Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Hidup sebagai Anak Scapegoat: Luka Emosional yang Tak Terlihat
1 April 2025 9:56 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Nahdah Maritza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Dalam dinamika keluarga yang disfungsional, sering kali ada peran-peran tertentu yang tidak secara sadar diberikan kepada anak-anak. Salah satu peran yang paling menyakitkan adalah menjadi scapegoat—anak yang dijadikan kambing hitam oleh orang tua, khususnya dalam keluarga dengan ibu yang memiliki sifat narsistik.
ADVERTISEMENT
Bagi seorang anak scapegoat, ketidakadilan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak dini. Mereka sering kali disalahkan atas hal-hal yang bukan kesalahan mereka, dibandingkan dengan saudara mereka yang mungkin mendapatkan perlakuan istimewa sebagai golden child. Dari luar, mungkin terlihat seperti anak ini bermasalah, pemberontak, atau sulit diatur, tetapi kenyataannya, mereka hanya seseorang yang terus-menerus dijadikan sasaran pelampiasan emosi dan ekspektasi yang tidak realistis.
Saat tumbuh, anak scapegoat mulai menyadari bahwa mereka selalu diperlakukan berbeda. Apa pun yang mereka lakukan, sebaik apa pun mereka berusaha, mereka tetaplah yang salah di mata keluarga. Ada luka emosional yang terbangun dari perasaan tidak diakui dan tidak dihargai. Saat mereka mencoba membela diri atau menunjukkan bahwa perlakuan yang mereka terima tidak adil, respons yang mereka dapatkan sering kali adalah tuduhan bahwa mereka terlalu sensitif atau defensif. Ini menjadi lingkaran yang sulit diputus—semakin mereka berusaha membuktikan nilai mereka, semakin mereka disalahkan dan dijatuhkan.
ADVERTISEMENT
Ketika anak scapegoat memasuki masa dewasa, mereka mulai memahami bahwa bukan mereka yang bermasalah, melainkan dinamika keluarga mereka yang disfungsional. Namun, kesadaran ini datang dengan harga mahal: luka emosional yangscapegoattidak mudah sembuh. Harga diri mereka sudah lama terkikis, dan kepercayaan diri mereka hancur akibat tahun-tahun perlakuan tidak adil.
Namun, tidak seperti yang sering dicoba ditanamkan oleh ibu mereka, anak scapegoat bukanlah seseorang yang gagal atau tidak berharga. Mereka justru memiliki intuisi yang tajam, empati yang besar, dan ketahanan emosional yang luar biasa. Dunia luar, yang tidak terpengaruh oleh manipulasi keluarga, sering kali melihat mereka sebagai individu yang bijaksana, penuh perhatian, dan kuat. Tanpa disadari, pengalaman hidup mereka telah mengajarkan mereka untuk membaca situasi dan mengenali ketidakadilan dengan lebih cepat dibanding orang lain.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, ada satu kenyataan yang sulit diterima: ibu mereka tidak akan pernah mengakui kesalahannya atau memberikan validasi yang selama ini mereka harapkan. Untuk bisa benar-benar sembuh, anak scapegoat harus melepaskan harapan bahwa suatu hari mereka akan mendapatkan pengakuan atau kasih sayang yang mereka dambakan. Mereka harus menemukan nilai diri mereka bukan dari keluarga, tetapi dari diri sendiri dan orang-orang yang benar-benar menerima mereka apa adanya.
Melepaskan luka ini bukanlah proses yang mudah. Namun, begitu anak scapegoat memahami bahwa ketidakmampuan ibu mereka untuk mencintai bukanlah refleksi dari siapa mereka, melainkan dari keterbatasan ibu itu sendiri, maka kebebasan sejati bisa ditemukan. Pada akhirnya, mereka memiliki pilihan: tetap terjebak dalam peran yang diberikan kepada mereka, atau mengambil kendali atas hidup mereka dan menentukan sendiri siapa mereka sebenarnya.
ADVERTISEMENT