Konten dari Pengguna

Penggunaan Rubel dalam Perdagangan Energi Rusia dengan Negara-negara Eropa

Rayhan Devangga
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret
21 November 2023 7:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rayhan Devangga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat menghadiri pertemuan Dewan Ekonomi Eurasia Tingkat Tinggi di Yerevan, Armenia. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/yerevan-armenia-1-october-2019-russian-1629634864
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Rusia, Vladimir Putin saat menghadiri pertemuan Dewan Ekonomi Eurasia Tingkat Tinggi di Yerevan, Armenia. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/yerevan-armenia-1-october-2019-russian-1629634864
ADVERTISEMENT
Semenjak beberapa tahun terakhir, Rusia kerap menjadi sorotan dalam dunia geopolitik dan ekonomi. Pasalnya, berbagai permasalahan seolah tak kunjung habis menimpa negara beruang merah ini. Rusia sejatinya sedang berada dalam situasi yang menguji daya tahan negaranya dalam menghadapi tekanan eksternal, dan hal ini terkait dengan salah satu aset yang menjadi sorotan utama dalam politik luar negeri dan pengaruh Rusia, yaitu rubel, mata uang nasional Rusia.
ADVERTISEMENT
Kaitannya dengan energi, Rusia adalah salah satu aktor krusial dalam ekspor dan produksi energi, terutama gas alam. Menurut data dari Statista, volume produksi gas alam Rusia tercatat menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, yaitu lebih dari seperempat kebutuhan gas dunia, sekitar 26,2% atau setara dengan 197,7 miliar meter kubik. Dengan privilege yang dimilikinya, banyak negara bergantung pada ekspor gas alam Rusia, terutama negara-negara Eropa seperti Jerman dan Ukraina, yang disalurkan melalui pipa gas milik Gazprom, perusahaan raksasa energi milik Rusia.
Pipa gas Nord Stream di Leningrad. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/leningrad-region-russia-1110-construction-works-1047327997
Gazprom sendiri merupakan salah satu perusahaan penyedia gas alam terbesar di dunia dan memiliki peran yang sangat besar sebagai pemberi suplai gas alam di Eropa. Gazprom menguasai sekitar 17% cadangan energi gas alam global dan menguasai sektor produksinya sebanyak 12%. Posisi seperti ini menguntungkan Rusia untuk memiliki influence yang strategis dalam menyediakan sumber daya energi serta menguatkan posisi tawarnya dalam kancah politik luar negerinya.
ADVERTISEMENT
Terhitung semenjak pertengahan 2014, gejolak geopolitik di Rusia seakan tiada habisnya, dimulai dari aneksasi semenanjung Krimea hingga perang di Ukraina Timur, yang sampai saat ini masih berlangsung. Serangan ini berfokus untuk menduduki wilayah timur Ukraina, terutama area basis kelompok pro Rusia, Donetsk People's Republic (DPR), dan Luhansk People's Republic (LPR). Peperangan ini memicu atensi dan respons dunia, terutama dari negara-negara Barat yang cenderung mendukung Ukraina untuk bergabung dengan NATO.
Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/economic-crisis-russia-concept-toy-military-2134740527
Dilansir dari Reuters, pihak Barat merespons dengan embargo yang berfokus pada ekonomi Rusia, seperti pembekuan aset bank senilai $593,1 miliar, larangan investasi senilai $45 miliar yang berakibat pada penahanan obligasi domestik, dan penyitaan aset pribadi milik top executives dari beberapa perusahaan Rusia yang bernilai $30 miliar ke Uni Eropa. Sanksi embargo ekonomi ini mengakibatkan nilai tukar rubel anjlok menjadi 155 rubel per dolar, sementara sebelum konflik di Ukraina Timur pecah, nilai tukarnya masih berada dalam kisaran 70 hingga 80 rubel per dolar. Hal ini menjadi tantangan berat bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin, dalam menjaga kestabilan ekonomi di negaranya.
ADVERTISEMENT
Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah: langkah apa yang diambil Rusia dalam memecahkan masalah ini? Vladimir Putin mengambil langkah strategis yang memanfaatkan privilege Rusia, serta ketergantungan negara lain atas gas alam Rusia. Langkah ini berupa penetapan mata uang rubel sebagai alat pembayaran dari ekspor gas alam. Penetapan tersebut diberlakukan kepada negara yang dianggap kurang 'bersahabat' bagi Rusia, seperti Inggris, Ukraina, dan beberapa negara Uni Eropa.
Ketergantungan tinggi Uni Eropa pada gas alam Rusia membuatnya tetap bertransaksi dengan rubel. Meskipun terdapat gesekan politik, kebutuhan mendesak akan gas alam membuat Uni Eropa harus memenuhi persyaratan pembayaran yang ditetapkan oleh Rusia. Hal ini menegaskan bahwa, terlepas dari ketegangan politik, gas alam Rusia tetap menjadi kebutuhan pokok bagi Uni Eropa, dan mereka rela menggunakan rubel untuk memperolehnya.
ADVERTISEMENT
Kasus ini sejalan dengan teori dependensi dari structuralism ekonomi. Menurut teori dependensi, terdapat relasi ketergantungan antara negara satu dengan negara yang lain dalam sistem ekonomi global. Uni Eropa, sebagai pihak yang lebih maju secara ekonomi menjadi tergantung pada sumber daya energi, khususnya gas alam, yang dikendalikan oleh Rusia.
Ketergantungan ini memberikan Rusia posisi tawar yang lebih kuat dalam hubungan ekonomi internasional. Meskipun terdapat ketegangan politik, kebutuhan mendesak akan energi membuat Uni Eropa harus beradaptasi dengan aturan pembayaran yang ditetapkan oleh Rusia, mencerminkan dinamika dependensi struktural dalam konteks ekonomi global yang terus berubah.
Peta Dunia. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-photo/concept-geopolitics-worldwide-economy-chess-figures-1950356014
Akibat penetapan rubel sebagai alat pembayaran gas alam dari Rusia, mata uang ini menjadi lebih strategis dalam pemulihan ekonomi Rusia. Penggunaan rubel dalam ekspor energi bukan hanya sekadar langkah ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen diplomasi energi yang kuat. Langkah ini memberikan Rusia keunggulan untuk meningkatkan posisi tawar dalam perdagangan energi global.
ADVERTISEMENT
Dengan keuntungan diplomasi energi yang dimiliki Rusia, negara ini dapat mengurangi dampak sanksi ekonomi dan meningkatkan daya saingnya dalam pasar energi. Mata uang rubel menjadi semacam 'alat pembela' terhadap tekanan ekonomi dari negara-negara Barat.
Keputusan untuk menggunakan rubel dalam pembayaran gas alam juga menciptakan mekanisme yang memperkuat mata uang tersebut di pasar internasional. Terhitung sejak diberlakukannya penetapan rubel sebagai mata uang dalam ekspor energi Rusia, nilai rubel menguat sebesar 2,5% terhadap dolar, menjadi 58,74 rubel per satu dolar AS.
Namun, walaupun demikian, kebijakan ini tak selamanya berjalan sesuai rencana. Relevansinya dengan masa kini, khususnya di tengah gejolak geopolitik yang tiada habisnya, nilai tukar rubel terhadap dolar kembali melemah untuk kesekian kalinya. Tercatat pada Q3 2023, nilai rubel mengalami penurunan signifikan menjadi 101,16 rubel untuk satu dolar AS.
ADVERTISEMENT
Perubahan ini dimulai karena gejolak geopolitik internal antara Rusia dengan perusahaan militer swasta Wagner. Selain itu, pendapatan dari sektor energi minyak dan gas yang melemah juga ikut berkontribusi dalam penurunan ini. Pada tahun 2022, pendapatan dari sektor minyak dan gas bernilai USD 16,8 miliar dibandingkan dengan tahun ini yang hanya memperoleh USD 6,9 miliar.
Nilai mata uang rubel yang melemah terhadap dolar. Sumber: https://www.shutterstock.com/image-illustration/falling-russian-rubel-against-us-dollar-2202782187
Dengan sanksi yang diberlakukan oleh negara-negara Barat sebagai respons terhadap aksi-aksi Rusia di Ukraina dan faktor-faktor lainnya, rubel telah menjadi senjata ekonomi Rusia. Mata uang ini telah digunakan sebagai alat dalam upaya memitigasi efek sanksi dan mempertahankan stabilitas dalam pasokan energi ke Eropa.
Rusia juga telah menggunakan proyek pipa gas seperti Nord Stream 2 untuk mencapai tujuan strategisnya dalam diplomasi energi. Selain itu, peran perusahaan energi milik negara, seperti Gazprom, dalam menjalankan kebijakan luar negeri energi Rusia menjadi kunci dalam mendekati pasar energi global.
ADVERTISEMENT
Keputusan kontroversial ini dianggap sebagai langkah yang tepat untuk meningkatkan posisi tawar Rusia dalam ekspor energi dan merupakan resiprositas atau balasan terhadap embargo Barat.