Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Harga Timah dan Minyak Mentah Melesat Imbas Konflik Geopolitik
17 Maret 2025 8:39 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
ADVERTISEMENT
Harga komoditas terpantau menguat pada penutupan perdagangan Jumat (14/3), kecuali batu bara yang sedikit menurun sebesar 0,3 persen.
ADVERTISEMENT
Kenaikan signifikan terjadi pada timah dan minyak mentah yang naik masing-masing 7 persen dan 1 persen, dipengaruhi oleh konflik geopolitik yang berdampak pada pasokan. Berikut rangkumannya.
Minyak Mentah
Harga minyak mentah melonjak pada Jumat karena investor mempertimbangkan berkurangnya prospek berakhirnya perang Rusia dan Ukraina yang cepat, dapat membawa kembali lebih banyak pasokan energi Rusia ke pasar Barat.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup 1 persen lebih tinggi pada USD 70,58 per barel, Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada USD 67,18 per barel, naik 1 persen.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada hari Kamis bahwa Moskow pada prinsipnya mendukung usulan AS untuk gencatan senjata di Ukraina, tetapi meminta sejumlah klarifikasi dan persyaratan yang tampaknya menghalangi diakhirinya pertempuran dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Batu Bara
Sedangkan harga batu bara menurun pada penutupan perdagangan Jumat. Harga batu bara berdasarkan tradingeconomics turun 0,30 persen dan menetap di USD 100.75 per ton.
Harga batu bara Newcastle naik dari level terendah hampir empat tahun di USD 99 pada 28 Februari, karena pembatasan produksi dari produsen tertentu untuk sementara waktu menangkal meningkatnya kekhawatiran akan kelebihan pasokan. Glencore mencatat bahwa banyak produsen batu bara Australia mempertimbangkan untuk tutup karena kelebihan pasokan dari tempat lain.
Sementara China mengumumkan produksinya akan meningkat 1,5 persen menjadi 4,82 miliar ton pada tahun 2025 setelah mencatat rekor pada tahun 2024. Selain itu, produksi Indonesia naik ke rekor tertinggi 836 juta ton pada tahun 2024, 18 persen di atas targetnya.
ADVERTISEMENT
CPO
Harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menguat pada penutupan perdagangan Jumat. Berdasarkan situs tradingeconomics, harga CPO naik 0,86 persen menjadi MYR 4.578 per ton.
Harga minyak sawit berjangka Malaysia dipengaruhi kekhawatiran ketegangan perdagangan global meningkat setelah China berencana mengenakan tarif impor pada minyak lobak dan bungkil lobak Kanada. Beralih ke data bulanan dari Dewan Minyak Sawit Malaysia, ekspor Februari turun 16,27 persen dari bulan sebelumnya ke level terendah dalam 4 tahun sebesar 1 juta ton.
Di India, pembeli minyak sawit terbesar, indikasi awal menunjukkan bahwa importir mungkin meningkatkan pembelian pada bulan Maret untuk memperbarui stok.
Nikel
Harga nikel terpantau mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Jumat. Harga nikel berdasarkan tradingeconomics naik tipis 0,52 persen menjadi USD 16.550 per ton.
ADVERTISEMENT
Harga nikel berjangka naik mencapai titik tertinggi dalam empat bulan karena pasar mempertimbangkan besarnya pemotongan produksi di Indonesia akan melawan pasar yang kelebihan pasokan. Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mengurangi kuota penambangan nikel sebesar 120 juta ton pada tahun 2025, cukup untuk mengurangi pasokan global sebesar 35 persen.
Namun, keengganan pembeli untuk memicu rebound mengindikasikan bahwa nikel mungkin tetap kelebihan pasokan, karena stok di gudang LME tetap lebih dari dua kali lipat dari satu tahun lalu di hampir 200 ribu ton. Sementara itu, permintaan manufaktur yang diukur oleh kedua PMI Tiongkok meningkat pada bulan Februari, membatasi tekanan bearish.
Timah
Sementara itu, harga timah terpantau mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan terakhir, Kamis (13/3). Berdasarkan situs tradingecnomics, harga timah melesat 7,41 persen menjadi USD 35.900 per ton.
ADVERTISEMENT
Harga timah dipengaruhi konflik geopolitik menurunkan pasokan dari produsen utama. Kemajuan kelompok militan pemberontak di Kongo mendorong Alphamin Resources untuk mengevakuasi tambang timahnya di wilayah tersebut, salah satu tambang terbesar di dunia. Hal ini memperbesar dampak dari pasokan yang lebih rendah di tempat lain, seperti Indonesia.
Selain itu, laporan menunjukkan bahwa tambang Man Maw Myanmar belum dipulihkan di tengah konflik politik di produsen timah utama. Produksi yang lebih rendah dari Negara Bagian Wa Myanmar dalam beberapa tahun terakhir telah menekan ketersediaan bijih untuk peleburan China. Di sisi permintaan, peningkatan investasi dalam perangkat keras untuk teknologi AI terus mendukung pembelian.