Ahli Nuklir China di AS Pulang Kampung, Gabung Kampus Beijing buat Riset Energi

14 Maret 2025 12:49 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Nuklir. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nuklir. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Gelombang ilmuwan China yang memutuskan meninggalkan AS untuk kembali ke negara asalnya semakin bertambah. Kali ini, giliran Liu Chang yang sudah berada di AS selama lebih dari satu dekade.
ADVERTISEMENT
Keputusan ini menjadi sorotan karena Chang telah memberikan kontribusi besar dalam penelitian energi fusi, yang dianggap sebagai solusi utama untuk menghasilkan energi bersih yang berkelanjutan di masa depan.
Ahli nuklir itu pulang kampung bergabung dengan Peking University di Beijing, China, setelah berkarier di Princeton University. Keputusan ini menjadi sorotan karena Chang telah memberikan kontribusi besar dalam penelitian energi fusi.
Liu Chang bekerja sebagai asisten profesor Institute of Heavy Ion Physics di School of Physics, Peking University. Menurut postingan resmi di akun media sosial departemennya, ia sudah bergabung sejak bulan lalu.
Studi utamanya mencakup fisika plasma dan fusi nuklir, mengutip South China Morning Post (SCMP). Secara khusus, Chang berfokus dalam mengatasi isu terkait elektron lepas —fenomena kebocoran energi yang dapat menghambat stabilitas reaktor fusi— dan partikel energi lain dalam perangkat fusi kurungan magnetik.
ADVERTISEMENT
Pengurungan magnetik kini dipandang sebagai jalur utama untuk mewujudkan fusi nuklir. Reaktor paling umum dari jenis ini adalah tokamak dan stellarator.
Chang telah mempublikasikan hasil penelitiannya di beragam jurnal sains. Salah satunya di Physical Review Letters pada 2023, ketika ia dan timnya menemukan metode inovatif untuk mengurangi dampak merusak dari elektron lepas dengan memanfaatkan gelombang plasma unik dalam reaktor tokamak.
Kembalinya Liu Chang ke China mencerminkan tren semakin banyaknya peneliti yang memilih untuk berkontribusi di negara asal mereka, memperkuat ekosistem riset dan inovasi domestik. Dengan keahliannya, Chang diharapkan dapat mempercepat langkah China dalam pengembangan energi fusi, yang dapat menjadi kunci bagi masa depan energi global.