi eksistensial mengadopsi ontologi Heidegger terkait eksistensi manusia. Hal itu dianggap mungkin bagi eksistensialisme masuk ke dalam psikologi. Konsep ada-di-dunia sebagai struktur dasar eksistensi manusia menjadi istilah penting dalam psikologi eksistensial.
ADVERTISEMENT
Konsep ada-di-dunia (bahasa Inggris: being-in-the-world, bahasa Jerman: in-der-welt-sein, bahasa Prancis: l'être-dans-lemonde) yang diperkenalkan oleh Heidegger memiliki arti manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan “mengada” di dalam dunia. Dalam istilah Heidegger, manusia harus sadar dengan lingkungannya, sadar dengan Dasein-nya, artinya hadir dan bereksistensi di dunia (being-in-the-world).
Pada akhirnya, psikologi eksistensialisme dan eksistensi ontologi menekankan pada kebebasan dan tanggung jawab untuk manusia menentukan pilihan makna hidup mereka dan juga bertanggung jawab atas pilihan yang mereka ambil. Kemudian, psikologi eksistensialisme dan eksistensi ontologi mendorong manusia untuk mencari makna dan tujuan hidup mereka yang dapat memicu pertanyaan-pertanyaan yang mendalam. Sehingga, mereka berada pada suatu titik yaitu refleksi diri dan juga memahami serta menyadari akan pilihan-pilihan yang diambil dalam hidup mereka.
ADVERTISEMENT
Kesimpulan
Ontologi dan Psikologi memiliki keterkaitan dalam menunjang kesehatan mental, melalui kaitannya dengan eksistensi ontologi dan eksistensial pada psikologi, membuat kita memahami akan kebebasan serta tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hidup kita hingga pada akhirnya kita dapat merefleksikan diri kita sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana tingkat kesehatan mental yang kita miliki.
Daftar Pustaka
Albadri, P. B., Ramadani, R., Amanda, R., Nurisa, N., Safika, R., & Harahap, S. S. (2023). ONTOLOGI FILSAFAT. PRIMER : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 311–317.
Vierdiana, D. (2024). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MENTAL DI KALANGAN MAHASISWA PERGURUAN TINGGI. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 7(1), 1553–1558.
Lubis, I. ., Ulya, A. R., & Latipah, E. . (2023). Peran Agama dalam Membentuk Kesehatan Mental Pada Remaja Mesjid . Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 5(1), 1848–1854.
ADVERTISEMENT
Rahmadani, R., & Karneli, Y. (2021). Ontologi, epistemologi, aksiologi dalam psikologi konseling. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 859-862.
Nurasa, A., Natsir, N. F. ., & Haryanti, E. . (2022). Tinjauan Kritis terhadap Ontologi Ilmu (Hakikat Realitas) dalam Perspektif Sains Modern. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(1), 181-191.
Adnan A., Saleh. (2018). Pengantar Psikologi. Penerbit Aksara Timur
Hermawan, U. (2021). Konsep diri dalam exsistensialisme Rollo May. JAQFI: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, Vol. 6, No. 1 (2021), pp. 1-23.
Herlina, U., & Hidayat, A. (2019). Pendekatan Eksistensial dalam Praktik Bimbingan dan Konseling. Indonesian Journal of Educational Counseling, 3(1), 1-10.
ADVERTISEMENT