Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Deep Learning, Deep Fasting, dan Ramadhan
30 Maret 2025 5:38 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Muhammad Muchlas Rowi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Ramadhan pernah begitu gagah. Ia bukan sekadar bulan puasa, tapi tonggak sejarah yang mengubah arah dunia. Di bulan inilah wahyu pertama turun kepada seorang Nabi yang buta huruf tapi tajam hatinya (610 M). Ramadhan juga menjadi saksi terjadinya peristiwa-peristiwa besar seperti Fathul Makkah (630), Kongres Pertama Boedi Oetomo (1908), hingga Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945).
ADVERTISEMENT
Namun tahun ini, Ramadhan terasa hampa. Belum genap satu minggu, musibah banjir melanda beberapa daerah di Jabodetabek. Katanya, ini gegara alih fungsi hutan. Di layar televisi, wajah-wajah tertuduh koruptor lebih sering tampil daripada wajah-wajah yang sedang khusyuk membaca al-Qur’an. Bahkan jelang waktu berbuka, linimasa kita lebih sering dipenuhi drama persidangan dan sandiwara politik dibanding gema doa.

Tampaknya, kita sedang menjalani puasa yang dangkal. Sebuah ibadah yang harusnya menyucikan, kini hanya menjadi ritus tahunan. Sahur, rebahan, buka puasa, lalu tidur lagi. Ramadhan menjadi festival tahunan yang dirayakan dengan euforia tetapi ditinggalkan tanpa makna.
Padahal, puasa tidak dimaksudkan untuk sekadar menahan lapar dan haus. Dalam logika pendidikan, ini adalah momen transformasi jiwa. Sayangnya, kita lebih banyak membincang soal menu berbuka daripada memperbaiki cara berpikir dan bertindak. Bahkan sebagian tokoh yang sedang menjalani proses hukum karena korupsi, tercatat rajin berpuasa. Pelaksanaan puasa luput dari partisipasi jiwa.
ADVERTISEMENT
Deep Learning
Inilah yang disebut Benjamin Bloom dalam taksonomi belajarnya: banyak orang berhenti di level knowledge, tanpa menyentuh attitude, apalagi sampai ke internalization. Kita tahu definisi puasa, tapi tak menjadikannya cermin untuk mengenali diri. Kita menghafal ayat, tapi tak menangkap pesan.
Dalam konteks pendidikan, Mendikdasmen Abdul Mu’ti baru-baru ini menggaungkan pentingnya deep learning, atau pembelajaran mendalam. Sebuah pendekatan yang tak hanya menekankan penguasaan materi, tapi pembentukan karakter, nalar kritis, dan keterlibatan batin. Ini adalah proses belajar yang tidak sekedar know how, tapi juga know why, bahkan know to be.
Menurut Abdul Mu’ti, deep learning bermaksud memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi murid. Prosesnya harus melewati tiga elemen, yaitu menyadari keadaan murid yang berbeda-beda (mindfull learning), mendorong murid berpikir dan terlibat dalam proses belajar (meaningfull learning), dan mengedepankan kepuasaan dan pemahaman mendalam (joyfull learning).
ADVERTISEMENT
Melalui tiga elemen tersebut, para murid diajak meneliti fakta dan ide baru secara kritis, lalu mengaitkannya ke struktur kognitif dan membuat banyak kaitan antara ide yang ada [exploration]. Mereka didorong untuk mempelajari ilmu dan mengambil hal yang dipelajari untuk diterapkan ke situasi lain sebagai pembelajaran seumur hidup.
Duo professor dari The Institute for Habits of Mind, Bena Kallick dan Art Costa (2020) memperkuat proses perolehan pengatahuan baru dalam deep learning dengan teori Habits of Mind yang berfokus pada pola pikir dan perilaku yang membantu individu dalam menghadapi tantangan, memecahkan masalah, dan bertindak secara efektif. Habits of Mind adalah kebiasaan intelektual yang mendorong pemikiran kritis, kreatif, dan reflektif dalam konteks pembelajaran atau kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Ahli kedokteran sekaligus filusuf muslim, Ibnu Sina dalam Kitab al-Najat dan al-Shifa sebetulnya juga telah menyinggung model pendekatan deep learning ini. Bapak kedokteran dunia kelahiran Afshana, sebuah desa dekat Bhukara pada 980 Masehi ini menggambarkan, proses belajar melalui beberapa tingkat (akal bertingkat). Mulai dari akal material atau persepsi inderawi [al-‘aql al-hayūlānī], akal imajinasi [al-‘aql bi’l-malakah], dan akal aktif [al-‘aql bi’l-fi‘l].
Menurut Ibnu Sina, ma’rifah itu bukan sekadar tahu, tapi pemahaman mendalam yang lahir dari kontemplasi dan pengalaman. Karena itu, menurut dia, tujuan akhir belajar itu bukan nilai atau kebekerjaan, tapi menyatu dengan kebaikan dan kebenaran ilahiyah.
Deep Fasting
Apa yang dicanangkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti sejatinya selaras dengan esensi puasa. Jika pendidikan membutuhkan deep learning, maka Ramadhan membutuhkan deep fasting. Sebuah puasa yang menukik ke dalam; menahan amarah, menyaring niat, membatasi syahwat, dan menyucikan laku. Sebagaimana deep learning yang tidak terjadi di permukaan, deep fasting juga tak berhenti di kerongkongan.
ADVERTISEMENT
Michael Fullan, pakar pendidikan transformasional, menyebut bahwa perubahan sejati terjadi bukan ketika kita mengganti sistem, tetapi ketika kita menyentuh lapisan terdalam dari manusia: nilai, niat, dan realasi. Tanpa sentuhan tersebut, puasa hanya menjadi rutinitas. Ramadhan hanya menjadi parade formalitas.
Perlu keberanian untuk mengakui bahwa puasa kita mungkin telah menjadi gersang. Kita melihat masjid ramai, tapi empati sosial sepi. Kita menyaksikan maraknya acara berbagi takjil, tapi juga korupsi bantuan sosial. Di satu sisi, Ramadhan diglorifikasi sebagai bulan peduli, di sisi lain praktik bisnis menindas pekerja dengan dalih target dan profit.
Dalam keheningan sahur dan senyapnya waktu menjelang subuh, mestinya kita bertanya: sudahkah kita berpuasa dengan benar? Atau hanya sedang menunda lapar, tapi membiarkan keserakahan tetap tumbuh? Sudahkah puasa ini membuat kita lebih jujur, atau justru lebih pandai menyembunyikan kezaliman di balik citra religius?
ADVERTISEMENT
Deep fasting mengajarkan bahwa puasa bukan hanya urusan perut, tapi juga urusan nurani. Bahwa kelaparan yang sesungguhnya adalah ketika hati kita tak lagi peka terhadap derita orang lain. Bahwa haus yang paling menyakitkan adalah ketika jiwa kehilangan arah, dan hanya mengejar pujian, jabatan, atau keuntungan.
Ramadhan sejatinya bukan untuk menahan diri dari makanan, tetapi menahan diri dari menjadi manusia biasa. Ia adalah ajakan menjadi manusia yang lebih tinggi nilainya. Ia adalah jalan sunyi untuk menyelami makna hidup, menertibkan ego, dan menata ulang cita-cita.
Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya berpuasa, tapi juga belajar berpuasa. Tidak cukup hanya fasting, kita perlu deep fasting. Seperti halnya pendidikan tak cukup dengan mengisi kepala, tapi harus menyentuh hati dan menggerakkan tangan, begitu juga puasa: ia harus masuk ke jiwa, keluar dalam perilaku, dan menetap dalam laku harian.
ADVERTISEMENT
Di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, mari kita jalani lebih dalam. Dari ruang terdalam dalam diri, untuk menyentuh ruang-ruang yang selama ini kita biarkan kosong. Bukan untuk jadi sempurna, tapi untuk jadi lebih manusiawi. Di tengah situasi yang tak bisa diprediksi dan lebih banyak yang bertentangan dengan hati, kita butuh lebih dari sekadar puasa, kita butuh deep fasting.
**
Muhammad Muchlas Rowi
Stafsus mendikdasmen
Komisaris Independen PT Jamkrindo