Konten Media Partner

Pakar Sebut Hari Raya Idul Fitri Dorong Peningkatan Ekonomi di Daerah

4 April 2025 21:28 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Pakar Ekonomi, Joy Elly Tulung.
zoom-in-whitePerbesar
Pakar Ekonomi, Joy Elly Tulung.
ADVERTISEMENT
MANADO - Pakar Ekonomi Sulawesi Utara (Sulut), Joy Elly Tulung, menilai Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah ikut mendorong pertumbuhan ekonomi, meski hanya bersifat sementara.
ADVERTISEMENT
Menurut Joy, hal ini mungkin terjadi karena momentum lebaran kerap mendorong daya beli masyarakat, baik untuk kebutuhan pokok seperti makan-minum, hingga kebutuhan belanja pakaian dan perjalanan mudik.
“Ini memberi dampak positif terhadap sektor ritel dan industri terkait. Misalnya, penjualan pakaian baru, makanan, dan produk konsumsi lainnya akan meningkat, yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek,” tutur Joy.
Aktivitas belanja masyarakat jelang lebaran yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), dikatakan Joy menjadi aspek lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sulut, yang akan berdampak secara langsung pada sejumlah sektor lainnya.
Beberapa sektor seperti jasa transportasi, perhotelan dan restoran menjadi yang paling merasakan dampak dari perayaan Hari Raya Idul Fitri ini.
“Bagi sebagian daerah di Indonesia, Lebaran adalah waktu yang penting untuk sektor pariwisata. Hotel, restoran, dan tempat wisata bisa mengalami lonjakan pengunjung selama periode Idul Fitri,” ujarnya lagi.
ADVERTISEMENT
Secara keseluruhan Joy menyebut pemerintah dan sektor swasta perlu mengelola faktor-faktor ini dengan baik untuk memastikan kestabilan ekonomi selama periode tersebut.
Apalagi selain sektor-sektor tersebut, perayaan Hari Raya Idul Fitri juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan terhadap sektor lain seperti pertanian, dan industri.
“Permintaan terhadap produk pertanian dan pangan meningkat. Hal ini bisa mendorong pendapatan bagi petani dan produsen pangan. Namun, di sisi lain, jika terjadi kekurangan pasokan atau harga barang-barang pokok melambung, bisa menyebabkan tekanan inflasi sementara,” katanya.
“Sektor manufaktur dan industri bisa terpengaruh karena beberapa perusahaan cenderung mengurangi jam kerja atau bahkan berhenti beroperasi sementara pada periode liburan. Hal ini bisa menurunkan output produksi dalam jangka pendek," ujarnya lagi.