Konten dari Pengguna

Viralnya Pelan-Pelan: Ketika Velocity Mengendalikan Media Sosial

Lusiana Desy Ariswati
I am a management lecturer at the Faculty of Economics Mulawarman University. In addition to teaching, I also have a passion for writing and conducting research.
29 Maret 2025 17:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Lusiana Desy Ariswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ramadan 2025 punya kejutan tersendiri di linimasa media sosial. Bukan soal menu berbuka atau drama musiman, melainkan tentang gerakan lambat yang justru viral secepat kilat. Namanya velocity. Kalau Anda pengguna TikTok aktif, besar kemungkinan sudah melihatnya. Tapi apakah Anda tahu apa yang sebenarnya Anda tonton?
sumber: diolah oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
sumber: diolah oleh penulis
Velocity bukan sekadar tren video. Ia adalah simbol bagaimana Generasi Z menyulap teknologi jadi panggung ekspresi kreatif atau mungkin pelarian dari tekanan sosial digital yang terus membayangi.
ADVERTISEMENT
Velocity: Di Balik Slow Motion yang Dramatis
Velocity, dalam dunia editing video, adalah teknik manipulasi kecepatan: memperlambat atau mempercepat bagian tertentu untuk menambah efek dramatis. Di TikTok, efek ini dipadukan dengan lagu remix cepat, menghasilkan kombinasi visual yang estetik dan memikat. Mulai dari gerakan tangan membentuk hati hingga tarian sinkron yang nyaris teatrikal, semuanya dikurasi untuk memikat mata dan yang paling penting masuk FYP (For You Page).
Tren ini melahirkan ungkapan baru: “Belum bukber kalau belum bikin velocity.” Sekilas lucu, namun juga menyiratkan tekanan sosial yang halus—bahwa eksistensi kini divalidasi melalui partisipasi dalam tren.
Diikuti Artis K-Pop, Diromantisasi Netizen
Daya sebar tren ini luar biasa. Bahkan sejumlah artis K-Pop ikut membuat video velocity. Respons netizen Indonesia? Bangga. Respons netizen Korea? Canggung tapi penasaran. Ini membuktikan satu hal: kecepatan viralitas (velocity dalam makna harfiah) sudah melampaui batas budaya.
ADVERTISEMENT
Kreativitas atau Kecanduan?
Tak bisa disangkal, velocity adalah medium kreatif. Banyak anak muda mempelajari teknik editing, bermain dengan transisi, dan bahkan mendapat exposure atau penghasilan tambahan. Tapi di sisi lain, tren ini juga memunculkan gejala FOMO (Fear of Missing Out) dan kecanduan sosial media.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan konten "sempurna" secara terus-menerus bisa menurunkan kepuasan diri dan meningkatkan kecemasan. Banyak remaja mulai merasa hidup mereka kurang estetik jika tak sejalan dengan visual yang mereka konsumsi. Ini bukan sekadar tren editing ini adalah pembentuk realitas semu.
Realitas Virtual vs Kesehatan Mental
Velocity menciptakan ilusi kebersamaan yang dikurasi. Di balik senyuman dan gerakan terkoordinasi, mungkin ada tekanan untuk terlihat bahagia, estetik, dan relevan. Ketika video harus diulang 10 kali agar sinkron dengan musik, apakah itu masih dokumentasi momen atau sudah menjadi performatif?
ADVERTISEMENT
Generasi Z dikenal adaptif terhadap teknologi, namun sayangnya tidak selalu dibekali literasi digital yang cukup untuk memilah antara konten sebagai hiburan dan konten sebagai tolak ukur hidup.
Jalan Tengah: Menikmati Tanpa Terjebak
Velocity, seperti tren digital lainnya, punya dua sisi. Ia bisa menjadi alat eksplorasi diri, tetapi juga jerat tekanan sosial. Kuncinya adalah kesadaran.
Alih-alih melarang, orang tua dan pendidik bisa menjadi fasilitator diskusi: “Apa yang kamu rasakan setelah membuat atau menonton video velocity?” Daripada menghakimi, lebih baik mengajak berpikir.
Velocity bukan musuh. Ia hanyalah refleksi dari dunia yang terus bergerak cepat, terkadang terlalu cepat.
Di tengah euforia gerakan lambat yang viral cepat ini, pertanyaan paling penting mungkin bukan “Bagaimana cara membuat video velocity?”, melainkan “Mengapa kita begitu ingin membuatnya?”
ADVERTISEMENT
Karena pada akhirnya, kecepatan penyebaran bukanlah ukuran kebenaran, dan keindahan visual bukan jaminan kebahagiaan. Velocity hanyalah medium. Yang menentukan maknanya, tetap kita.