Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Aksi Kamisan ke-852 "Indonesia Gelap", Demi Wujudkan Keadilan untuk Rakyat
21 Februari 2025 14:19 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Muhammad Zidan Ramdani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Kamis, 20 Februari 2025, Aksi Kamisan kembali digelar seperti biasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, dan berbagai kota lainnya di Indonesia. Namun, ada yang berbeda dalam aksi ke-852 ini. Dengan mengusung tema "Indonesia Gelap", para peserta aksi ingin menyoroti kegelapan yang masih menyelimuti keadilan di negeri ini, terutama dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lalu.
ADVERTISEMENT
Tak terasa, Aksi Kamisan telah memasuki tahun ke-18 sejak pertama kali digelar pada 18 Januari 2007. Selama hampir dua dekade, aksi ini tetap konsisten menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan, menjadi harapan bagi keluarga korban yang masih mencari keadilan, serta menjadi pengingat bagi pemerintah bahwa sejarah kelam bangsa ini tidak boleh dilupakan.
Perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM berat di Indonesia masih menemui jalan terjal. Hingga saat ini, berbagai tragedi kelam seperti penculikan aktivis 1997-1998, Tragedi Semanggi, Tragedi Mei 1998, Pembantaian Talangsari, dan berbagai kasus lainnya belum juga menemukan titik terang. Keadilan seolah dibiarkan mengendap dalam ketidakpastian, sementara para pelaku masih bebas berkeliaran, bahkan beberapa di antaranya justru menduduki kursi-kursi penting di pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Pada akhir tahun 2024 lalu, keluarga korban sempat diundang oleh petinggi Partai Gerindra untuk membahas langkah-langkah penyelesaian kasus HAM. Namun, alih-alih mendapat kepastian hukum, mereka justru mengklaim telah ditawari kompensasi sebesar Rp1 miliar sebagai bentuk penyelesaian kasus di luar jalur hukum. Tawaran tersebut dianggap sebagai upaya sistematis untuk menutup pertanggungjawaban negara dan melupakan kejahatan yang telah terjadi.
Seorang pegiat Aksi Kamisan yang hadir hari ini dengan tegas menyatakan bahwa keluarga korban menolak segala bentuk kompensasi materi. Bagi mereka, nyawa manusia tidak dapat diukur dengan uang. Yang mereka inginkan hanyalah keadilan sejati—pengadilan yang transparan, terbuka, dan menghukum para pelaku seadil-adilnya.
Duka yang Tak Pernah Padam
Setiap Kamis, aksi ini selalu menghadirkan rasa pilu yang mendalam. Bagi mereka yang hadir, Aksi Kamisan bukan hanya sekadar demonstrasi, melainkan juga ruang untuk berbagi luka dan memperjuangkan kebenaran. Suara tangis dan cerita dari keluarga korban kekejaman negara terdengar di antara gelapnya langit senja, mengingatkan kita bahwa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan negara tidak boleh dibiarkan begitu saja.
ADVERTISEMENT
Tak hanya soal pelanggaran HAM masa lalu, Aksi Kamisan juga menjadi tempat bagi kelompok-kelompok lain yang tengah berjuang mempertahankan hak mereka. Pada aksi kali ini, hadir pula Aliansi Bara-Baraya Bersatu, sebuah gerakan masyarakat dari Kelurahan Bara-Baraya, Makassar, yang menolak penggusuran tempat tinggal mereka. Perjuangan mereka menjadi bukti bahwa negara masih sering bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, tanpa memberikan solusi yang manusiawi.
Kegelapan yang Harus Diterangi
Tema "Indonesia Gelap" yang diusung dalam aksi kali ini mencerminkan situasi yang masih jauh dari kata adil. Indonesia disebut gelap karena kejahatan negara terhadap rakyatnya masih terus terjadi. Indonesia disebut gelap karena hukum lebih berpihak pada mereka yang berkuasa, bukan kepada korban yang mencari keadilan. Indonesia disebut gelap karena impunitas terus dipertahankan, membuat para pelaku pelanggaran HAM bebas melenggang tanpa rasa bersalah.
ADVERTISEMENT
Namun, meskipun gelap, harapan itu masih ada. Setiap Kamis, langkah-langkah kecil menuju keadilan terus ditempuh oleh mereka yang tidak ingin sejarah kelam ini terhapus. Setiap Kamis, mereka yang tertindas kembali bersuara agar negara tidak terus-menerus menutup mata.
Aksi Kamisan adalah bukti bahwa ingatan tidak bisa dipadamkan. Bahwa meskipun negara mencoba menghapus jejak kejahatan mereka, suara para korban tidak akan pernah hilang. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga api perjuangan ini tetap menyala. Sebab, keadilan bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan.
"Mereka yang pergi mungkin tak akan kembali, tapi suara mereka akan terus hidup dalam setiap Kamis yang penuh perlawanan."