Konten dari Pengguna

Gugur Bunga dan Lunturnya Jiwa Kebangsaan

Ramazani Akbar
Mahasiswa Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh
29 Maret 2025 17:35 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ramazani Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siluet seseorang yang mengenakan peci dan memegang bendera Indonesia (Sumber: Pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
Siluet seseorang yang mengenakan peci dan memegang bendera Indonesia (Sumber: Pexels.com)
ADVERTISEMENT
Mengingat Perjuangan Para Pahlawan
Pada suatu masa, ketika tanah ini masih merah oleh darah, ada jiwa-jiwa yang rela mengorbankan dirinya demi negeri yang belum bernama. Mereka tidak bertanya, “Apa untungnya bagiku?” Mereka hanya tahu bahwa Indonesia harus lahir, meskipun dengan nyawa sebagai taruhannya. Kini, delapan dekade telah berlalu sejak proklamasi itu dikumandangkan, dan kita bertanya, masih adakah jiwa-jiwa seperti mereka? Di tengah gemuruh demokrasi yang kerap berubah menjadi ajang pertikaian, di antara riuh rendah media sosial yang mempertontonkan kebencian, kita seperti kehilangan roh kebangsaan yang dulu menyatukan Nusantara.
ADVERTISEMENT
Sejarah mencatat bahwa Republik ini tidak lahir dengan mudah. Ribuan nyawa melayang di medan pertempuran, dari perlawanan Diponegoro di tanah Jawa, Perang Aceh yang mengorbankan Cut Nyak Dhien, hingga revolusi fisik yang mengantarkan kita pada kemerdekaan. Mereka berjuang melawan penjajah dengan satu keyakinan: Indonesia harus merdeka, bukan untuk segelintir orang, tetapi untuk semua. Bung Tomo, dengan pekikan “Allahu Akbar!”-nya di Surabaya, tidak membeda-bedakan agama atau suku, ia membakar semangat seluruh rakyat. Namun, di era modern, ancaman terhadap bangsa ini bukan lagi meriam atau senapan musuh, melainkan perpecahan dari dalam. Data dari Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2023 menunjukkan polarisasi politik semakin tajam, sementara Laporan Setara Institute (2023) mengungkap intoleransi sosial dan konflik berbasis identitas meningkat lebih dari 30% dalam satu dekade terakhir. Bahkan, Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) 2024 menyebut 62% pemuda merasa lebih nyaman berkomunikasi dengan kelompok seideologi daripada yang berbeda. Jika dahulu para pahlawan bertaruh nyawa untuk menyatukan negeri, kini justru kita sendiri yang merobek-robek tenun kebangsaan dengan tangan kosong.
ADVERTISEMENT
Nasionalisme di Era Digital
Kita adalah satu bangsa yang dipersatukan oleh sejarah, budaya, dan takdir yang sama. Sumpah Pemuda 1928 adalah bukti nyata bahwa perbedaan suku, agama, dan bahasa bukan penghalang, melainkan benang emas yang merajut identitas kebangsaan. Saat itu, Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, dan puluhan organisasi pemuda lainnya melebur dalam satu ikrar: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Pancasila, yang lahir dari pergulatan para pendiri bangsa, juga bukan produk kompromi semata. Ia adalah kristalisasi nilai luhur Nusantara: gotong royong, musyawarah, keadilan, dan penghormatan pada martabat manusia. Sayangnya, kita kerap melupakan bahwa sila kedua, Kemanusian yang Adil dan Beradab, bukan hanya mengakui keberagaman agama, tetapi juga menuntut kita untuk menjunjung tinggi adab dan kesopanan dalam berinteraksi. Bagaimana mungkin kita mengaku religius jika masih gemar menghujat sesama? Bagaimana mungkin kita berbangga sebagai bangsa Timur yang beradab jika ujaran kebencian lebih laku daripada tutur santun?
ADVERTISEMENT
Di media sosial, nasionalisme sering kali hanya menjadi lip service. Ribuan akun mengunggah bendera merah putih di bio, tetapi di kolom komentar, mereka menyebarkan kebencian terhadap kelompok lain. Laporan We Are Social (2024) menunjukkan bahwa 78% konflik daring di Indonesia berakar dari politik dan perbedaan pandangan ideologi. Ironisnya, mereka yang mengaku “NKRI harga mati” justru menjadi aktor utama dalam memecah belah. Kapitalisme global juga menggerus jiwa kebangsaan. Produk-produk asing lebih dibanggakan daripada batik atau tenun lokal. Budaya K-pop dan Hollywood dianggap lebih bergengsi daripada wayang atau tari Saman. Bung Hatta pernah berpesan: “Kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Ia adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar: mempertahankan kesatuan dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
ADVERTISEMENT
Menghidupkan Kembali Jiwa Kebangsaan
Nasionalisme sejati tidak hanya tentang upacara bendera atau jargon “cinta tanah air”. Ia harus dimanifestasikan dalam kesantunan, penghormatan pada perbedaan, dan komitmen untuk menjaga keutuhan bangsa. Nilai-nilai ini tertanam dalam kearifan lokal kita: Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah di Minangkabau mengajarkan harmoni antara adat dan agama; Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh di Sunda menekankan pentingnya saling mengasah, mengasihi, dan mengasuh; Pemulia Jamee, Pemulia Haba di Aceh mengajarkan pentingnya menghormati tamu dan menjaga keharmonisan sosial; sementara Tepo Seliro di Jawa mengingatkan kita untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain sebelum bertindak. Namun, ruang publik kita kini lebih diwarnai arogansi daripada tepo seliro. Media massa kerap memanas-manasi, politisi saling serang, sementara warganet menjadikan medsos sebagai medan perang. Bagaimana mungkin mencela identitas orang lain dianggap sebagai keberanian? Di mana adab kita ketika merendahkan kelompok tertentu justru dijadikan bahan candaan?
ADVERTISEMENT
Kita tidak perlu mengangkat bambu runcing untuk disebut patriot. Cukup dengan menjadi penjaga persatuan: menolak hoaks, menengahkan konflik, dan menghargai perbedaan. Cukup dengan menghidupkan kearifan lokal: membeli produk dalam negeri, melestarikan bahasa daerah, dan mengajarkan adat pada generasi muda. Cukup dengan memperjuangkan keadilan: menolak korupsi, membela kaum marginal, dan memastikan pembangunan merata. Ingatlah pesan Bung Karno “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Jika para pahlawan dulu bersatu melawan penjajah, tugas kita kini adalah bersatu melawan keserakahan, kebencian, dan kealpaan terhadap jati diri.
Jangan biarkan keadaban kita hilang. Jangan biarkan persaudaraan kita rapuh. Jangan biarkan kesopanan dan budi pekerti yang diajarkan nenek moyang kita sirna oleh amarah dan kebencian. Indonesia tidak butuh pahlawan yang mati di medan perang, tetapi pahlawan yang hidup untuk merajut kembali tenun kebangsaan yang terkoyak. Sekali lagi seperti pesan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kata-kata ini harus menjadi cambuk. Jika merah putih masih berkibar, maka kita harus memastikan ia berkibar bukan hanya di tiang, tetapi dalam hati kita semua. Ketika jiwa kebangsaan benar-benar gugur, tidak ada lagi Indonesia yang patut diperjuangkan.
ADVERTISEMENT
Maka, marilah kita bangkit dari keterpurukan. Satukan langkah, tebarkan kasih, dan rawatlah negeri ini dengan jiwa patriot yang beradab. Sebab, hanya dengan persatuan dan kesantunan, Indonesia akan tetap abadi: Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar motto, tetapi napas kehidupan.
Opini Ramazani Akbar - Mahasiswa Sarjana Hukum Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh