Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Tren Beli Rumah Setelah Lebaran 2025 Diprediksi Masih Lemah
4 April 2025 10:25 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Yunus mengatakan peningkatan itu ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kondisi ekonomi makro, kebijakan terkait properti, dan daya beli masyarakat. Jika kondisi ekonomi sehat dan kebijakan pemerintah mendukung, maka daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Sehingga dapat mendorong peningkatan aktivitas sektor properti.
Yunus menilai dampak diskon rumah dan promo setelah lebaran biasanya menjadi strategi pengembang untuk meningkatkan penjualan setelah periode Ramadan.
"Ini tidak selalu mengindikasikan penurunan daya beli, tetapi juga bisa merupakan strategi untuk kembali menarik minat pembeli potensial," ujar Yunus kepada kumparan, Kamis (3/4).
Dia melihat pembelian rumah masih didominasi oleh pembeli yang merupakan pengguna akhir atau end user, dibandingkan untuk tujuan investasi.
Setelah lebaran, kata Yunus, pembeli potensial yang sudah memiliki niat untuk mencari hunian, mulai kembali fokus dalam memilih hunian yang sesuai baik secara produk, lokasi maupun kemampuan finansialnya.
ADVERTISEMENT
"Tren pemburuan properti pasca-lebaran biasanya bersifat periodik dan tidak selalu mempengaruhi harga pasar jangka panjang," ujar Yunus.
Yunus mengimbau kepada calon pembeli rumah setelah Idulfitri 2025 agar tidak hanya melihat besaran diskon, tetapi yang perlu diperhatikan adalah kualitas properti dan reputasi pengembang, lokasi dan prospek pengembangan area, legalitas juga kelengkapan dokumen, dan harga pasar yang wajar.
"Amat penting untuk tidak terburu-buru dalam membuat keputusan hanya karena tawaran diskon yang menarik. Lakukan uji tuntas yang menyeluruh dan pertimbangkan kesesuaian dengan kebutuhan," tutur Yunus.
Sementara itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memprediksi pembelian rumah tapak setelah Idulfitri 2025 belum menunjukkan kenaikan yang signifikan alias masih negatif.
"Pascalebaran kelihatannya sih belum ya (pembelian rumah) karena tadi penjualan rumahnya masih negatif," ungkap Bhima kepada kumparan, dikutip pada Kamis (3/4).
ADVERTISEMENT
Menurutnya, sampai kini daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah masih lesu dan mempengaruhi sektor properti Tanah Air. Ini disebabkan karena banyaknya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan gerakan menghemat THR.
Meski begitu, Bhima melihat ada juga masyarakat yang sudah merencanakan pembelian rumah lewat skema KPR, ditambah adanya diskon besar-besaran yang ditawarkan developer bisa menjadi pemanis.
Bhima menuturkan faktor yang membuat masyarakat enggan membeli rumah karena sering kali permasalahan ada di KPR jenis floating rate mengikuti suku bunga Bank Indonesia (BI).
"Jadi yang perlu dilihat sebenarnya buat masyarakat itu adalah dari segi suku bunga. Nah suku bunga itu punya andil 14,3 persen faktor yang menghambat penjualan properti," ujar Bhima.
"Banyak konsumen yang merasa bahwa suku bunga floating-nya jadi tinggi sekali gitu jadi fixed rate-nya bisa 7 persen misalnya 1-2 tahun, tapi tahun ketiga begitu suku bunganya menjadi floating rate pada kaget ada yang 15 persen," tambahnya
ADVERTISEMENT
BI telah merilis data rumah tipe kecil dan menengah tengah turun. Hal ini dimuat dalam rilis Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) kuartal IV 2024.
Pada kuartal IV 2024, penjualan properti residensial mencatat kontraksi pertumbuhan sebesar 15,09 persen year on year (yoy). Angka ini lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal sebelumnya sebesar 7,14 persen (yoy).
Perkembangan tersebut didorong penurunan penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang masing-masing tercatat kontraksi 23,70 persen (yoy) dan 16,6 persen (yoy). Sementara penjualan rumah tipe besar tumbuh 20,44 persen (yoy) pada kuartal IV 2024.
Selain itu, pertumbuhan penjualan rumah primer pada kuartal IV 2024 juga terkontraksi pada rumah tipe kecil dan menengah masing-masing 11,94 persen quartal to quartal (qtq) dan 9,13 persen qtq. Sementara penjualan rumah tipe besar naik 14,12 persen qtq.
ADVERTISEMENT
Sehingga, penjualan rumah primer pada kuartal IV 2024 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 6,62 persen secara qtq, melanjutkan kontraksi pada kuartal sebelumnya sebesar 7,62 persen qtq.