Industri RI Terpukul Tarif Impor Trump, Pemerintah Diminta Segera Diplomasi

4 April 2025 14:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru dengan disaksikan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru dengan disaksikan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
ADVERTISEMENT
Kebijakan Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor baru dinilai membuat industri, khususnya padat karya di Tanah Air terpukul. Indonesia terkena tarif impor 32 persen dari kebijakan tersebut.
ADVERTISEMENT
Selain menekan sektor usaha padat karya, khususnya yang memproduksi pakaian dan aksesoris baik rajutan maupun bukan rajutan, serta kelompok mebel, furnitur, dan perabotan, komoditas utama lain yang dinilai terimbas besar adalah produk olahan dari daging, ikan, krustasesea (kelompok udang-udangan) dan moluska atau hewan bertubuh lunak semacam siput, dan cumi-cumi.
“Kebijakan tarif Amerika ini menimbulkan risiko yang cukup signifikan bagi Indonesia, karena memukul industri padat karya,” ujar Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, melalui keterangan tertulis, Jumat (4/4).
Christiantoko mengungkapkan dari hasil riset NEXT Indonesia, tiga komoditas dari sektor usaha padat karya yang terpukul adalah pakaian dan aksesorinya - rajutan (HS 61), pakaian dan aksesorinya - bukan rajutan (HS 62), serta mebel, furnitur, dan perabotan (HS 94). Secara keseluruhan, nilai ekspor tiga komoditas tersebut ke Amerika Serikat pada 2024 mencapai USD 6,0 miliar. Nilainya selama periode 2020-2024 mencapai USD 30,4 miliar.
ADVERTISEMENT
Christiantoko menguraikan alasan sektor-sektor tersebut paling terpukul. Sepanjang periode 2020-2024, AS menyerap lebih dari separuh dari total ekspor tiga komoditas asal Indonesia tersebut yang dikirim ke seluruh dunia. Untuk pakaian dan aksesorinya rajutan misalnya, yang diserap pasar AS mencapai 60,5 persen atau senilai USD 12,2 miliar selama lima tahun tersebut.
Sementara daya serap Amerika untuk komoditas pakaian dan aksesorinya yang bukan rajutan asal Indonesia, sepanjang lima tahun di periode yang sama, nilainya USD 10,7 miliar atau 50,5 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia. Begitu juga dengan komoditas mebel, furnitur dan perabotan, AS menyerap 58,2 persen atau sekitar USD 7,5 miliar.
“Jadi kalau pengiriman ke Amerika Serikat terhambat gara-gara tarif, ekspor komoditas-komoditas tersebut bisa terganggu atau bahkan mungkin tumbang. Sebab lebih dari separuh produk-produk tersebut diserap oleh pasar Amerika,” ujar Christiantoko.
ADVERTISEMENT
Christiantoko menjelaskan dampak lanjutannya adalah keamanan tenaga kerja di sektor tekstil dan produk tekstil yang jumlahnya lebih dari 3 juta orang.
“Ini masalah serius yang harus dipikirkan oleh pemerintah, apalagi saat ini sedang ramai-ramainya informasi tentang PHK,” ungkap Christiantoko.
Selain tiga komoditas utama tersebut yang sebagian besar penjualan ekspornya diserap oleh pasar AS, kata Christiantoko, produk lainnya adalah olahan dari daging, ikan, krustasesea dan moluska. Sepanjang 2020-2024, pasar AS menyerap USD 4,3 miliar atau 60,2 persen dari total ekspor Indonesia untuk komoditas tersebut.
Dari 10 komoditas yang dianalisis NEXT Indonesia, Christiantoko menguraikan yang terbesar diekspor ke AS memang komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85), yakni senilai USD 4,2 miliar pada 2024 atau USD 14,7 miliar untuk periode 2020-2024. Namun, dari total ekspor Indonesia ke dunia untuk komoditas tersebut, rata-rata daya serap pasar AS hanya 22,6 persen.
ADVERTISEMENT
“Jadi, walaupun ada pengaruhnya, ya tidak sebesar yang terjadi pada empat komoditas lainnya, yang lebih dari separuhnya diserap pasar Amerika,” jelas Christiantoko.
Christiantoko mengingatkan, yang paling mendesak untuk dilakukan saat ini oleh Indonesia adalah diplomasi. Bisa saja melalui Kedutaan Besar Indonesia di AS yang melakukan perundingan bilateral dengan pemerintah AS untuk memperjuangkan penurunan tarif timbal balik yang sudah diumumkan.
“Jangan sampai terlambat. Saatnya untuk diplomasi segera,” tutur Christiantoko.