Heboh Nenek di Jombang Harus Datang Sendiri Ambil Pupuk Subsidi Padahal Sakit

27 Februari 2025 11:24 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi pupuk urea. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pupuk urea. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Beredar video seorang nenek yang terbaring di mobil ambulans harus dibawa ke sebuah kios di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang. Hal ini karena ia hendak membeli pupuk bersubsidi yang tidak boleh diwakilkan.
ADVERTISEMENT
Aturan itu sesuai sistem Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang mengharuskan penerima datang sendiri, menunjukkan identitas, foto, dan menandatangi bukti penerima digital. Jika tidak bisa hadir langsung, harus ada surat kuasa.
Kepala Desa Pucangsimo, Muhammad Soni, membenarkan peristiwa dalam video tersebut terjadi di desanya. Nenek yang terbaring di ambulans tersebut merupakan warga Desa Brodot, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.
Soni mengatakan, usai kejadian viral tersebut, sejumlah pihak mulai petani, penyuluh pertanian laoangan (PPL) hingga Babinsa dikumpulkan untuk membahas masalah itu.
"Jadi kemarin itu petani itu mau mengambil pupuk. Ini cerita sebenarnya ndak tahu tapi saya melihat di video itu ternyata harus orangnya sendiri padahal sudah dibilangi kalau orangnya sakit yang punya nama. Akhirnya kalau nggak percaya dibawa di siaga itu," kata Soni, Kamis (27/2).
ADVERTISEMENT
Soni menyampaikan bahwa Dinas Pertanian harus segera menangani permasalahan tersebut. Hal ini agar tidak mempersulit petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.
"Kami ini berharap kepada dinas pertanian tolong jangan sampai dipersulit untuk pembagian pupuk yang bersubsidi itu. Karena kan nggak mungkin masyarakat kecil ini sampai membohongi ketika itu sudah masuk di RDKK. Ketika sudah RDKK ada copy-annya bahwa yang ngambil siapa pun kan boleh-boleh saja ndak mungkin keliru," ucapnya.
Menurutnya, sistem pengambilan pupuk bersubsidi ini dianggap masih menyulitkan para petani. Mulai dari tanda tangan digital hingga penggunaan surat kuasa.
"Ya itu aturannya itu karena harus datang sendiri pakai tanda tangan. Lah itu mereka yang petani tua-tua itu apa ya bisa tanda tangan di HP, datang. Terus kalau diwakilkan itu minta surat kuasa, suratnya harus ambil, itu kan sulit," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, kata Soni, para petani juga mengeluhkan terkait keterlambatan pupuk bersubsidi. Sehingga terkadang tidak sesuai waktu antara melakukan pemupukan sawah dengan datangnya pupuk tersebut.
"Kan kemarin banyak warga yang cerita ketika waktunya mupuk itu pupuk belum datang. Padahal itu yang sudah diharapkan. Tapi ketika selesai mupuk, pupuk itu datang. Terkadang pupuk itu datang pengambilannya susah sekali. Jadi mereka itu yang ke sawah anaknya suruh ngambil ndak bisa karena ya aturan yang sangat ribet sekali itu," ungkapnya.
"Nggak tau ini kepala dinas harus mengubah ini. Untuk ketahanan pangan harus dipermudah lah pupuk cara pengambilannya. Kalau sudah didaftarkan di RDKK kan nggak mungkin keliru kios itu," tambahnya.
Sementara itu, penjaga kios pupuk, Khusnul Khotimah, juga membenarkan bahwa lansia dalam video tersebut datang ke kiosnya dengan mobil ambulans.
ADVERTISEMENT
Namun, ia membantah bahwa prosedur pembelian pupuk bersubsidi terlalu rumit.
"Cukup datang membawa KTP dan KK. Kalau diwakilkan harus anggota keluarga dalam satu KK yang membawa KTP," kata Khusnul.