Jumlah Pemudik 2025 Turun Imbas Daya Beli Merosot hingga PHK

30 Maret 2025 17:57 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pemudik melintasi jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Pemudik melintasi jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (29/3/2025). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
ADVERTISEMENT
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, semarak perayaan Hari Raya Idul Fitri 1446 H/2025 diwarnai dengan menurunnya jumlah pemudik, yang disinyalir imbas lesunya daya beli masyarakat.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik Lebaran 2025 diperkirakan mencapai 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen dari penduduk Indonesia, turun 24 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.
Ekonom sekaligus Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, mengatakan salah satu penyebab jumlah pemudik lebaran bisa anjlok 24 persen tahun ini karena melemahnya daya beli.
"Faktor pemicunya tentu karena daya beli yang melemah. Masyarakat banyak yang pendapatannya turun, bahkan juga ter-PHK, sehingga ada yang sebagian kemudian tidak memutuskan untuk mudik karena mungkin keterbatasan dari anggaran," jelasnya kepada kumparan, Minggu (30/3).
Eko melanjutkan, anggaran untuk mudik tidak hanya sekadar biaya transportasi, namun masyarakat biasanya harus mengeluarkan pundi-pundi uang lebih untuk berbelanja di kampung halamannya.
UMKM Dekayu menghadirkan pilihan hampers lebaran. Foto: Dok. Istimewa
Misalnya, untuk membeli bingkisan, akrab disebut hampers, membeli kue kering, belanja bahan makanan khas Lebaran, hingga menebarkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk sanak saudara.
ADVERTISEMENT
"Semuanya itu berimplikasi kepada pengeluaran mereka yang meningkat. Kalau di satu sisi pendapatan mereka turun, mungkin ada juga yang ter-PHK, situasinya tentu karena daya beli yang lesu itu," ungkap Eko.
Sementara itu, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengkaji masifnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di dua bulan awal tahun 2025 menekan perekonomian, tidak terkecuali saat momentum Ramadan dan Idul Fitri.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat ada 18.610 orang yang terkena PHK dari Januari hingga Februari 2025. Jumlah tersebut naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2024.
Bahkan, jika mengacu data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), sudah ada 60.000 buruh di-PHK dari 50 perusahaan. Kondisi tersebut membuat kinerja konsumsi melemah, dengan salah satu indikatornya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
ADVERTISEMENT
Direktur Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menyampaikan pada Januari 2025, terjadi penurunan IKK hingga 0,4 persen (month-to-month) dibandingkan IKK Desember 2024. Menurutnya, situasinya cukup anomali.
"Jika kita mengacu pada periode 2022 hingga 2024, biasanya terjadi kenaikan IKK di bulan Januari karena ada optimisme konsumen di awal tahun. Kondisi keyakinan konsumen melemah juga terjadi di bulan Februari 2025," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sejumlah pemudik kereta api Sawunggalih berjalan keluar setibanya di Stasiun Pasar Senen, Sabtu (13/4/2024). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Data lainnya juga menunjukkan hal yang serupa, yakni penurunan angka Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2025 menjadi 211,5 poin, dari sebelumnya 222 poin pada Desember 2024.
"Jika kita tengok pergerakan di Desember 2023 ke Januari 2024 masih bergerak positif. Artinya, konsumen yang tidak yakin akan perekonomian tahun 2025, mendorong penjualan eceran kita juga turun. Akibatnya, daya beli masyarakat kian terperosok di awal tahun 2025,” imbuh Huda.
ADVERTISEMENT
Dengan kondisi tersebut, Huda menyampaikan perputaran uang juga akan melemah dibandingkan dengan tahun lalu. Tambahan Jumlah Uang yang Beredar (JUB) dalam artian sempit (M1) di momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2025 akan melemah sebesar 16,5 persen dibandingkan momen yang sama di tahun 2024.
"Tambahan uang beredar hanya di angka Rp 114,37 triliun. Sedangkan tahun 2024, tambahan uang beredar ketika momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri mencapai Rp 136,97 triliun," ujar Huda.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menambahkan dengan penurunan tambahan uang beredar di momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, maka berdampak pada pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) secara nasional yang tidak optimal.
Berdasarkan modelling yang dilakukan CELIOS pada tahun 2024, tambahan PDB akibat adanya momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri mencapai Rp 168,55 triliun. Sedangkan tahun 2025 hanya Rp 140,74 triliun atau turun 16,5 persen.
ADVERTISEMENT
"Sedangkan keuntungan pengusaha hanya Rp 84,19 triliun, jauh di bawah tambahan pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp 100,83 triliun,” ungkap Bhima.
Indikator lain yang memotret pelemahan daya beli masyarakat adalah menurunnya porsi simpanan perorangan yang hanya mencapai 46,4 persen terhadap total DPK (Dana Pihak Ketiga). Hal ini, kata Bhima, tidak pernah terjadi di awal pemerintahan sebelumnya. Pada awal periode Jokowi-JK, simpanan perorangan porsinya 58,5 persen dan Jokowi-Amin sebesar 57,4 persen.
"Merosotnya porsi tabungan perorangan, mengindikasikan masyarakat cenderung bertahan hidup dengan menguras simpanan, karena upah riil terlalu kecil, tunjangan berkurang, dan ancaman PHK masih berlanjut," tandas Bhima.