Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Puasa Fisik dan Digital: Refleksi Kesalehan di Bulan Ramadan
14 Maret 2025 13:05 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Muhammad Ali Murtadlo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Ramadan selalu datang sebagai bulan penuh berkah, di mana umat Islam menjalani ibadah puasa sebagai wujud ketakwaan kepada Allah. Dalam dimensi spiritual, Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum bagi individu untuk meningkatkan kesalehan pribadi serta memperkuat kesalehan sosial.
ADVERTISEMENT
Kesalehan individu berkaitan dengan peningkatan kualitas ibadah, seperti shalat, tilawah Al-Qur’an, dan zikir, sementara kesalehan sosial mencerminkan bagaimana nilai-nilai ibadah itu diterjemahkan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan menjaga harmoni sosial. Namun, di era digital saat ini, tantangan dalam menjaga dua bentuk kesalehan ini semakin kompleks.
Para ulama sejak dahulu telah mengajarkan bahwa Ramadan adalah bulan penyucian jiwa dan tubuh. Syekh Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha’if al-Ma‘arif menulis bahwa Ramadan adalah kesempatan bagi setiap muslim untuk kembali kepada fitrah, membersihkan hati dari kebencian, dan mendekatkan diri kepada Allah. Kisah-kisah para ulama juga menunjukkan bahwa Ramadan adalah bulan perubahan, di mana kesabaran dan kepedulian menjadi inti dari ibadah puasa.
ADVERTISEMENT
Salah satu kisah hikmah yang sering diceritakan adalah bagaimana Imam Abu Hanifah setiap malam Ramadan menyisihkan waktunya untuk membaca Al-Qur’an secara khatam, sementara di siang hari ia tetap berusaha membantu orang-orang miskin dengan hartanya. Hal ini menggambarkan keseimbangan antara kesalehan individu dan sosial yang menjadi esensi Ramadan.
Namun, realitas saat ini menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan. Ramadan di era digital menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga kesalehan individu dan sosial. Alih-alih menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi diri dan peningkatan ibadah, banyak orang justru sibuk dengan hiruk-pikuk media sosial.
Berbagai konten yang tidak selalu bernilai ibadah justru lebih menarik perhatian, dari perang komentar yang tidak perlu hingga pamer ibadah yang seolah menghilangkan esensi keikhlasan. Beberapa orang lebih sibuk membagikan menu sahur dan berbuka daripada merenungi makna puasa. Di sisi lain, ujaran kebencian, debat kusir, dan sikap saling menghakimi di media sosial masih marak terjadi, bahkan di bulan suci ini.
ADVERTISEMENT
Puasa Digital
Dalam hal ini, konsep puasa digital perlu menjadi refleksi penting bagi umat Islam. Jika puasa dalam makna fikih adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak fajar hingga maghrib, maka dalam konteks modern, puasa juga bisa dimaknai sebagai menahan diri dari konsumsi informasi yang tidak bermanfaat, menghindari ghibah digital, serta menahan jemari dari menuliskan komentar yang menyakiti orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dari puasanya sekadar meninggalkan makan dan minum” (HR. Bukhari). Hadis ini seharusnya menjadi pengingat bahwa esensi puasa bukan hanya fisik, tetapi juga pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk dalam dunia digital.
ADVERTISEMENT
Fenomena fast-food spirituality juga menjadi tantangan lain dalam Ramadan modern. Banyak orang ingin meraih keberkahan Ramadan dengan cara instan, seperti mengandalkan ceramah singkat di TikTok atau Instagram tanpa mendalami ajaran Islam secara lebih dalam. Meskipun platform digital dapat menjadi sarana dakwah yang efektif, tetapi jika tidak diimbangi dengan refleksi dan kajian mendalam, maka pemahaman agama menjadi dangkal. Ulama terdahulu tidak hanya mencari ilmu dari satu sumber, tetapi juga berdiskusi, bertanya, dan mengamalkan ilmu mereka dalam kehidupan sehari-hari. Ramadan seharusnya menjadi bulan pembelajaran yang lebih serius, bukan sekadar konsumsi konten yang bersifat instan dan viral.
Dalam aspek kesalehan sosial, Ramadan juga menjadi ujian bagi umat Islam dalam berbagi rezeki dan menjaga empati. Fenomena berbagi makanan melalui food sharing atau paket sedekah di jalanan adalah tradisi baik yang perlu dipertahankan. Namun, esensi dari berbagi bukan sekadar formalitas, melainkan bagaimana seseorang dapat benar-benar merasakan penderitaan orang lain. Kisah Umar bin Khattab yang menyamar di malam hari untuk mencari rakyatnya yang kelaparan menunjukkan bahwa kepedulian sosial dalam Islam bukan tentang pencitraan, tetapi tentang merasakan penderitaan sesama dan bertindak untuk mengatasinya. Jika Ramadan hanya menjadi ajang pamer kebaikan di media sosial, tanpa benar-benar menumbuhkan empati, maka makna kesalehan sosial menjadi dangkal.
ADVERTISEMENT
Tantangan lain yang muncul adalah konsumerisme selama Ramadan. Ironisnya, bulan yang seharusnya menjadi momen kesederhanaan justru berubah menjadi ajang pemborosan. Iklan makanan berlimpah, pusat perbelanjaan penuh dengan diskon, dan budaya buka puasa bersama sering kali lebih menonjolkan kemewahan dibandingkan nilai kebersamaan. Padahal, salah satu tujuan utama puasa adalah menumbuhkan rasa syukur dan kepedulian terhadap mereka yang kurang beruntung. Para ulama seperti Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa puasa sejati adalah menahan diri dari syahwat duniawi, termasuk keinginan berlebihan terhadap makanan dan kemewahan.
Ramadan sebagai Refleksi
Sebagai refleksi, Ramadan seharusnya menjadi momen untuk kembali kepada makna ibadah yang hakiki. Kesalehan individu dan sosial harus berjalan beriringan. Di era digital ini, setiap muslim perlu lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi agar Ramadan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan berarti. Menahan diri dari makanan dan minuman memang bagian dari puasa, tetapi lebih dari itu, menahan diri dari perkataan yang menyakitkan, informasi yang tidak bermanfaat, dan perilaku konsumtif juga bagian dari ibadah di bulan suci ini.
ADVERTISEMENT
Ramadan adalah bulan yang penuh dengan peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika dulu para ulama menghabiskan malam-malamnya dengan tadabbur Al-Qur’an, kini kita bisa memanfaatkan teknologi untuk memperkaya wawasan keislaman dengan cara yang lebih bijak. Jika dulu para sahabat Rasulullah saling berlomba dalam kebaikan tanpa ekspektasi pengakuan, kini kita pun harus mampu menahan diri dari budaya pamer amal di media sosial. Ramadan bukan hanya tentang menjalankan kewajiban, tetapi juga tentang bagaimana kita menata hati, mengendalikan diri, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jika Ramadan mampu mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik, maka ia telah berhasil menjalankan misinya sebagai bulan pendidikan spiritual. Namun jika setelah Ramadan kita tetap terjebak dalam kebiasaan buruk, maka kita patut bertanya, apakah kita benar-benar telah berpuasa dengan hati dan jiwa?
ADVERTISEMENT