Konten dari Pengguna

Maaf, Saya Ngantuk Nonton Baseball di Amerika

Katondio Bayumitra Wedya
Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
8 Maret 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: Katondio BW
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Katondio BW
ADVERTISEMENT
"Leave me where I am
I'm only sleeping."
-The Beatles, 'I’m Only Sleeping'.
ADVERTISEMENT
Sebagai pria berbobot 100 kg lebih, gua tuh memiliki permasalahan sama tanjakan. Cuma nanjak sedikit saja, gua bisa ngos-ngosan. Gimana kalau panjang coba?
Itulah yang terjadi ketika gua meninggalkan Soldier Field. Jadi, gua dan seorang wartawan TV--sebut saja Bang AF---dikontak orang DBL untuk menuju Guaranteed Rate Field, stadion baseball yang jadi markas Chicago White Sox. Mereka sudah membelikan 2 tiket untuk kami menonton pertandingan tuan rumah vs Toronto Blue Jays.
Sebagai informasi, jadi gua dan Bang AF berada di Chicago selama 11 hari pada akhir Juni-awal Juli 2023 untuk melibut kegiatan DBL All-Star. Namun, kami juga merasakan experience lain di sana, salah satunya menonton pertandingan baseball.
Pada tulisan gua yang ini, gua udah bercerita seputar stadion sepak bola bernama Soldier Field. Selepas keluar dari area itu, gua ingat ada sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang di bawahnya ada rel kereta. Ini jembatannya bukan ada tangga di kedua sisi seperti JPO di Pasar Minggu atau Tanjung Barat, tetapi tanjakan tak curam yang cukup panjang.
ADVERTISEMENT
Asli, berjalan setapak demi setapak, gua berasa capek banget. Gua keliling Soldier Field gak terlalu capek, ini naik tanjakan JPO capek banget. Udah gitu, si Bang AF jalannya cepat banget kayak orang ngejar gajian.
Setelah melewati tanjakan, lalu menyusuri jalan datar jembatan, dan juga turunan, sampailah kami di sebuah area perumahan warga. Di situ, sempat ada perdebatan antara gua dan Bang AF tentang kami harus naik apa ke Guaranteed Rate Field, yang jaraknya sekitar 3,0 mil atau 4,8 km. Gak mungkin jalan kaki dong?
Itu waktunya sudah mepet. Pertandingan baseball akan dimulai kurang lebih satu jam, jadi akhirnya kami sepakat untuk memesan kendaraan daring.
Masalahnya, susah sekali mendapatkan sopir. Ini mungkin anehnya Amerika ya, maksud gua, itu kami ‘terdampar’ di area perumahan, tetapi, kok, kagak ada sopir kendaraan daring yang nyangkut, ye?
ADVERTISEMENT
Akhirnya, karena gak kunjung mendapat kepastian, kami memutuskan jalan kaki dan naik bus umum. Hari yang cukup melelahkan, tetapi ini menjadi pengalaman baru bagi gua untuk jalan-jalan di kompleks perumahan wong Amerika.
Yang patut dipuji dari Amerika adalah trotoarnya sangat layak. Nyaris gak ada satu sudut pun di kota yang gak ada trotoarnya. Gak perlu takut keserempet motor juga karena jarang banget ada motor di Chicago.
Singkat cerita, kami naik bus, lalu turun di halte yang berjarak sekitar 1 km dari stadion baseball itu. Suasana jalanan di hari pertandingan itu sangat padat, apalagi laga sudah mau dimulai. Namun, ada vibes yang agak berbeda antara nonton baseball di Amerika dengan nonton sepak bola di Indonesia.
Foto: Katondio BW
Kesamaannya sih sama-sama para fan sudah memenuhi jalan jelang laga, tetapi bedanya, kalau di Indonesia mungkin orang-orang pada pakai atribut dan sudah nyanyi-nyanyi sejak di jalanan, di baseball Amerika gak gitu. Ya, ini orang saja banyak, berbondong-bondong, gak semuanya pakai atribut klub, dan mereka sangat tertib.
ADVERTISEMENT
Kagak ada chant khusus atau nyanyian yang didengungkan. Riuh suara yang terdengar adalah suara-suara dari percakapan mereka saja.
Dan kalau di Indonesia, biasanya ada tukang cangcimen jualan air mineral, kopi, dan minuman manis. Kalau di Amerika, mereka jualannya bir dan berbagai jenis minuman alkohol. Soft drink seperti minuman bersoda pun gak ada.
Meski penontonnya tertip gua bilang tadi sangat tertib, pengamanan di sekitar area stadion tetap ketat. Polisi banyak banget yang berjaga dan semakin banyak ketika semakin dekat area pintu masuk stadion. Mereka juga membantu aliran lalu lintas tetap lancar dan gak terjadi kecelakaan.
Sementara di dalam stadionnya, walaupun ini aksesnya gampang naik kendaraan umum, kantong parkirnya tetap luas, sih. Sampai di dalam area stadion pun orang-orang masih terlihat tertib antre masuk ke area tribune. Pengecekan keamanannya ketat banget.
Foto: Katondio BW
Yang gua pahami, pihak keamanan di stadion gak mau sampai kecolongan fan bawa barang-barang yang berpotensi dilemparkan dari tribune ke lapangan. Entah itu suar, batu, atau botol minum. Jadi, solusi mereka adalah melarang kita membawa tas besar.
ADVERTISEMENT
Besarnya seapa? Para petugas keamanan membawa benda persegi panjang seperti batu bata. Kalau dirasa tas yang kita bawa lebih besar dari ukuran batu bata itu, maka tasnya gak bisa masuk. Namun, pihak stadion sudah antisipatif dengan menyediakan ruangan khusus penitipan tas.
Lalu, walau tas yang kita bawa dinilai layak masuk tribune, tetap digeledah. Gak boleh tuh bawa barang seperti tongsis, gimbal, atau penyangga kamera lainnya.
Nah, itu gak bisa ditaruh di tempat penitipan tas, kecuali memang sekalian ditaruh di dalam tas. Jadi solusinya, barang-barang seperti itu disembunyikan di semak-semak atau dilempar ke atas pohon biar gak hilang. Aya-aya wae.
Foto: Katondio BW
Kami kebagian nonton dari tribune atas. Kami naik ke sana menggunakan eskalator. Ketika sampai di atas, penonton langsung dihadapkan dengan beragam stand kuliner yang berseberangan sekitar 10 meter dengan pintu masuk tribune. Pembayarannya sudah full cashless.
ADVERTISEMENT
Dinding-dinding di samping pintu masuk tribune dihiasi gambar-gambar pemain dan eks pemain Chicago White Sox. Plus, foto-foto momen penting seperti tim mengangkat trofi juara dan sebagainya. Di beberapa sisi tersebut juga ada stand makanan yang bentuknya lebih kecil.
Ini adalah pemandangan yang belum pernah gua lihat di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Kalau ada laga sepak bola, biasanya stand makanan UMKM ada di luar pagar malah.
Foto: Katondio BW
Masuk ke dalam, kita harus duduk di kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Dan gua dapat di tribune yang tinggiiii banget. Sudahlah capek gua perjalanan dari Soldier Field, terus harus nanjak banyak tangga lagi buat nonton, ampun dah.
Oh iya, sebelum pertandingan ada acara seremonial dulu sedikit dengan mengundang seorang mantan tentara masuk stadion. Sekali lagi, laga ini digelar pada momen Hari Kemerdekaan AS.
ADVERTISEMENT
Baseball memang bukan olahraga yang populer di Indonesia. Namun, gua dan kebanyakan anak kelahiran 90-an lainnya pasti tahu beberapa aturan dasar dari permainan ini.
Kenapa? Karena mendapat referensi dari anime Jepang. Ada beberapa anime Jepang yang membuat gua ngerti sedikit soal baseball.
Di serial Doraemon, Crayon Shinchan, hingga Detective Conan ngasih lihat karakternya main baseball, meski gak di setiap episode. Jadi gua ngerti, kalau pemukul 3 kali gagal mukul bola berarti timnya gak dapat poin. Kalau mukul tapi melenceng ke samping, hitungannya out. Kalau mukul kencang sampai keluar area permainan, itu home run.
Ngerti gua. Tapi tetap saja, nonton baseball itu bikin ngantuk buat gua.
Suasana penonton di tribune juga gak seberisik nonton sepak bola di Indonesia, yang suporter bisa nyanyi terus sepanjang laga. Kalau di baseball ini, paling di beberapa momen saja ada penonton teriak-teriak, ada yang mengumpat tapi juga sedikitlah.
ADVERTISEMENT
Dan yang membuat gua aneh dari kultur olahraga di Amerika adalah bagaimana mereka membuat pertandingan serasa hiburan. Gini, pas gua nonton, White Sox agak kewalahan saat menghadapi Toronto Blue Jays. Dalam posisi tertinggal di jeda babak, tiba-tiba panpelnya itu ngasih hiburan ke penonton pakai big screen.
Jadi, ada instruksi nyuruh penonton teriak, joget, terus nanti yang paling heboh disorot dan muncul di big screen. Orang-orang pada senang tuh, meski timnya lagi tertinggal. Jadi, gak terlihat ada fanatisme gila-gilaan kayak sepak bola Indonesia atau Eropa.
Dan panpelnya juga suka mainin kembang api. Setiap kali ada momen apik dari pemain tuan rumah termasuk home run, kebetulan ada satu home run pas gua nonton, itu pasti ada kembang api dinyalakan. Jadi, suasananya malah kayak nonton konser.
ADVERTISEMENT
Singkat cerita, pertandingan dimulai sore, kelar malam hari. White Sox akhirnya benar-benar kalah.
Gua di tribune atas sih gak terlalu dengar ada suara sumpah serapah atau gimana ya dari penggemar White Sox, gak tahu kalau di bawah.
Suasana menyaksikan laga Major League Baseball di Chicaco, Amerika Serikat. Foto: Katondio Bayumitra Wedya/kumparan
Akan tetapi, sepertinya rasa kecewa penggemar terobati gara-gara ada pesta kembang api usai pertandingan, yang memang menjadi ciri khas di markas White Sox.
Maksud gua, tim lu kalah nih, tapi lu-lu pada masih bisa senang cuma karena melihat kembang api. Aneh.