Ilmuwan Klaim Matahari Bisa Picu Gempa Bumi, Ini Penjelasannya

19 Maret 2025 3:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Matahari. Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Matahari. Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Sebuah studi baru menemukan panas dari Matahari kemungkinan dapat berperan dalam memicu terjadinya gempa bumi. Temuan ini dapat digunakan untuk meningkatkan prediksi gempa bumi dengan memperhitungkan prakiraan Matahari.
ADVERTISEMENT
Riset dilakukan oleh tim peneliti internasional dari Brazil dan Jepang, dengan pemodelannya menghubungkan aktivitas Matahari dan seismik melalui efek Matahari pada atmosfer Bumi.
Tim menyebut, pengaruh panas Matahari terhadap gempa bumi bisa dibilang sangat kecil, tapi hal tersebut bisa menjadi bagian dari teka-teki yang lebih besar.
“Ini adalah arah yang menarik, dan kami berharap penelitian ini akan memberikan sedikit pencerahan mengenai gambaran yang lebih besar tentang apa yang memicu gempa bumi,” papar Mathues Saldanha, penulis penelitian dan ilmuwan komputer di University of Sao Paulo, Brasil, mengutip Newsweek.
Gempa bumi terjadi karena pelepasan energi di dalam Bumi secara tiba-tiba, yang menciptakan gelombang seismik, dan biasanya disebabkan oleh pergerakan lempeng Bumi (tektonik) atau aktivitas gunung berapi.
Ilustrasi gempa bumi. Foto: Getty Images
Lempeng-lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi bergerak, bersentuhan, atau saling menjepit satu sama lain. Saat lempeng-lempeng ini bergerak, energi potensial yang terakumulasi dilepaskan, menyebabkan gempa bumi.
ADVERTISEMENT
Studi kali ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan antara jumlah bintik Matahari dan aktivitas seismik di Bumi. Analisis tersebut menemukan bahwa keakuratan prediksi besarnya gempa bumi di esok hari meningkat sebesar 2,6 hingga 17,9 persen apabila data aktivitas Matahari turut diperhitungkan.
Para ilmuwan dalam penelitian terbarunya menganalisis data gempa bumi bersamaan dengan catatan aktivitas Matahari dan suhu permukaan Bumi.
“Panas Matahari mendorong perubahan suhu atmosfer yang pada gilirannya dapat memengaruhi hal-hal seperti sifat batuan dan pergerakan air bawah tanah,” papar Saldanha.
“Fluktuasi semacam ini bisa membuat batuan lebih rapuh dan rentan retak, dan perubahan curah hujan dan pencairan salju dapat mengubah tekanan batas lempeng tektonik. Meski faktor-faktor ini mungkin bukan pendorong utama terjadinya gempa bumi, tapi faktor ini tetap dapat berperan dalam membantu memprediksi aktivitas seismik.”
ADVERTISEMENT
Faktanya, tim mencatat hasil akurat ketika memasukkan rincian suhu permukaan Bumi ke dalam model seismik, terutama dalam kasus gempa bumi dangkal.
“Ini masuk akal, karena panas dan air sebagian besar memengaruhi lapisan atas kerak Bumi,” kata Saldanha.