Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Kisah Pedagang Kue di Tanah Kusir, Rela Tak Mudik demi Mengais Rezeki
1 April 2025 17:03 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Suasana TPU Tanah Kusir ternyata masih dipadati peziarah pada H+1 lebaran, Selasa (1/4). Asep berdiri di samping gerobak kecilnya, dikelilingi asap tipis dari arang yang ia gunakan untuk memanggang kue cubit.
ADVERTISEMENT
Asep, pedagang asal Garut ini sudah 27 tahun tinggal di Jakarta. Ia memilih tak mudik, untuk berjualan di Hari Lebaran.
Beberapa pelanggan terlihat datang membeli, sebagian besar anak-anak nampak terpikat dengan aroma manis yang menguar dari dagangannya.
Pada momen seperti Lebaran ini, Asep selalu dapat rezeki melimpah. Ia bisa mengantongi omzet Rp 1 juta sehari.
“Kalau lebaran ada, lah, (satu juta), tergantung bawanya kemarin kan bawanya (adonan) 9 kilo. Hari ini 7 kilo,” kata Asep sambil membolak-balik adonan di cetakan besinya, Selasa (1/4).
Asep jeli melihat peluang. Ia tahu TPU Tanah Kusir selalu ramai saat Lebaran. Maka ia menambah adonan yang ia bawa. Sebab, sehari-hari ia hanya membawa 3-4 kilo adonan.
ADVERTISEMENT
Hari ini ia hanya membawa 7 kilo adonan, karena ia tahu, puncak kunjungan peziarah sudah lewat.
“Hari ini rame, tapi kemarin lebih rame lagi. Dibanding hari biasa, jauh bedanya,” kata Asep.
Namun, di balik kenaikan omzet, ada tantangan tersendiri: harga bahan baku ikut naik menjelang Lebaran.
“Gula, tepung, kelapa, semuanya naik. Ini santan segini (menunjukkan plastik kecil) aja udah Rp 30 ribu. Barangnya jarang, yang nyari banyak,” keluhnya.
Dari Lulus SMP Hingga Sekarang: Bertahan dengan Kue Cubit
Asep sudah berjualan kue cubit sejak 1997, setelah lulus SMP. Awalnya, ia ikut ayahnya yang lebih dulu berdagang.
“Dulu niatnya mau pesantren, tapi akhirnya ikut bapak jualan,” katanya.
Dulu, ia harus memikul dagangannya ke mana-mana. Kini, ia menggunakan gerobak yang berdagang di Tanah Kusir setiap akhir pekan, sementara di hari biasa ia berjualan di sekolah Limau, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
Tahun ini, ia melewatkan momen berkumpul dengan keluarga demi menjaga dapur tetap ngebul.
“Alhamdulillah yang penting dapur ngebul,” ujarnya.