Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais: dari Hati Jatuh ke Tangan

4 April 2025 19:22 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
zoom-in-whitePerbesar
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
ADVERTISEMENT
Duo desainer Domenico Dolce dan Stefano Gabbana merayakan 40 tahun berkarya dengan menggelar pameran di Grand Palais, Paris bertajuk ‘Du Coeur à La Main (From the Heart to the Hand)’.
ADVERTISEMENT
Pameran ini seperti uluran tangan yang mengajak pengunjung terpesona oleh keindahan karya inggil Italia. Dari awal sampai akhir, setiap detail tampilan mampu memanjakan segala indera. Pengunjung seperti diingatkan kembali akan manisnya kehidupan, La Dolce Vita!
Sesuai judulnya, pameran ini adalah penelusuran apa yang ada dalam benak dua desainer Italia, dari hati hingga realisasinya, dengan tangan. Sang kurator Florence Müller membagi pameran dalam 12 babak yang dipisahkan oleh tirai beludru hitam.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Tanpa kaca pemisah, pengunjung dapat melihat secara jelas 200 kreasi Alta Moda (adibusana wanita) dan Alta Sartoria (busana formal pria), 300 aksesori buatan tangan termasuk Alta Gioielleria (perhiasan), dan 130 karya seni asli yang tersebar di area seluas 1.200 meter persegi di tiga lantai.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Pameran pertama Dolce&Gabbana di Paris ini menunjukkan keunggulan haute couture Italia yang dapat menyaingi kedigdayaan Prancis dan ibukotanya sebagai pusat mode dunia. Stefano Gabbana yang asal Milan dan Domenico Dolce dari Sicilia menyisir akar adibusana yang kuat di tiap jengkal tanah Italia dari utara ke selatan, dari Florensia, Roma, hingga Palermo: kerajinan tangan, arsitektural, agama dan ketaatan, film dan opera.
ADVERTISEMENT
Babak berjudul Fatto a mano (handmade), mempertontonkan keinggilan kualitas buatan tangan para perajinnya. Dikelilingi oleh lukisan-lukisan karya seniman Anh Duong, ruangan ini seperti orkestra yang memindahkan warna-warna menyala Capri dalam bordir yang berkilap, keranjang buluh ala Puglia ke dalam gaun korset, serta imaji-imaji Palazzo Vecchio atau Katedral di Florensia yang menjadi aplikasi yang kompleks.
Beberapa setel pakaian berenda putih dari gaun pengantin hingga kemeja seperti mengajak negeri seperti Prancis atau India untuk bertanding.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Keceriaan warna Sicilia berhamburan merayakan karya perajin di babak Sicilian Traditions. Tiga perajin tersohor menciptakan gerobak prosesi, panel dinding kayu, dan ubin lantai keramik yang menjadi pentas bagi gaun-gaun bermotif roda dan kuningnya lemon dengan hiasan kepala dari bulu-bulu yang menjulang tinggi.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Babak Dream of Divinity dan Divine Mosaics mempertontonkan kemuliaan umat manusia. Berlatar pilar yang purba, manusia menjadi dewa-dewi dalam pakaian yang indah, keemasan sarat detail dan mosaik.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Devotion adalah babak tentang ketaatan. Dalam berbagai kreasi Dolce&Gabbana, motif hati yang suci kerap menjadi pusat dari desainnya. Di babak ini, tas bergambar hati ditempatkan dalam tahta, dijaga oleh sosok-sosok setia yang mengenakan gaun ornamen keemasan dan cadar hitam.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
ADVERTISEMENT
Babak White Baroque menyajikan karya-karya yang terinsiprasi oleh pematung Giacomo Serpotta (1656-1732) yang membuat patung bergaya Rococo dengan teknik plester. Jika patung biasanya terbuat dari campuran plester gipsum, duo desainer memakai rambut kuda dan isi bantalan untuk membuat efek volume dalam gaun sebelum ditutup dengan bahan duchess satin.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais, Paris. Foto: Rifina Marie
Dari babak ke babak, pameran ini benar-benar memberi kejutan yang memanjakan dengan keindahan. Setting film The Leopard karya Luchino Visconti yang dihidupkan kembali lewat gaun tulle dan motif kucing besar.
Babak Opera yang bersinggungan erat dengan haute couture dan kemewahannya. The Art and Craft of Glassworking yang menampilkan refleksi dari berbagai kilat: kaca, garmen, chandelier.
Pameran Dolce&Gabbana di Grand Palais: dari Hati Jatuh ke Tangan. Foto: Rifina Marie
Dan tentu saja yang menjadi jantung kehidupan, sebuah ruang khusus di mana pengunjung bisa melihat pecah pola, guntingan kain, dan renda-renda yang dijahit oleh tangan-tangan perajin. Adibusana memang hanya bisa dibeli oleh segelintir saja. Tapi keindahan pada akhirnya adalah milik semua.
ADVERTISEMENT
Penulis: Rifina Marie