Ekonom Proyeksikan Pelemahan Rupiah Masih Akan Terus Berlanjut

2 Maret 2025 13:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas menyusun yang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menyusun yang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
ADVERTISEMENT
Nilai tukar rupiah terpantau anjlok terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (28/2) lalu. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17:00 WIB, rupiah merosot 141,50 poin (0,86 persen) ke Rp 16.595 per Dolar AS.
ADVERTISEMENT
Ekonom bidang Industri dan Global Markets dari Bank Maybank, Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dipenuhi ketidakpastian lewat beragam kebijakannya.
"Ini kelihatannya mata uang dolar masih akan terus volatile sehingga mengakibatkan mata uang seperti rupiah juga akan terkena dampaknya," jelas Gunarto ketika dihubungi kumparan, Minggu (2/3).
Dia menekankan, melemahnya rupiah terhadap dolar hingga menyentuh Rp 16.595 bukan berarti buruk untuk perekonomian secara holistik.
Katanya, saat krisis ekonomi 1998 dan sekarang banyak perbedaannya. Menurut Gunarto, perusahaan di masa kini sudah bisa mengantisipasi jika rupiah mengalami penekanan, yakni dengan cara hedging sehingga performa perusahaan tidak melemah tajam.
Hedging adalah strategi keuangan yang digunakan untuk mengurangi atau mengelola risiko dari fluktuasi harga aset atau instrumen keuangan.
ADVERTISEMENT
Seorang petugas menunjukan pecahan Dolar AS dan Rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Kwitang, Jakarta, Senin (9/12/2024). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
"Jadi importir-importir itu memang diwajibkan untuk melakukan hedging supaya mereka dalam melakukan pembelian barang juga, ataupun juga pada saat pembayaran utang tidak keberatan dengan mata uang yang berfluktuasi," lanjut dia.
Sementara itu, Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan agar pemerintah memitigasi pelemahan nilai tukar rupiah dari faktor eksternal.
"Saat ini yang perlu di mitigasi adalah tekanan ganda baik faktor global seperti kebijakan AS yang berpengaruh pada volatilitas ekonomi berbagai negara dan faktor domestik Indonesia," terang Bhima, Minggu (2/3).
Sentimen pendukung lemahnya rupiah baru-baru ini menurutnya soal efisiensi anggaran RI yang tidak direspon positif karena belum mampu menciptakan kemudahan perizinan dan efektivitas birokrasi.
Sementara itu ada risiko naiknya defisit APBN karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan tambahan modal untuk Badan Pengelola Investasi Data Anagata Nusantara (BPI Danantara).
ADVERTISEMENT
"Daya beli dan industri juga sedang lemah sehingga ini timbulkan vibes yang kurang baik bagi investor," lanjutnya.
Bhima memproyeksikan, rupiah masih mengalami long-pressure sampai akhir tahun 2025. Tidak menutup kemungkinan rupiah bakal bertengger di range Rp 17.100-Rp 17.500 per dolar AS pada Desember 2025.