Rusia Ingin Damai Jangka Panjang dengan Ukraina, Harus Selesai ke Akar Konflik

13 Maret 2025 20:21 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov dalam press briefing di kediamannya di Jakarta, Kamis (13/3/2025). Foto: Tiara Hasna/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov dalam press briefing di kediamannya di Jakarta, Kamis (13/3/2025). Foto: Tiara Hasna/kumparan
ADVERTISEMENT
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, menegaskan upaya perdamaian dengan Ukraina harus menyelesaikan akar konflik, bukan sekadar gencatan senjata. Pernyataan itu disampaikan dalam jumpa pers di kediamannya di Jakarta, Kamis (13/3).
ADVERTISEMENT
Tolchenov merespons optimisme Presiden AS Donald Trump terhadap gencatan senjata Rusia-Ukraina dengan sikap lebih hati-hati.
Baginya, dialog harus terjadi langsung antara Rusia dan Ukraina, bukan bergantung pada negara lain.
“Kami menunggu informasi resmi dari pihak Ukraina atau Amerika mengenai perundingan di Arab Saudi. Sejauh ini, yang beredar hanya rumor,” ujarnya di hadapan media.
Menurutnya posisi Rusia sejak awal bukan menginginkan gencatan senjata, melainkan perdamaian jangka panjang.
Ia menilai gencatan senjata berisiko dimanfaatkan pihak lawan untuk memperkuat persenjataan dari Barat.
“Ini sudah terjadi berkali-kali. Setelah gencatan senjata, perang justru pecah dengan skala lebih besar. Sebab itu, akar konflik harus diselesaikan,” katanya.
Api membakar sebuah bangunan yang hancur akibat serangan rudal Rusia saat konflik Rusia dan Ukraina di Kryvyi Rih, Ukraina, Rabu (5/3/2025). Foto: Ukraine in Dnipropetrovsk region/Handout via REUTERS
Tolchenov menjabarkan, negaranya hanya ingin Ukraina bersikap netral, tak memiliki pangkalan militer NATO, serta menjalani proses demiliterisasi.
ADVERTISEMENT
Ia pun menegaskan Rusia tak akan berkompromi soal Krimea dan wilayah yang kini diklaim sebagai bagian negaranya.
“Tidak banyak yang kami minta. Tapi harus ada langkah nyata dari Ukraina, termasuk kejelasan status Volodymyr Zelensky, yang menurut kami sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden sejak Mei lalu,” ujarnya.

Hubungan Rusia-Amerika dan Potensi Pertemuan Putin-Trump

Pertemuan Trump dan Putin di KTT APEC. Foto: REUTERS/Jorge Silva
Tolchenov melihat tanda-tanda perubahan sikap pemerintahan AS terhadap Rusia sejak transisi kepemimpinan.
“Sekarang pendekatannya lebih rasional, tidak sekadar menghukum Rusia untuk segala hal. Mereka bekerja demi kepentingan mereka sendiri, begitu juga kami,” katanya.
Salah satu indikatornya adalah perbaikan kondisi kerja diplomat Rusia di AS, termasuk akses perjalanan dan properti diplomatik yang sebelumnya dibatasi.
“Kalau ini terus berkembang, dialog bisa meluas ke banyak bidang, termasuk politik dan keamanan strategis,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Soal kemungkinan pertemuan antara Vladimir Putin dan Donald Trump, Tolchenov meminta untuk sabar.
“Keinginan bertemu itu sudah disampaikan, tapi butuh pembahasan detail di tingkat Kementerian Luar Negeri. Kalau ada permintaan jelas dari Amerika, pertemuan bisa diatur dengan cepat,” katanya.
Ketika ditanya apakah ada tenggat waktu untuk merespons usulan gencatan senjata, Tolchenov menampiknya.
“Bukan waktu yang penting, melainkan isi kesepakatan. Kalau butuh dua hari atau dua bulan, yang penting substansinya benar,” katanya.
Saat ditanya apakah ada prediksi kapan perdamaian bisa tercapai, Tolchenov menjawab singkat, “Saya bukan peramal”.