Pemakaian Energi Terbarukan Melonjak Tinggi, China Penyumbang Terbesar

4 April 2025 13:33 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas melakukan pengecekan termal kabel panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 MWp yang dioperasikan Vena Energy di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (15/7/2024).  Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas melakukan pengecekan termal kabel panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 MWp yang dioperasikan Vena Energy di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Senin (15/7/2024). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTO
ADVERTISEMENT
Pemasangan energi terbarukan di seluruh dunia mencapai rekor tertinggi pada 2024. Hampir 64 persen sumber energi terbarukan tahun lalu disumbangkan oleh China.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) secara keseluruhan, dunia menambahkan 585 miliar watt energi listrik terbarukan yang menandakan lompatan sebesar 15,1 persen dari 2023.
Laporan yang sama menyatakan 92,5 persen sumber listrik terbarukan sudah berasal dari tenaga bersih, seperti Matahari, angin, atau yang lainnya.
China menambahkan hampir 374 miliar watt tenaga terbarukan -tiga perempatnya berasal dari panel surya- pada 2024. Jumlah tersebut delapan kali lipat lebih banyak daripada Amerika Serikat dan lima kali lipat dari Eropa.
Pengelola membersihkan panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (28/10/2022). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
China sekarang memiliki hampir 887 miliar watt tenaga panel surya, sedangkan Amerika Serikat mempunyai 176 miliar watt energi terbarukan. Sementara itu, hampir 90 miliar watt di Jerman, 21 miliar watt di Prancis dan lebih dari 17 miliar watt di Inggris.
ADVERTISEMENT
Kepala iklim PBB Simon Stiell mengumumkan angka-angka tersebut pada hari Rabu (26/3) untuk menantang Eropa dan negara-negara industri lainnya untuk mengejar ketertinggalan mereka dari China.
“Ketika satu pemerintah mundur dari kepemimpinan iklim, hal ini membuka ruang bagi pemerintah lainnya untuk melangkah maju dan mengambil manfaat yang besar,” kata Stiell kepada para pemimpin Eropa di Berlin, merujuk pada penarikan AS dari perjanjian iklim Paris.
Meskipun 2024 menandai adanya rekor baru, kemajuan ini masih jauh dari yang dibutuhkan untuk mencapai target global dalam terpasangnya energi terbarukan di 2030. Untuk mencapai target tersebut, kapasitas energi terbarukan kini harus diperluas sebesar 16,6% per tahun hingga 2030.