Cerita dari Peron: Kisah Tohari yang Sudah 15 Tahun Tak Mudik saat Lebaran

5 April 2025 13:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Asisten Manager Eksternal Humas KAI Daop 1 Jakarta, Tohari, di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (5/4/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Asisten Manager Eksternal Humas KAI Daop 1 Jakarta, Tohari, di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (5/4/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
ADVERTISEMENT
Di tengah riuh rendah arus balik di Stasiun Pasar Senen, di antara koper-koper yang digeret, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah yang membawa rindu kembali ke Jakarta, berdiri sosok yang justru tak pernah benar-benar pergi.
ADVERTISEMENT
Ia tak datang dari kampung, tak pulang dari cuti, tak membawa oleh-oleh selain tanggung jawab. Namanya Tohari (50), Asisten Manager Eksternal Humas DAOP 1 Jakarta.
"Saya di DAOP 1 Jakarta itu per tanggal 12 Desember tahun 2022," ucapnya saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (5/4).
Suasana saat H+5 Lebaran di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (5/4/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Tugasnya sederhana tapi tak pernah ringan, menjadi bagian dari tim yang memastikan arus mudik dan balik berjalan lancar. Termasuk saat Lebaran, saat jutaan orang berlomba pulang, Tohari justru tetap tinggal.
Sejak awal mulai merantau dari kampung halamannya, Tohari tak pernah lagi mudik kala Lebaran.
“Saya dari dulu setelah keluar dari Jember, ya, saya tuh udah enggak pernah mudik di saat lebaran. Karena memang kita sudah harus menjalankan tugas posko, ya, untuk membantu masyarakat penumpang kereta api dalam melaksanakan mudik," terangnya.
ADVERTISEMENT
Lebarannya bukan di kampung halaman. Bukan juga di meja makan penuh ketupat dan opor ayam. Melainkan di stasiun, bersama lonceng keberangkatan dan suara peluit kereta yang jadi irama hari rayanya.
Tohari asli Jember, daerah yang masuk wilayah Daop 9. Di sanalah istri dan tujuh anaknya menanti setiap tahun. Mereka sudah paham dengan pekerjaan sang ayah, kini mereka tak lagi berharap sang ayah bisa pulang saat takbir hari kemenangan menggema.
Suasana saat H+5 Lebaran di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (5/4/2025). Foto: Zamachsyari/kumparan
Kendati tak berharap, Tohari mengakui anak-anaknya masih ada yang protes, kenapa sosoknya tidak pernah ada di setiap hari besar tiba.
"Ya, protes pasti ya. Utamanya yang masih kecil-kecil ini biasanya, ya. Anak-anak yang masih kecil-kecil itu. Biasanya protes. Enggak pernah pulang. Tapi kalau yang sudah gede-gede, ya sudah tahu," kata Tohari sambil tersenyum.
ADVERTISEMENT
Sejak menjadi masinis pada 1998, hingga kini menjadi bagian dari tim humas, tradisi tidak mudik itu terus ia jalani. Bahkan dulu, ketika masih mengemudikan lokomotif, ia sering kali Salat Id bukan di tanah kelahiran, tapi di stasiun tempat ia ditugaskan, Surabaya, Banyuwangi, atau Jakarta.
"Saya berdinas itu mulai sejak 96. Ya dua tahun di awal [salat] di rumah lah. 96, 97, 98 masih bisa di rumah. Setelah saya menjadi masinis, sudah mulai ini [enggak mudik]. Bisa [dibilang] lebih dari 15 tahun," cerita Tohari.
Sejumlah pemudik menunggu kedatangan kereta api saat H+4 Lebaran di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (4/4/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
Meski tak pernah pulang saat Lebaran, ia tetap punya caranya sendiri untuk menyambung hangat keluarga.
"Sebelum kita standby posko kita video call-an dulu lah. Ya, sama istri, sama anak-anak ya. Yang penting anak-anak, istri di rumah, terus orang tua semuanya sehat," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
Tohari tak pernah sendiri dalam tugas. Teman-teman sejawatnya di Posko juga berjaga silih berganti. Setelah masa sibuk usai, barulah ia dapat libur pengganti. Tapi momen Lebaran tetap menjadi hal yang tak bisa digantikan. Terutama bagi si bungsu, yang masih suka bertanya musabab dirinya tak pulang.
Kini, ia tak lagi duduk di balik kendali lokomotif. Tapi semangatnya masih melaju seperti kereta, setia dengan tujuan, tak berhenti meski lelah, dan selalu kembali tepat waktu. Bukan untuk dirinya, tapi untuk para penumpang yang ingin pulang.
"Kalau sekarang [saya] bagian asisten manager humas," pungkasnya.
Tohari mungkin tak mudik. Namun lewat tangannya, ratusan ribu orang bisa sampai ke pelukan keluarga. Lewat dedikasinya, kereta tak hanya jadi alat transportasi, tapi jadi penghubung rindu.
ADVERTISEMENT