Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Pemakaian Energi Terbarukan Melonjak Tinggi, China Penyumbang Terbesar
4 April 2025 13:33 WIB
·
waktu baca 2 menit
ADVERTISEMENT
Pemasangan energi terbarukan di seluruh dunia mencapai rekor tertinggi pada 2024. Hampir 64 persen sumber energi terbarukan tahun lalu disumbangkan oleh China.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) secara keseluruhan, dunia menambahkan 585 miliar watt energi listrik terbarukan yang menandakan lompatan sebesar 15,1 persen dari 2023.
Laporan yang sama menyatakan 92,5 persen sumber listrik terbarukan sudah berasal dari tenaga bersih, seperti Matahari, angin, atau yang lainnya.
China menambahkan hampir 374 miliar watt tenaga terbarukan -tiga perempatnya berasal dari panel surya- pada 2024. Jumlah tersebut delapan kali lipat lebih banyak daripada Amerika Serikat dan lima kali lipat dari Eropa.
China sekarang memiliki hampir 887 miliar watt tenaga panel surya, sedangkan Amerika Serikat mempunyai 176 miliar watt energi terbarukan. Sementara itu, hampir 90 miliar watt di Jerman, 21 miliar watt di Prancis dan lebih dari 17 miliar watt di Inggris.
ADVERTISEMENT
Kepala iklim PBB Simon Stiell mengumumkan angka-angka tersebut pada hari Rabu (26/3) untuk menantang Eropa dan negara-negara industri lainnya untuk mengejar ketertinggalan mereka dari China.
“Ketika satu pemerintah mundur dari kepemimpinan iklim, hal ini membuka ruang bagi pemerintah lainnya untuk melangkah maju dan mengambil manfaat yang besar,” kata Stiell kepada para pemimpin Eropa di Berlin, merujuk pada penarikan AS dari perjanjian iklim Paris.
Meskipun 2024 menandai adanya rekor baru, kemajuan ini masih jauh dari yang dibutuhkan untuk mencapai target global dalam terpasangnya energi terbarukan di 2030. Untuk mencapai target tersebut, kapasitas energi terbarukan kini harus diperluas sebesar 16,6% per tahun hingga 2030.